
Kesukaan Rin dengan tengkorak mempengaruhi orang-orang yang berada di sekitarnya. Rei membeli gantungan kunci bergambar tengkorak. Rio juga tidak mau kalah. Ia membeli topi dengan bordir tengkorak.
Robert bahkan menghadiahi Rin dengan kaus dengan desain tengkorak yang ia buat sendiri. Rin selalu ingin terus memakai kaus bergambar tengkorak itu. Cuci, kering, pakai. Begitu terus. Rin tidak mau pakai baju yang lain.
“Roboh ... Kau harus bikin kaus lagi buat Rin. Setiap kali ia mandi, aku harus mencuci dan mengeringkan kausnya.”
“Uangnya?” Robert memperlihatkan telapak tangannya.
“Kan, kamu yang mulai duluan kasih Rin kaus itu.”
“Dasar pelit.” Robert mengejek Hana sambil menjulurkan lidahnya. Bukan karena jengkel. Hanya bercanda saja. Tentu saja Robert dengan senang hati membuat kaus baru untuk Rin.
“Mama itu nggak pelit Om Roboh. Tapi hemat. Kata mama hemat itu pangkal kaya. Tapi ... Mama kok nggak kaya-kaya, ya?” Rio langsung menjauh.
Tadi Hana senang Rio berada di pihaknya tapi kalimat terakhir itu sebaliknya.
Saatnya Rin mandi. Rin memandikan Apple, kerangka manusia mininya.
Ini seperti bayi memandikan bayi.
Rin lalu mengangkat Apple meminta agar Hana mau mengelap Apple. Hana segera mengelap Apple lalu membersihkan tubuh Rin.
Saat malam tiba ...
Rei masuk ke ruang belajar Lucas.
“Pa ... Rei bingung sama PR Rei.”
“Sini ... Papa ajarin.” Lucas meminta Rei mendekat.
Lucas lalu mengajari Rei.
“Rio sudah selesai PRnya?”
“Sudah. Tapi ia lagi sibuk bikin aplikasi baru.”
Di lain waktu Rio yang meminta bantuan untuk PRnya.
“Rei sudah kerjain PRnya?”
“Sudah. Tapi Rei lagi sibuk latihan nari.”
Rei dan Rio itu satu kelas. Jadi, PR atau tugas-tugas mereka itu sama. Sebenarnya mereka bisa mengerjakan PR mereka. Tapi mereka pura-pura tidak bisa mengerjakan supaya mereka bisa bersama papanya. Lucas yang seorang dokter sangat sibuk. Terkadang saat jam tidur pun ia harus ke rumah sakit jika ada pasien yang kritis.
Saat pillow talk ...
“Bentar lagi Rin ulang tahun yang pertama. Kita siapkan cake seperti apa, ya?” Hana sedang browsing cake ulang tahun.
“Sepertinya yang ada gambar tengkoraknya.”
“Apa menurutmu Rin itu aneh?” Hana tidak pernah melihat ada anak bayi yang menyukai tengkorak seperi Rin. Skull mania.
“Rin itu tidak aneh. Ia unik. Ia mungkin berbeda dengan bayi-bayi di luar sana. Mungkin ia yang jadi bayi pertama di dunia yang menyukai tengkorak. Mungkin kita harus daftarkan Rin di Guiness Book of Record?”
Hana mulai menyiapkan pesta ulang tahun Rin yang pertama. Ia memilih kue dengan bentuk tengkorak.
“Bagus yang mana, ya?” Hana menanyakan dua desain yang ia masih bingung untuk memilihnya.
“Rin itu suka warna pink, Ma.” Rei menunjuk kue tengkorak berwarna pink.
Hana masih beruntung Rin masih menyukai warna pink. Setidaknya Rin masih ada sisi girly-nya.
Saat ulang tahun Rin yang pertama ...
Mereka bernyanyi lagu ulang tahun untuk Rin.
🎶🎶🎶
Happy birthday to you.
Happy birthday to you.
Happy Birthday.
Happy birthday to you.
🎶🎶🎶
“Tiup lilinnya, Rin.”
Rin berusaha meniup lilin yang menyala di atas tengkorak.
“Huh ... Huh ...” Rin tidak berhasil mematikan lilin.
Dibantu dengan Rei dan Rio lilin pun padam.
Mama Berta sudah menyiapkn berbagai masakan di meja makan. Mereka pun makan. Mama Berta juga ikut makan bersama di meja makan yang sama.
