Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 105 Figuran Dadakan



Bosan dengan troli, Ren meminta diturunkan. Ia mencari mangsa baru, asisten sutradara. Ren duduk di pangkuan asisten sutradara.


"Maaf. Ren, asisten sutradaranya sibuk. Ren duduk di sini." Hana menunjuk kursi mini untuk Ren. Ren menolak.


"Atau mau mama pangku?" Hana mencoba menegosiasi. Tapi Ren tetap ngotot.


"Nanti mama nggak ajak Ren lagi ke lokasi syuting." Senjata terakhir Hana ia keluarkan.


Barulah Ren menurut. Diam dan bermain di rumah itu membosankan. Hanya ada orang dewasa jika Rin sedang berada di sekolah dan lokasi syuting.


Ren melihat proses syuting. Tampaknya menyenangkan. Ia ingin ikut. Saat Rin beradegan, Ren tiba-tiba nongol. Ia mendekati Rin.


Hana hendak mengambil Ren. Tapi dilarang oleh Astrada. Akhirnya Ren menjadi figuran dadakan.


Selesai syuting, Hana, Rin dan Ren menjemput Lucas di rumah sakit. Keluarga sutradara juga sudah datang sedari tadi. Mereka berterima kasih kepada Lucas.


Hana dan keluarganya pulang ke rumah.


Lucas memikirkan kembali tentang keputusannya untuk berhenti menjadi dokter. Apakah ia akan memilih Rin atau dokter? Ia dilema.


Satu sisi Rin membutuhkan dirinya tetapi banyak orang sakit juga butuh dirinya.


Hana melihat Lucas yang melamun. "Ada apa?"


"Tidak. Aku hanya memikirkan Rin. Jika ada tawaran syuting lagi bagaimana?"


"Sampai sekarang Rin belum mendapatkan tawaran syuting. Jadi kita masih ada waktu untuk memikirkannya lagi." Hana kemudian melihat ponselnya.


Lucas mengintip ponsel Hana. Hana sedang browsing baju bayi branded. Pemandangan tidak biasa. Biasanya Hana membeli pakaian di online shop biasa yang harganya terjangkau tanpa memikirkan merk.


"Lucas, ada yang aneh denganku."


"Apanya yang aneh?"


"Hamil Ricka ini, aku jadi pengen barang branded. Gucci, Dior, Hermes."


"Check out aja. Atau besok mau ke tokonya langsung."


"Pakai aja bunga uangnya. Lagipula papanya Ricka itu kaya raya. Minta pasti dikasih."


Uang dari Richard untuk Ricka 10.000.000.000,-


Bunga 4%/tahun \= 400.000.000/12 bulan \= 33.333.333/bulan.


(Tergantung dari kebijakan masing-masing bank)


Han mencubit Lucas.


"Apa salahku?"


"Minta memang dikasih tapi aku nggak suka minta-minta."


Lucas menyentuh perut Hana. "Ricka seleranya mahal, ya. Mama pelit tuh. Nanti Ricka ngileran baru nyesel."


"Ya, udah. Besok selesai syuting temanin aku shopping." Hana benar-benar ngidam barang branded.


Dulu kakak Rin cuma ngidam mangga. Itu juga gratis karena ada pohonnya di rumah.


...***...


Keesokkan harinya selesai Rin syuting, Lucas menemani Hana belanja.


Awalnya Hana ingin membeli satu item barang saja. Tapi tas-tas yang berada di pajangan itu begitu menggoda. Hana hendak mengambilnya.


"Masih ada toko lainnya." Lucas mengajak Hana keluar. Ia juga berperan untuk menjaga keuangan Hana tetap aman dan dalam batas wajar. Lebih baik disiplin sekarang daripada menyesal belakangan karena kalap mata.


Hana memang sudah keluar dari toko tapi mata Hana tetap melihat ke etalase toko yang tadi.


Lucas menyentuh perut Hana. "Papa Ricka memang kaya. Tapi Ricka juga harus belajar hemat. Mama sering bilang kalau hemat itu pangkal kaya. Hari ini beli barangnya satu dulu. Kapan-kapan lagi belinya." Lucas lalu mengajak Hana ke cafe terdekat. Ia sudah mengabari chef Pierre jika mereka akan makan di luar.


Akhirnya bisa nge-date berdua. Bertiga jika Ricka dihitung. Lucas dan Hana sudah sangat jarang menghabiskan waktu khusus berdua karena anak-anak mereka.


Hana membuka menu. Dia memesan semua jenis hidangan penutup.