
Instruktur akting datang. "Anak-anak selamat datang di kelas akting. Perkenalan nama Tante, Rosa. Tante mau tanya apa ada yang pernah berakting sebelumnya?" Rosa berkata dengan ramah secara murid-muridnya masih anak-anak.
Ada satu anak laki-laki usianya sekitar empat tahun yang mengangkat tangannya. Hana merasa tidak asing dengan anak laki-laki itu. ~ Bukannya dia itu yang pernah tampil di sinetron? Betul dia. Bukannya dia itu sudah ahli. Kenapa harus les akting lagi.
"Ada lagi?"
Rin gantian mengangkat tangannya.
Tentu saja instruktur tidak pernah melihat Rin karena memang iklan yang dibintangi Rin belum dirilis dan masih dalam tahap editing.
"Baiklah. Ada beberapa ekspresi dalam kehidupan nyata. Marah, sedih, kesal dan beberapa ekspresi lainnya. Ada yang mau coba akting marah?" tanya Rosa. Ia ingin melihat kemampuan anak didiknya.
Anak-anak tidak ada yang mengangkat tangannya. Rin tiba-tiba mengangkat tangannya. Rosa membaca tanda pengenal di kaos Rin. "Rin." Rosa mempersilahkan Rin untuk akting marah.
Rin langsung berdiri dan maju ke depan. Ia mulai berkacak pinggang dan membuat ekspresi marah di wajahnya. Ia bersuara agak keras dengan tangan menunjuk lantai. "Yin, mama sudah biyang jangan hambuyan. Nanti kalau mainan Yin diinjak yusak, Yin mau?"
Rosa terkejut. Terlebih lagi Hana. Kalimat yang barusan diucapkan Rin itu berasal dari mulutnya karena terkadang Rin meninggalkan mainannya begitu saja. Ronald yang sedari tadi merekam Rin untuk persiapan konten di channel YouTube Rin menoleh ke arah Hana.
"Rin, bagus." Rosa bertepuk tangan. Ia cukup terkejut. Terutama dengan keberanian Rin, apalagi dengan ekspresi Rin walaupun Rin masih cadel.
"Sekarang kita coba ekspresi ... Sedih. Ada yang mau mencobanya?"
Rin yang baru saja kembali ke tempat duduknya mengangkat tangannya lagi.
Rin mulai menggerakkan alisnya ke bawah membuat mata sayu. Tak lama kemudian air mata Rin keluar hanya dalam hitungan detik. Rosa lebih terkejut daripada saat Rin akting marah. ~ Keluar air mata dengan cepat itu sudah, lho. Aktor-aktor aja kadang pake obat tetes mata.
Rosa sekali lagi bertepuk tangan. Ia tidak menduga menemukan bakat terpendam di hari pertama ia mengajar anak-anak kecil.
"Sekarang ada yang mau mencoba akting takut?" Sekali lagi Rin mengangkat tangannya. Sebenarnya Rosa tidak menduga anak yang paling kecil akan jadi anak yang paling berani maju ke depan.
Rin lalu membuat ekspresi seperti Hana takut cacing. Begitu juga saat akting senang. "Yeay, papa beyiin Yin mainan." Ekspresi Rin benar-benar terlihat sangat senang seperti mendapat mainan sungguhan.
Setelah beberapa pelajaran akting, Rosa mengakhiri kelas. Ia meminta Ronald dan Hana untuk berbicara dengannya. Hana menjadi kuatir. Sepertinya kelas akting tadi didominasi oleh Rin. ~ Apa Rin bakal dikeluarkan dari kelas akting?
Mereka tiba di suatu ruangan. Rin duduk di pangkuan Hana.
"Apa Rin pernah belajar akting sebelumnya?" Risa bertanya.
"Hari ini hari pertamanya."
"Saya rasa Rin harus pindah ke kelas lain untuk ke depannya."
"Kelas lain? Apa Rin tidak bisa belajar dengan Anda?"
"Rin tetap belajar dengan saya. Tapi kemampuan Rin melebihi anak-anak yang lain. Sebaiknya ia naik tingkat dan belajar di level yang lebih tinggi."