
Hari ini premier film Hold My Hand. Mereka sekeluarga berada di bioskop.
Film dimulai.
"Kakak Yin." Ren memandang takjub melihat Rin berada di layar bioskop. Selama ini ia biasanya hanya melihat kakak-kakaknya ada di ponsel atau paling besar di TV.
Di tengah-tengah film, Ren melihat dirinya sendiri. Ia tersenyum melihat tingkahnya di layar saat menjadi figuran dadakan atau lebih tepatnya memaksa jadi figuran.
Film selesai. Mereka lalu pulang ke rumah yang sudah dihias untuk merayakan debut film perdana Rin.
"Congratulation and celebration." Mereka bernyanyi. Lucas memberi kado. Begitu juga Lucy, Rebecca dan Richard. Mereka bangga dengan Rin.
"Terima kasih."
Ren mengadakan pertunjukkan sulap. Ia memegang sebuah bola coklat berukuran kelereng.
"Yihat, ya. Nanti boya cokyatnya hiyang." Ren akan berusaha melenyapkan bola coklat yang ia genggam. Ren meletakkan tangannya di balik punggungnya.
Rin berada di belakang Ren. Mengambil dan memakan bola coklat.
"Tada." Ren memperlihatkan telapak tangannya yang bersih.
Semua bertepuk tangan bukan karena trik Ren yang ketahuan caranya menghilangkan bola coklat tetapi keberaniannya melakukan pertunjukan yang tidak bisa dibilang sulap.
"Sekayi yagi." Ren mempertontonkan trik sulapnya. Tapi kali ini tidak dengan bantuan Rin. Ia berbalik lalu memakan bola coklat. "Sebentay, ya."
Ren berbalik setelah habis menelan bola coklat. "Tada."
Semua penonton bertepuk tangan. Ricka juga ikut bertepuk tangan.
Mereka lalu makan bersama dan berbincang-bincang lalu pulang.
Ricka melihat Ren melepas kakinya karena hendak tidur. Ia memegang kakinya dan menariknya supaya bisa lepas.
"Kaki kakak Ren beda sama kaki Ricka. Sudah malam. Waktunya tidur."
Ricka pun tertidur.
Ren bersiap-siap untuk pertandingan sepak bolanya. Ia mencari kaki palsu yang berada di dekat tempat ia tidur tapi tidak ada.
Sedangkan Ricka sedang bermain dengan kaki palsu Ren. Ia mencoba memasangkannya ke kakinya sendiri tapi terlalu besar.
Kaki palsu Ren memang mungil tapi kaki Ricka lebih mungil lagi.
Ren melihatnya. Ia tahu jika ia mengambilnya paksa, Ricka tak akan mau melepas kaki palsunya. Ren mendekati Ricka. Ia menjulurkan kakinya ke dekat Ricka. "Yicka, toyong pasangin kaki kakak."
Ricka memasangkan kaki palsu Ren ke kaki Ren yang buntung.
"Teyima kasih."
Hana membawa Ricka menonton pertandingan sepak bola indoor Ren. Ren berperan sebagai striker.
Ren berlari sangat kencang saat ia mendapatkan bola dari temannya. Ia menggiring bola dan menendangnya ke gawang lawan.
"Gol." Bola masuk ke dalam gawang. Ren berlari sambil melambaikan tangannya ke atas.
"Ricka, kakak Ren hebat, ya." Hana melihat Ricka yang tersenyum lebar sambil menggoyang-goyangkan pom pom mininya.
Babak pertama selesai dengan skor 2:0 untuk kemenangan tim Ren. Ren datang kepada Hana setelah berkumpul sejenak dengan teman-teman dan pelatihnya.
"Ren hebat." Hana memuji.
Ren tersenyum mendengar pujian mamanya. Tetapi sepertinya ada yang tidak suka melihat Ren bermain di sana.
"Ia anak cacat. Tidak seharusnya ia bermain bersama anak-anak normal. Seharusnya ia berada di paralympics," protes salah satu orang tua tim lawan. Karena suaranya yang keras, Hana bisa mendengarnya.
"Tapi anak paralympics yang bermain sepak bola sangat jarang. Kemampuan Ren jauh di atas mereka." Pelatih tim sepak bola Ren membela Ren. Ia tahu Ren berbakat dan tim lawan takut dengan kemampuan Ren.
Mereka berdua terlibat cekcok mulut. Wasit berusaha menengahi. "Untuk babak kedua, Ren sebaiknya di bangku cadangkan."
"Apa Anda membela tim lawan?" Pelatih tim mulai emosi. Ren itu pemain berharganya. Pemain emasnya.