Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 127 Harga Yang Harus Dibayar



Rei masuk ke dalam kamar Hana sambil memeluk guling di tangan kanannya. "Ma, Rei tidur sama Mama boleh?"


"Boleh. Kebetulan papa lagi jaga malam di rumah sakit. Mama cuma ditemenin Ricka."


Baru saja Rei mengambil posisi di samping Ricka, Rio ikutan masuk ke dalam kamar Hana sambil membawa bantal.


"Ma ..."


Hana sudah tahu maksud Rio. Rio pasti ingin tidur bersama Hana juga. "Boleh."


Akhirnya mereka berempat tidur dalam ranjang yang sama. Hana melihat putra putrinya. Ia teringat saat dulu masih ada Ryu.


Ryu, dulu kita juga tidur berempat seperti ini.


Hana menutup matanya dan tertidur.


Keesokkan harinya di rumah Lucy.


Ren sudah bangun dan mendapati ada genangan air di kasurnya. Ia melihat langit-langit kamar tetapi tidak ada bercak air di sana.


Ren malu sendiri. Ia mengganti celananya dan mengelap sprei kasur yang basah. Ren mencopot sprei dan tidak mendapati ada noda air.


Lucy yang baru saja bangun melihat keadaan Ren.


"Oma, spyeinya ajaib. Kasynya nggak basah."


"Spreinya waterproof."


"Wateypyoof?"


"Spreinya anti air. Ren mau basahi sebanyak mungkin, kasurnya tetap kering." Lucy sengaja memasang sprei waterproof untuk Ren yang masih kecil.


Ren mengendus bau harum masakan. Perutnya berbunyi.


"Ayo sarapan. Opa lagi panggang bacon," ajak Lucy. Perutnya juga minta diisi.


Ren mencuci tangannya di kamar mandi. Ia lalu menggandeng tangan Lucy sambil menuju ke ruang makan.


Lukman menaruh bacon di atas roti panggang. "Tunggu bentar, ya. Opa mau bikin mata sapi buat Ren." Lukman dengan cepat membuat telur mata sapi. Menaruhnya di pring berisi roti panggang dan bacon.


Ren mengambil saus tomat sachet lalu menghias telur itu dengan bentuk hati ❤️. "Ini buat Oma."


Ren lalu ke piring Lukman. Ia menghias telur itu dengan bentuk hati juga. "Ini buat Opa."


"Ren suka?"


"Suka, Opa. Enak. Yen mau tambah." Ren menunjukkan dua jempol tangannya.


Selesai sarapan, Ren berlatih gitar dengan Lukman.


"Opa, ajayin Yen lagu Happy birthday." Ren membawa gitar mungilnya. Ia ingin bisa memainkan lagu happy birthday saat ada yang berulang tahun.


Lukman mengambil gitarnya sendiri. "Ini kunci C." Lukman memberi contoh.


Ren mencontoh Lukman. Lukman membetulkan jari-jari Ren.


"Coba bunyikan."


"Jreng ..." Suara gitar yang dipetik Ren masih cempreng.


"Ren harus tekan senar-senarnya dengan kuat supaya suaranya bagus." Lukman menggenjreng gitarnya.


"Tangan Yen sakit." Menekan senar dengan kuat membuat jari-jarinya sakit.


"Ren mau bisa main gitar?"


"Mau. Yen ingin seperti opa Eyvis yang pintar main gitay. Tapi jayi Yen sakit." Ren menunjukkan jari-jari tangan kirinya yang ada bekas senarnya.


"Ren dulu waktu bayi bisa jalan?"


"Nggak bisa. Yen di kasuy teyus."


"Kenapa sekarang Ren bisa jalan?"


"Kayena ..." Ren berpikir tapi tidak menemukan jawabannya.


"Karena Ren terus belajar jalan. Kadang Ren jatuh. Kaki Ren jadi sakit. Tapi Ren nggak kapok belajar jalan. Ren sekarang bisa jalan. Larinya Ren juga kencang."


Ren mengingat saat ia belajar sepak bola dengan pelatihnya. Bagaimana caranya menggiring bola, mengoper bola, lalu cara menendang bola supaya masuk ke gawang. Berulang kali ia jatuh. Tapi berulang kali juga ia berlatih dan berlatih.


Ren memegang gitarnya kembali. "Ini kunci C ya, Opa."


Lukman membetulkan posisi jari-jari Ren. Setelah dirasa cukup, Lukman mengajari Ren kunci G.


Hari ini Ren tidak hanya belajar gitar, ia juga belajar bahwa untuk bisa menguasai sesuatu ada harga yang harus dibayar.