
Hana menuju ke mobil. Rencananya Ren akan makan di mobil. Ia takut jika mengganggu proses syuting film jika Ren makan di lokasi syuting secara mereka juga bukan kru atau pemeran di film.
Mereka masuk ke dalam mobil. Ren membuka meja mini dari belakang sandaran kursi di depannya. Ia mulai makan.
"Mama, akh." Ren membuka membuka mulutnya. Ia ingin menyuapi Hana. Hana ikut membuka mulutnya.
Ren juga menyuapi Ricka yang sedang bermain mainan figuran hadiah dari happy meal.
Hana melihat dari kejauhan bagaimana Rin dan Rayhan mulai melanjutkan syuting.
Kali ini adegan mereka mengamen lagi.
"Action."
Putri mulai menyanyikan lagu dari warung ke warung.
Putra lalu mengajak Putri membeli satu bungkus nasi campur.
Dalam perjalanan pulang ke gudang, tempat mereka tinggal, mereka menemukan sebuah dompet.
Putra membuka isinya. Ada sejumlah uang di dompet itu. Putri melihatnya. "Kak, ini rejeki kita."
Putri mulai membayangkan barang-barang yang bisa ia beli dengan uang banyak itu. "Kakak bisa beli ukulele baru atau kita bisa beli mic dan speaker yang bisa ditenteng untuk ngamen, Kak. Juga bisa beli hp."
"Bukan. Ini bukan rejeki kita. Orang yang punya dompet pasti cemas karena dompetnya hilang. Kita harus mengembalikannya." Putra melihat tanda pengenal yang ada di dalam dompet.
"Alamatnya dekat sini." Putra mengajak Putri menuju alamat di tanda pengenal itu.
Mereka berjalan dan berjalan.
"Cut."
Kru mulai berberes. Mereka akan menuju ke lokasi syuting berikutnya yaitu rumah pemilik dompet
Sesampainya di rumah pemilik dompet, kru film mulai menyiapkan perlengkapan syuting.
Setelah semuanya siap, mereka mulai melanjutkan syuting
"Action."
Putri memandang takjub rumah itu. "Kak, rumahnya besar banget."
Putra membaca lagi alamat di tanda pengenal. Ia memastikan jika rumah besar ini adalah alamat yang tepat.
Satpam rumah mendekati mereka. "Adek ada perlu apa ke sini?" Satpam itu curiga melihat penampilan Putra dan Putri yang kumuh.
"Saya mau mengembalikan dompet ini, Pak." Putra menyerahkan dompet berisi uang tunai dan kartu-kartu.
"Kamu permisi dulu, Pak." Putra pamit pulang. Ia merasa tugasnya sudah selesai.
"Cut."
Selesai memonitor, mereka lanjut syuting lagi.
Putra dan Putri meninggalkan rumah itu.
"Pasti enak ya, Kak tinggal di rumah besar. Apa rumah itu ada kolam renangnya?" Putri membayangkan dirinya tinggal di sana. Mereka tak akan merasakan hawa dingin saat malam. Atau hawa panas saat siang. Tidak seperti di gudang yang mulai lapuk.
Seorang ibu tergopoh-gopoh mendekati Putra dan Putri.
"Terima kasih sudah mengembalikan dompet Tante. Ini ada sesuatu untuk kalian." Wanita itu menyerahkan yang seratus ribuan
"Tidak usah Tante. Saya ikhlas." Putra menolak uang pemberian wanita pemilik dompet.
Putri menatap uang berwarna merah itu. Ia ingin punya uang banyak. Tapi ia menurut pada Putra.
"Kami permisi dulu Tante." Putra pamit. Ia menggandeng tangan Putri yang masih menatap uang kertas dengan nominal tertinggi itu.
"Cut." Sutradara terlihat puas dengan akting mereka. Jika Rin dan Rayhan bisa tetap berakting seperti biasanya maka syuting bisa selesai lebih awal dari perkiraan.
Syuting selesai untuk hari ini. Rin berpamitan dengan kru film. Ia ikut pulang dengan Hana.
Rin masuk ke dalam mobil.
Ren mendekati Rin. "Kakak capek. Mau Ren pijitin?"
Rin merebahkan jok mobil. Ia menjulurkan tangannya. Ren mulai memijat tangan Rin. Ricka juga tidak mau kalah, ia memijit kaki Rin.