Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 77 Curhatan Rin



Rin sedang video call dengan Lucas. "Papa, Yin mau puyang." Rin ingin balik ke Indonesia.


"Kenapa? Rin kangen Papa?"


"Mama jahat. Mama mayah mayah teyus." Rin membuat raut wajah kesal. Akhir-akhir ini Hana sering memarahi Rin. Tetapi bukan tanpa sebab Hana marah.


Flashback.


Salah satu kesalahan Rin adalah memakai lipstik milik Hana. Membuat bibir mungil Rin belepotan. Belum lagi Ren juga ikut menjadi korban karena Rin ingin merias Ren.


"Yen diam. Jangan geyak-geyak." Rin meminta Ren tetap diam. Selain lipstik, Rin juga memakaikan blush-on dan eye shadow ke Ren. Dan hasilnya muka Ren tercoret-coret tidak beraturan.


"Yen cantik." Rin mengagumi hasil karyanya yang bisa dibilang abstrak di wajah Ren.


Hana baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat dua anak terkecilnya dengan wajah bercelemotan make-up. Ia melihat ada lipstik di tangan Rin.


"Plak ..." Tangan Hana memukul tangan Rin. Rin kaget dan menangis. Ia lalu lari mencari Rei. Hana kemudian membersihkan wajah Ren.


Flashback end.


Sekarang Hana melakukan panggilan video dengan Lucas. "Rin minta pulang."


"Kalau Rin pulang apa kau bisa menjaganya?" Hana berkata dengan sedikit ketus. Hana tahu Lucas sibuk. Bisa-bisa Rin terlantar karena saat ini kedua mertuanya sedang berada di luar negri mengecek bisnis Luke.


"Apa kau memukul Rin?"


"Aku emosi ngelihat Rin coret-coret wajah Ren."


Lucas merasa janggal. Tidak biasanya Hana emosi. Malah biasanya Hana yang mencoba meredakan emosi Lucas. Apa jangan-jangan Hana hamil? Karena perubahan hormon, jadinya Hana sering marah-marah.


"Hana, aku rasa kau harus minta maaf ke Rin."


"Iya. Aku merasa bersalah sama Rin. Biasanya aku jadikan lelucon aja hal sepele seperti itu. Mungkin aku lagi PMS."


"Hana, jangan-jangan kau hamil?" Menurut Lucas, wanita hamil juga mengalami perubahan hormon.


Mungkinkah yang dikatakan Lucas itu benar?


Hana tak berharap banyak karena takut kecewa. Richard bahkan hendak mengadopsi Ren jika program hamil anak mereka (Hana dan Richard) gagal lagi.


"Semoga yang kau katakan benar-benar terjadi. Kak Richard bilang ia mau jadiin Ren untuk jadi ahli warisnya." Hana berbincang sebentar lalu mengakhirinya.


Hana berjalan menuju kamar tidur Rei dan Rin. Rin masih marah dengan Hana dan ingin tidur bersama kakaknya. Rin sudah tertidur pulas.


Besok aku mau minta maaf ke Rin. Tak seharusnya aku emosi seperti tadi.


Hana mengecup kening Rei dan Rin lalu mematikan lampu kamar. Ia menuju kamarnya sendiri lalu tertidur.


Satu hal yang Hana tidak tahu. Rin betul-betul ingin pulang ke Indonesia. Dan ia tahu ia harus ke bandara untuk naik pesawat ke Indonesia.


Rin diam-diam mengemasi beberapa barang. Menaruhnya di tas mungilnya. Rin keluar kamar dan melihat sekitarnya. Semua penghuni sudah tidur. Ia lalu menggeser kursi. Menaikinya lalu menekan tombol di interkom untuk membuka pintu.


Pintu terbuka. Rin keluar dari apartemen. Ia mulai berjalan menuju lift dan menghadapi tantangan untuk menekan tombol turun ke bawah. Tinggi tubuhnya tidak cukup walau ia sudah berjinjit. Lift tetap tertutup.


Hana terbangun saat pagi datang. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Ia memeriksa keadaan anak-anaknya.


Rio dan Ren ada.


Hana merasa aneh saat melihat kursi berada di dekat interkom. Hana menuju ke kamar Rin. Hanya ada Rei di sana.


Author's note :


Terima kasih untuk pembaca yang sudah memberi hadiah untuk novel ini. Bab selanjutnya "bersama orang asing".