
Rin terlalu menyukai tengkorak manusia itu. Saat ia mandi, Rin membawanya. Bahkan saat makan, Rin meletakkannya di meja kursi anaknya. Bahkan saat mereka berbelanja di supermarket pun Rin membawa tengkorak itu.
Pandangan orang-orang tertuju ke mereka. Bukan karena mereka fansnya Rei, tapi karena melihat bayi yang memegang tengkorak itu pemandangan langka.
Hana menjadi terbiasa karena ia selalu berada di dekat Rin yang otomatis membuatnya berada di dekat tengkorak. Walaupun terkadang ia masih takut-takut.
Rin ...
Biasanya, kan anak perempuan itu suka boneka atau yang imut-imut.
Kenapa Rin suka kerangka manusia?
Apa Rin mau jadi dokter seperti papa?
Lucas yang melihatnya, membelikan Rin kerangka manusia yang baru dengan versi mini. Sedikit lebih kecil ukurannya dari Rin. Rin sekarang menganggap kerangka manusia mini itu sebagai temannya. Rin meminta Hana memasangkan baju dan kaus kaki miliknya ke kerangka.
Rin ...
Mama itu penakut.
“Rei ... Tolong pasangin bajunya Rin ke kerangka.” Hana meminta bantuan Rei.
“Nggak bisa, Ma. Rei takut.”
“Rio ... Tolong mama ...”
“Rio juga takut, Ma.”
“Mama Berta ...”
Mama Berta langsung kabur dari dekat Hana.
Terpaksa Hana memasangkan baju dan kaus kaki ke kerangka mini itu. Rin mengajari kerangka itu merangkak seperti dirinya. Mau tidak mau Hana memegang kerangka itu dengan merinding.
Hana punya ide.
Kalau aku berdirikan kerangka ini di pinggir sofa, apa Rin mau mengikutinya?
Selama ini Rin jarang berlatih berjalan. Rin lebih suka merangkak.
Hana mencoba menjauhkan kerangka mini itu dari Rin. Ia membuat kerangka mini itu berdiri di pinggir sofa. Rin yang melihatnya berusaha mendekati kerangka mini itu.
“Rin ... Coba berdiri seperti kerangka.”
Tapi Rin masih terus merangkak.
Hana tak habis akal. Ia menaruh kerangka itu di sandaran sofa. Mau tidak mau Rin berpegangan pada pinggir sofa.
Rin bisa berdiri.
Hana senangnya bukan main. Ia mengambil poselnya dan memvideo Rin. Kaki mungil Rin berusaha menaiki sofa tapi gagal. Tenaga tangannya belum kuat. Hana lalu menurunkan kerangka itu.
Robert datang berkunjung. Ia sudah sering melihat Rin bersama kerangka mini yang sudah seperti teman atau adik Rin itu. Rin bahkan membawanya ke box bayinya saat tidur.
“Rin ... Om ada ini.” Robert menunjukkan stiker tato yang ia bawa. Ada beberapa gambar di sana. Mulai dari gambar princess, gambar barbie, gambar hello kitty. Tapi sudah bisa ditebak Rin memilih gambar tengkorak. Robert menaruh stiker tato itu di lengan Rin.
“Rin diam, ya. Jangan gerak-gerak.” Robert mengoleskan air di atas stiker yang sudah berada di lengan Rin. Setelah beberapa saat Robert mengelupasnya.
“Rin sudah punya tato sekarang sama seperti Om.”
Rin terus melihat tato itu.
“Roboh ... Jangan bikin Rin jadi penuh tato sepertimu.” Hana ikut-ikutan memanggil Robert dengan sebutan Roboh.
“Ini hanya temporer, kok. Sementara aja. Beberapa hari juga hilang.”
Rin lalu memilih gambar lagi. Ia ingin lengannya penuh tato seperti Robert. Kali ini ia memilih tato mawar. Tato seperti Hana dan Robert. Robert lalu mengaplikasikannya ke lengan mungil Rin. Tato mawar pun jadi.
Rin lalu memilih tato lain.
“Sudah, ya. Besok-besok lagi. Nanti papa marah kalau tangan Rin banyak tatonya.” Hana mengambil stiker tato tersebut dan menyimpannya.
Hari sudah sore, Rin harus membasuh tubuhnya. Hana melepas semua stiker dari tubuh Rin. Rin menolaknya.
“Kalau kena air nanti stikernya basah. Nanti stikernya rusak.”
