Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 97 Papa Posesif



Lucas melihat Matthew yang meniru pengantin pria. Saat pengantin pria menaruh cincin di jari manis pengantin wanita, Matthew juga sama. Ia memegang tangan kanan Rin seolah-olah menaruh cincin di sana.


Saat pengantin pria dan wanita berciuman, Matthew mendekati Rin. Lucas langsung memisahkan mereka. Ia tak mau kecolongan seperti saat Rei dan Justin dulu.


Setelah itu adalah acara resepsi. Ren terbangun. Ia turun dari dekapan Lucas. Ren melihat kue pengantin berukuran besar. Ada sepuluh tingkat. Ia mendekati kue itu.


Tangan Ren mencolek krim kue itu. Ia memasukkannya ke dalam mulutnya. Manis.


Ren yang hendak menoel lagi terlihat oleh Hana. "Ren, kuenya punya orang. Nanti Ren dapet bagian kok." Hana berbohong.


Ups. Nggak boleh boong sama anak kecil.


"Mama nggak tahu nanti kita dikasih kuenya atau tidak tapi kalau Ren mau kue, pulang nanti kita singgah ke toko kue. Atau minta chef Pierre bikin. Kue bikinannya kan enak-enak."


Mata Ren tidak bisa berpaling dari kue. Makanan manis adalah favoritnya. Kalau belum makan kue itu artinya belum makan.


Datang seseorang mendekati Hana dan Ren membawa sepiring cake. "This is for you."


"Thank you." Hana lalu menyuapi Ren.


Martha mendekati Hana yang baru saja selesai menyuapi Ren. "Hana, aku ingin mengajakmu berkenalan dengan papa mertuaku, papanya Martin," ajak Martha. Restu dari Martin tentang Rin sudah ada. Tinggal papa mertuanya lagi.


Hana sedikit gugup. Padahal bukan dia yang dijodohkan. Tapi tetap saja bertemu orang baru itu apalagi jika mereka akan menjadi keluarga itu bikin gugup


Mereka berjalan menuju pria paruh baya. Wajahnya tampak tidak asing bagi Hana. Apa kami pernah ketemu?


Rin langsung berlari mendekati kakek itu. "Gyandpa." Ia memeluk kakek itu.


Hana melihatnya. Ia akhirnya ingat siapa pria tua itu Eh? Bukannya kakek itu aktor yang kemarin filmnya aku tonton. Film tentang mafia.


"Lucas itu aktor Marlon, kan? Yang kemarin kita tonton filmnya." Hana berbisik ke Lucas.


"Dia itu kakeknya Matthew."


"Apa!?"


"Nama panjangnya Marlon Wally."


"Itu nama panggung. B bisa jadi artinya Best (terbaik)."


"Dari mana Rin kenal?"


Lucas mengangkat bahunya. "Aku juga nggak tahu."


Rin lalu duduk di pangkuan Marlon. Sepertinya mereka sudah akrab. Rin terkadang tertawa kecil saat Marlon berbicara dengannya.


Martha juga nggak kalah terkejut. Melihat Rin yang akrab dengan papa mertuanya. Tapi ia senang, bukankah itu artinya secara tidak langsung papa mertuanya mungkin setuju dengan Rin.


...***...


Mark dan Ren bermain kejar-kejaran. Rin bermain dengan Matthew. Lucas selalu melihat Rin. Jika Matthew terlalu dekat dengan Rin, ia akan menjauhkan mereka.


Papa tidak rela Rin dicium orang lain.


Dalam perjalanan pulang. Hana bertanya ke Rin. "Rin tahu grandpa Marlon di mana?"


"Taman."


Lucas jadi ingat. Kalau saat mereka di taman, saat mereka membagikan burger, ada satu tuna wisma yang tubuhnya mirip Marlon. Tapi apa iya?


Lucas juga baru sadar jika Marlon akan membintangi film tentang tuna wisma. Apa Marlon sedang latihan akting jadi gelandangan? Bisa jadi.


Sementara itu di tempat Martha berada.


"Apa Rin yang akan jadi istri Matthew?" Marlon tidak terkejut dengan sikap Martha yang bisa dibilang seenaknya. Ia sudah terbiasa. Sejak ia bertemu Martha, ia tahu Martha berbeda. Tapi itu yang membuatnya istimewa.


"Thats right. Dad, how did you know Rin?" tanya Martha.


"Seperti yang kau tahu, aku akan membintangi film tentang tuna wisma. Aku yang terbiasa hidup berkecukupan tidak akan bisa menjadi tuna wisma yang selalu kekurangan."


Marlon melanjutkan. "Aku harus tahu bagaimana cara hidup gelandangan. Cara mereka berpakaian, di mana mereka tidur, apa yang mereka makan dan lakukan. Aku menyamar jadi gelandangan. Rin saat itu datang membagikan burger dan minuman. Walau hanya seharga 3 dolar tapi itu membuatku tersentuh. Terutama senyum manisnya."


Martha menganggukkan kepalanya. Ia juga tahu Rin itu berbeda dari bocah perempuan kebanyakan.