Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 161 Ronald Ternyata Masochist?



Martha lalu mengabari Hana kalau Mark juga akan ke Indonesia.


"Mereka pergi sama-sama?" Hana bingung karena yang ia tahu Matthew saja yang berangkat. Apa ada perubahan mendadak?


"Matthew sudah berangkat. Mark menyusul. Hari ini tiba-tiba ia ingin pergi ke Indonesia. Tadi ia melihat video Ricka mencium Rayhan."


Hana tertawa dalam hatinya. Matthew dan Mark cemburu pada orang yang sama yaitu Rayhan.


Ada ada aja dua bocil itu.


Hana dan Martha berbincang sebentar lalu mereka memutuskan panggilan telepon.


"Mama, yihat." Ren menunjuk laba-laba kecil yang sedang berjalan di atas daun.


"Mama, kenapa Yen kakinya cuma dua? Kenapa Yen nggak punya delapan kaki sama kayak yaba-yaba?" Ren bertanya.


Hana berpikir sejenak. Ia lalu menjawab. " Kalau kaki Ren delapan, nanti Ren jadi manusia laba-laba."


"Yen mau jadi manusia laba-laba. Yen mau jadi spideyman." Ren mengulurkan pergelangan tangannya seperti saat Spiderman mengeluarkan jaring laba-laba.


Seseorang mendekati Hana. "Saya ada tawaran untuk anak Kakak."


Hana melihat wanita itu dengan seksama. Tawaran apa?


"Ada yang lagi cari bintang iklan untuk anak Kakak yang paling kecil."


Hana menolak. "Tidak. Tidak usah. Untuk yang lain saja."


"Tapi duitnya lumayan."


"Tidak. Tidak apa-apa." Hana menolak secara halus.


Ronald melihat Hana merasa tidak nyaman. Ia mendekati Hana.


Wanita yang menawari Ricka jadi bintang iklan tiba-tiba pergi begitu saja.


"Apa ia bagian dari kru film?" Hana bertanya.


"Sepertinya bukan. Aku nggak pernah lihat dia selama syuting. Hati-hati banyak penculikan anak akhir-akhir ini."


"Iya, Ron."


Hana melanjutkan kalimatnya. "Ron, apa kau suka sama Renata, tantenya Rayhan?"


"Dari mana aku tahu? Tentu saja aku tahu. Feeling perempuan. Tiap kali aku lihat kamu, kamu selalu lihat Renata. Dekati aja kalau memang suka. Mumpung lagi ketemu tiap hari." Hana mendukung hubungan Ronald dan Renata.


"Sudah. Aku sudah bilang kalau aku suka sama dia. Tapi ia tolak."


"Alasannya?"


"Ia lagi prioritasin karir Rayhan saat ini."


"Tapi bukan berarti tidak ada ruang untuk cinta, kan?"


"Apa ada alasan lainnya?"


"Mungkin karena masa lalu Renata. Aku dengar ia terpaksa berpisah dengan calon suaminya karena calon suaminya tidak mau tinggal bersama Rayhan."


"Mama sama papa Rayhan ke mana?"


"Mereka sudah meninggal. Papa Rayhan meninggal waktu Rayhan masih dalam kandungan ibunya. Mamanya meninggal saat melahirkan Rayhan. Renata jadi single mother bagi Rayhan."


Air mata Hana menetes. Ia tidak menyangka dibalik sikap ceria Rayhan, ada cerita sedih yang tidak terlihat.


"Aku nggak pa pa kok ditolak Renata. Kok malah kamu yang nangis."


"Aku nggak nangisin kamu."


Ricka lalu memukul Ronald. Ia mengira Ronald sudah membuat mamanya menangis. Tapi tentu saja pukulan Ricka tidak sakit. Ricka yang masih batita, pukulannya tidak terlalu bertenaga.


"Kenapa Ricka pukul Om Ronald? Karena mama nangis?" Hana menatap Ricka.


Ricka menganggukkan kepalanya. Ia masih marah dengan Ronald. Sampai-sampai Hana yang sedang menggendong Ricka, menjaga jaraknya dengan Ronald.


"Bukan Om Ronald yang bikin Mama nangis. Tapi cerita tentang kakak Rayhan." Hana menjelaskan.


"Maaf ya Ron. Ricka salah paham. Maafkan Ricka. Ia masih kecil. Belum paham apa yang kita bicarakan tadi."


"Nggak ada yang perlu dimaafkan.


Lagipula pukulan Ricka itu nggak sakit. Malah aku pengen dipukul Ricka lagi."


"Ron, kamu masochist?"