
Lucas juga menyadari perubahan ekspresi Rin. Ia tahu Rin berpura-pura sakit agar bisa bertemu dengannya. ~ Harusnya aku tadi video call sebelum Rin tidur.
Lucas lalu membawa Hana dan Rin ke ruangannya. Hana menasehati Rin, "Rin. Rin nggak boleh lagi boongin mama. Kalau Rin mau ketemu papa, mama bisa bawa Rin ke rumah sakit atau video call. Mama tadi itu khawatir karena Rin sakit." Air mata Hana menetes. Ia tadi sangat mengkhawatirkan Rin yang kesakitan walaupun ternyata Rin membohonginya.
Rin memeluk mamanya. "Yin minta maaf, Ma."
"Jangan diulangi lagi, ya."
Rin menganggukkan kepalanya.
Lucas mengambil air hangat untuk Hana dan Rin. Tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Suster memberi kabar ada pasien yang memerlukan bantuannya segera. "Aku harus pergi sekarang." Lucas segera bergegas. Setiap detik sangat berharga bagi seorang pasien. Terutama bagi pasien yang sudah dihadapkan pada maut.
"Rin, ayo kita pulang." Hana mengajak Rin pulang ke rumah. Tidak ada yang bisa ia lakukan di rumah sakit. Tapi Rin menggelengkan kepalanya. Ia ingin tetap di rumah sakit. Ia ingin bersama ayahnya.
Rin menguap berulangkali tanda mengantuk. Hana melihat sekeliling ruangan. Ia menarik tirai penutup dan menaruh Rin di ranjang Lucas yang memang tersedia agar Lucas bisa beristirahat sejenak jika merasa mengantuk atau lelah.
Rin memejamkan matanya dan tertidur. Hana ingin menunggu sampai Lucas datang tapi ia juga sudah mengantuk. Ia lalu memberi kabar ke supir untuk kembali ke rumah karena besok pagi sang supir harus mengantar Rei dan Rio ke sekolah.
Sedangkan Lucas sedang memberi pertolongan pada pasien yang baru saja datang karena kecelakaan lalu lintas.
"Dokter, tekanan darah pasien menurun." Suster memberitahu Lucas. Lucas segera melakukan tindakan yang dirasa perlu. Sebagai dokter ia harus bisa menyelamatkan setiap pasien.
Lucas kembali ke ruangannya dan melihat Hana dan Rin yang tertidur. Lucas duduk di sofa. Ia merasa lelah dan akhirnya tertidur.
Keesokkan paginya Hana terbangun dan melihat ada sarapan di meja kecil depan sofa. Rupa-rupanya Lucas membeli makanan untuk makan pagi mereka.
Hana hendak menyuapi Rin. Tapi Rin menolak. "Yin mau makan sendiyi." Rin lalu mengambil sendok dan mulai makan.
"Rin itu seperti Luke, pa ..." Ucapan Lucas terpotong.
"Jangan lanjutkan lagi. Rin itu hafal setiap perkataan kita." Hana berbisik. Rin mungkin tidak tahu apa yang Lucas katakan. Tapi jika Rin agak besar, tentu ia akan mengerti.
"Luke dulu juga sering berpura-pura jadi dokter di rumah sakit ini. Ia pakai jas aku. Ia pinjam namaku." Lucas teringat mendiang Luke.
"Kemarin Rin les akting. Saat akting marah ia meniru aku yang lagi marahin dia. Tapi yang aku kagum saat Rin akting sedih. Bisa-bisanya Rin gerakin alisnya jadi miring ke bawah. Aku aja nggak bisa." Hana mencoba memiringkan alisnya menjadi seperti / \ tapi gagal. Alisnya hanya bisa horisontal ke atas dan ke bawah.
"Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Luke dulu itu pernah jadi aktor."
"Benarkah?"
"Tapi ia nggak lanjutin karir sebagai aktor. Ia lebih memilih jadi pengusaha."