Akhirnya Rin mau melepas stikernya. Hanya tersisa tato tengkorak dan mawar di lengan Rin.
Hana mencoba menggosok tato Rin. Ia takut kalau Lucas marah melihat lengan Rin ada tato walaupun hanya stiker. Tapi stiker tato itu terlalu lengket.
Kenapa susah banget ini dibersihkannya?
Hana tidak berhasil. Ia menyerah karena tidak baik bila Rin terlalu lama berendam di air Jari-jari tangannya juga sudah berkerut-kerut.
Alhasil Rin menyambut kepulangan Lucas dengan lengan bertato. Lucas hanya melihat sekilas tato itu lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah Lucas selesi mandi, ia menggendong Rin. Ia melihat lebih jelas lagi tato itu.
Rin bener-bener suka tengkorak.
“Hana ... apa masih ada stiker tatonya?”
“Ada ... di laci dekat pintu kamar.”
Lucas mengambil satu tato bergambar princess Belle dan menempelkannya ke lengannya. Hana melihatnya tapi sudah terlambat.
“Eh ... Lucas. Stiker tatonya itu sangat bagus. Ia bakal susah dilepas. Tadi aku coba lepas punya Rin tapi terlalu lengket. Kamu nggak pa pa dilihatin teman-teman sekerjamu besok?”
Lucas buru-buru ke kamar mandi mencoba melepas stiker tato itu tapi gagal.
Keesokkan harinya saat ia bekerja ia tidak melepas jas dokternya walaupun ia merasa kepanasan. Ia takut teman-temannya melihat ia mempunyai tato princess.
Kenapa aku kemarin milih stiker princess.
Harusnya stiker tato yang lain.
Stiker tato bertahan kurang lebih satu minggu di lengan Lucas.
Saat ini Rei sedang bermain dengan Rin.
“Rin mau kasih nama kerangkanya apa?” Rei bertanya.
Rin menunjuk gambar apel. Rei baru saja mengajari Rin kata-kata ABC.
“A for Apple. B for Bird. C for Cow.”
Jadi, Rin baru mengingat gambar apel.
Jadilah kerangka mini itu sekarang punya nama. Rei juga sudah mulai berani menyentuh kerangka. Begitu juga Rio. Ternyata ketakutan itu harus dihadapi agar ia bisa hilang dengan sendirinya.
Rei mengambil topi Rin lalu memakaikannya ke Apple.
“Bagus yang mana, Rin? Pink? Merah?”
Rin menunjuk topi merah muda. Rei lalu mengambil baju Rin dengan nuansa pink. Mereka sekarang bermain dokter-dokteran dengan Rin sebagai dokternya.
“Dokter Rin ... Apple sakit." Rei lalu membaringkan Apple. Rin mendekati Apple dan memeriksanya dengan stetoskop mainan.
Sepertinya Lucas memang kepengen Rin menjadi dokter. Lucas sekarang sering membawa barang untuk Rin yang berhubungan dengan kedokteran. Stetoskop mainan, jarum suntik mainan, bahkan jas dokter yang ukurannya sesuai dengan tubuh Rin.
“Apa kau ingin Rin jadi dokter?” Hana bertanya ke Lucas.
“Iya ... aku rasa Rin bisa jadi dokter. Mungkin lebih dari itu.”
“Tapi aku harap kau tidak memaksakan keinginnanmu ke Rin. Kau bisa mengarahkannya. Tapi saat ia dewasa, kita harus mengijinkan ia memilih jalan yang ia mau. Menjadi dokter itu bagus. Bisa menolong sesama. Tapi jika jalan itu diambil karena terpaksa kasihan Rin. Ia bisa tidak bahagia karena harus menuruti keinginan orang tuanya. Aku tidak masalah Rin mau menjadi apa. Asalkan bukan yang buruk. Jadi dokter memang bikin punya banyak uang. Bikin kaya. Walaupun semuanya butuh uang tetapi uang bukan sumber kebahagiaan.”
Tapi yang ngomong itu suka banget sama uang. ~ Lucas memandang Hana sambil tersenyum.
Lucas sangat sangat berharap Rin bisa jadi dokter mengikuti jejaknya karena Rei lebih tertarik menjadi influencer sedangkan Rio lebih condong menjadi programmer walaupun Lucas tahu dengan kemampuan Rei dan Rio, mereka bisa menjadi dokter seperti dirinya.