Biasanya maid, pelayan atau pembantu makan di meja yang berbeda atau di dapur. Tapi berbeda dengan kelurga Hana. Mereka sudah menganggap mama Berta itu keluarga mereka. Ia seperti seorang ibu bagi Hana dan Lucas. Ia sudah seperti nenek bagi Rei, Rio dan Rin.
“Masakan Abuela enak.” Rei dan Rio memuji makanan buatan mama Berta. Mama Berta merasa senang ia bisa bekerja di rumah Hana. Tidak seperti dulu saat ia bekerja. Ia selalu direndahkan karena ia berasal dari Meksiko. Karena ia penduduk gelap ia harus selalu waspada. Jika polisi menangkapnya, ia bisa dideportasi dan harus kembali lagi ke Meksiko dan ia tidak mau itu.
Tapi yang jadi kekuatiran mama Berta adalah jika keluarga Hana pulang kembali ke Indonesia. Apakah ia akan ditinggal? Tidak mungkin Hana membawanya ke Indonesia juga.
Tapi diam-diam sebelum mama Berta tidur, ia mempelajari bahasa Indonesia dari Youtube. Usianya yang tidak mudah lagi membuatnya kesulitan menghafal. Tapi ia tidak pantang menyerah. Ia terus mengulangi dan mengulanginya lagi.
Saatnya pengambilan barang. Mengadaptasi dari budaya di luar, Hana mengadakan acara pengambilan barang.
Rei sudah menaruh ponsel di baki. Rio menaruh konsol game. Lucas tentu saja menaruh stetoskop yang mewakili profesi dokter. Nenek Lucy menaruh high heels tanda penari. Lukman menaruh pisau mainan. Hana menaruh mic. Robert juga menaruh pulpen bergambar tengkorak. Tapi Hana langsung mengambilnya dari baki. Ia tahu Rin pasti mengambil pulpen itu. Tapi Robert menaruhnya kembali di detik-detik saat pengambilan barang. Semua yang menaruh barang berharap Rin akan mengambil barang yang mereka taruh.
Tidak disangka oleh semua orang Rin mengambil high heels.
Ha? High heels.
Semua saling berpandangan. Padahal semua menduga Rin akan mengambil pulpen tengkorak itu. Lucy yang senang karena Rin mengambil high heels.
“Nenek bakal ajarin Rin cara-cara menari.” Lucy akan menurunkan semua ilmunya ke Rin. Ia dulu seorang penari tetapi setelah menikah dengan Lukman, ia menjadi ibu rumah tangga.
Mereka dulu bertemu saat Lukman belajar di Amerika. Lukman mengisi waktu senggangnya dengan menonton pertandingan menari. Hanya iseng-iseng saja. Tapi saat Lucy yang masih berusia dua puluh tahun masuk untuk menari bersama pasangannya, Lukman langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Mata Lukman selalu melihat setiap gerakan Lucy. Bahkan sampai saat Lucy selesai menari. Lucy tidak melihat Lukman tapi partner menari Lucy melihatnya.
“I think he likes you.” Partner menari Lucy memberitahu Lucy.
Lucy melihat Lukman. Ia merasa biasa-biasa saja. Tapi partner menari Lucy mengambil inisiatif untuk membuat mereka bisa berkenalan. Partner Lucy mendekati Lukman dan membawa Lukman ke tempat Lucy duduk.
“I’m Lukman.”
“I’m Lucy.”
Setelah itu Lukman hanya diam karena gugup. Lucy yang memulai pembicaraan.
“Where are you from?”
“I’m from Indonesia.”
“Where’s that?”
“Do you know Bali?”
“Yes. I've been there before.”
“Bali is in Indonesia.”
Dari sana Lukman memberanikan diri mengajak Lucy dinner. Lucy menganggap Lukman sebatas teman. Tapi saat Lukman memasak untuknya, Lucy jatuh cinta. Pria yang bisa memasak itu menurutnya sangat seksi.
Jika biasanya wanita mengambil hati seorang pria dengan masakan buatannya tetapi tidak dengan kasus Lucy dan Lukman. Mereka sebaliknya.
Kembali ke saat ini ...
Rin ingin memakan cake ulang tahunnya. Hana membelah cake dan memberikan seiris untuk masing-masing orang. Rei dan Rio yang memang menyukai cake minta tambah.
“Cuma bisa satu potong lagi. Papa nanti marah.”
Karena Lucas seorang dokter, ia ingin anak-anaknya mengutamakan pola hidup sehat. Demi mereka juga. Dengan badan yang sehat, apa-apa yang ingin dikerjakan akan mudah.