
"Pasti Anda takut jika tim kami menang." Pelatih berusaha tetap membuat Ren bermain untuk babak kedua.
Ren mendekati pelatih. Ia tahu ia menjadi masalah walaupun teman lainnya tidak mempersalahkannya. Mereka bermain bukan untuk menang tapi bersenang-senang bersama.
"Yen mau puyang." Ren tidak mau memperpanjang keributan. Bertengkar tidak akan baik buat timnya dan tim lawan. Lebih baik ia pulang daripada di bangku cadangkan dan tidak bisa bermain, pikir Ren.
"Ren yakin mau pulang?" Hana tahu kecintaan Ren dengan sepak bola. Ren bahkan menonton siaran ulang pertandingan sepak bola mulai dari piala dunia, Liga Champions, piala UEFA, liga Inggris, liga Italia, liga Spanyol dan liga Indonesia tentu saja. Dan pertandingan ini sudah Ren nanti-nantikan sejak lama.
"Iya."
Hana lalu pulang. Saat di dalam mobil, Ren mendekati Hana. Ia menangis di dekapan Hana. Hati Hana ikut perih. Bukan salah siapa-siapa Ren punya kaki cacat. Sampai sekarang ia juga tidak tahu penyebabnya.
Ricka ikut menangis. Ia tahu kakaknya selalu berlatih di rumah dan lapangan. Malah ia menangis lebih kencang dari Ren.
"Cup cup cup." Ren berhenti menangis dan berusaha menenangkan Ricka. "Kakak nggak pa pa."
"Kenapa Ren nggak dukung teman Ren aja. Walaupun Ren nggak boleh main tapi Ren masih boleh nonton pertandingan." Hana mengambil pom pom mini cadangan yang ia persiapkan jika pom pom yang dipegang Ricka rusak.
"Teman-teman Ren pasti jadi tambah semangat kalau ada Ren. Ren kan kapten tim." Hana menaruh pom pom mini di tangan Ren.
Ren akhirnya mengikuti saran Hana. Ia kembali lagi ke lapangan. Saat Ren tiba skor sudah 2:1. Tim sepak bola Ren kebobolan.
"Gol ..." Satu gol berhasil menambah skor mereka. Tak lama kemudian terjadi gol lagi untuk tim sepak bola Ren. Mereka mengakhiri pertandingan dengan skor 4:1.
Tim sepak bola Ren merayakan kemenangan mereka di restoran terdekat. Ren juga ikut diajak karena nota benenya Ren itu pemain andalan mereka. Hanya karena lawan mereka takut dengan kemampuan Ren, jadinya mereka mencari-cari alasan.
Orang tua murid juga mendukung Ren. "Kami akan protes sampai Ren diperbolehkan bermain kembali."
"Harusnya Ren itu dapat handicap. Bukannya dilarang main."
"Coba kalau Ren ada di tim mereka, pasti mereka nggak protes."
Walau masih anak-anak, Ren dikenal dengan larinya yang cepat, tendangannya yang kuat dan akurat.
Awalnya pelatih meragukan kemampuan Ren tetapi setelah ia melihat bagaimana Ren bermain di lapangan dan rajin mengikuti latihan (Ren selalu datang yang pertama), ia tahu Ren berbakat dan tekun.
Pelatih Ren akan terus berusaha agar Ren bisa kembali ke lapangan karena untuk paralympics biasanya untuk pemain dengan tongkat di kedua tangan dengan kaki buntung dari lutut ke bawah. "Anda bisa lihat betapa berbakatnya Ren. Kita harus mendukungnya. Bukan malah melarangnya bermain."
Di rumah Hana memberitahu Lucas tentang kejadian di pertandingan Ren. Ujung-ujungnya malah Hana yang menangis.
"Bukankah sudah sering kubilang kalau kaki Ren cacat itu bukan salahmu. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri." Lucas memeluk Hana.