Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 12 Dia Anakku?



“Hana ...” Lucas memegang tangan Hana. Ia tak ingin berpisah dari Hana. Juga anak-anaknya.


“Aku tetap ingin cerai.” Hana sudah memantapkan hatinya. Dibawah pengaruh alkohol atau tidak, Lucas tetap bersalah karena ia tidur dengan wanita lain saat dirinya masih dalam status pernikahan.


“Aku yakin anak yang dikandung Maria itu bukan anakku.”


“Tapi tetap saja kau sudah tidur dengannya. Kalau aku yang tidur dengan pria lain, apa kau masih mau memaafkanku?”


Kalimat yang dikatakan Hana barusan menohok Lucas. Tentu saja ia akan marah besar bila Hana tidur dengan pria lain.


“Maafkan aku ...”


“Semua sudah terjadi.”


Lucy mengajak Hana dan anak-anak untuk tinggal di rumahnya sementara waktu. Setidaknya emosi Hana bisa mereda dan Hana bisa berbicara baik-baik dengan Lucas. Lucy dan Lukman juga sangat marah dengan Lucas. Bisa-bisanya Lucas tidur dengan wanita lain.


Hana menuruti permintaan Lucy. Ia dan anak-anak bermalam di tempat Lucy.


Keesokkan harinya ...


Hana mulai mengurus berkas-berkas perceraian. Ia tidak bisa memaafkan Lucas.


Pihak pengadilan lalu mempertemukan Hana dan Lucas. Pihak pengadilan berusaha supaya Hana dan Lucas bisa rujuk. Tapi tentu saja tidak bisa. Lucas sudah melakukan kesalahan besar yang tidak bisa Hana maafkan.


“Saya akui saya salah. Tapi saya tidak ingin bercerai. Saya ingin menunggu sampai anak yang dikandung Maria lahir dan saya akan melakukan tes DNA. Saya sangat yakin anak Maria bukan anak saya.”


Sebenarnya tes DNA bisa dilakukan saaat janin masih berada dalam kandungan dengan mengambil cairan tertentu. Tetapi resikionya sangat besar. Bisa membahayakan sang janin.


Maria ingin tinggal bersama Lucas tapi Lucas menolaknya mentah-mentah.


“Anak ini anakmu.” Maria menyentuh perutnya.


“Aku tahu kau membohongiku. Kita lihat nanti saat bayi itu lahir. Aku yakin ia bukan anakku.”


Tapi tetap saja ada yang mengganjal di hati Lucas.


Bagaimana jika anak Maria itu benar-benar darah dagingku?


Itu artinya aku dan Hana akan bercerai.


Setelah pulang bekerja Lucas selalu mampir ke rumah orang tuanya untuk menemui anak-anaknya.


Lucas sudah menjelaskan segala sesuatunya ke Lucy dan Lukman apa yang terjadi malam itu. Sekarang mereka tinggal menunggu anak yang dikandung Maria lahir dan menunggu hasil tes DNA.


“Papa ...” Rei dan Rio menyambut ayahnya. Mereka masih tidak mengerti kenapa papa dan mamanya tinggal terpisah dan tidak tinggal bersama seperti dulu. Hana belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi ke Rei dan Rio karena merka masih kecil dan terutama karena Hana tak ingin Rei dan Rio ikut-ikutan membenci papanya.


“Pa ... Papa minta maaf sama mama. Rei mau tinggal sama papa lagi.” Rei mengira papanya berbuat kesalahan yang bisa diselesaikan hanya dengan meminta maaf.


“Rio juga mau tinggal sama Papa.” Rio ingin kedua orang tuanya tinggal bersama lagi.


Papa sudah minta maaf berulang kali tapi mama kalian belum memaafkan papa.


“Nanti papa bujuk mama lagi. Siapa tahu mama mau maafin papa.”


...🌼🌼🌼...


Maria memeriksakan kandungannya di rumah sakit tempat Lucas bekerja. Ia bercerita ke dokter kandungan yang memeriksanya. Juga bercerita ke suster di sana kalau ayah dari anaknya itu dokter di sana. Saat ditanya siapa. Tentu saja ia jawab Lucas Adiwijaya.


Adiwijaya?


Nama pemilik rumah sakit ini.


Lucas Adiwijaya itu anaknya.


Dokter Lucas?


Suster-suster mulai bergosip.


“Apa kau tahu mereka pisah rumah? Istri dan anak-anaknya tinggal di rumah Adiwijaya. Mereka menunggu anak itu lahir dan akan melakukan tes DNA."


“Pantas saja istri dokter Lucas sudah tidak pernah lagi mengantarkan makan siang untuk dokter Lucas . Ternyata dokter Lucas hamilin wanita lain."


“Ehm ... Banyak pasien yang harus diperhatikan.” Kepala bagian dokter anak membubarkan suster-suster yang bergosip.


Lucas lalu dipanggil untuk menemui direktur utama rumah sakit untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Walaupun ia anak pemilik rumah sakit tetapi ia mendapat perlakuan yang sama seperti dokter-dokter lain yang bekerja di sana.


“Apa benar berita tentang kau berselingkuh dan punya anak dari wanita lain?”


“Berita itu tidak sepenuhnya benar.”


“Jelaskan ke saya apa yang benar.” Direktur itu harus membuat keputusan yang bijak. Ia tidak boleh pilih kasih.


“Benar bahwa saya tidur dengan wanita itu. Tapi anak yang dikandung wanita itu saya sangat yakin bukan anak saya. Saya akan melakukan tes DNA begitu anak itu lahir.”


Direktur itu lalu memutuskan untuk menunggu hasil tes DNA keluar dan mengambil keputusan. Ia akan sangat kehilangan dokter Lucas karena Lucas adalah orang yang sangat berkompeten di bidangnya. Prestasinya juga luar biasa. Bahkan banyak rumah sakit lain yang merekomendasikan RS Adiwijaya sebagai rujukan karena ada dokter Lucas di RS Adiwijaya.


...🌼🌼🌼...


Maria datang ke dalam ruang kerja Lucas sambil membawa bekal untuk Lucas. Lucas langsung membuangnya ke tong sampah. Ia tidak sudi memakan makanan buatan Maria. Wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya dengan Hana.


Lihat saja nanti.


Kau akan menyesal, Lucas.


Maria yakin ia akan bisa menikah dengan Lucas dan menjadi nyonya Adiwijaya karena bayi dalam kandungannya.


...🌼🌼🌼...


Di luar rumah sakit ...


Maria bertemu dengan seorang pria. Sebut saja namanya Peter. Ia mantan pacar Maria. Peter melihat Maria yang perutnya sudah membuncit.


“Maria ...”


Jantung Maria hampir saja berhenti. Ia tidak menyangka bertemu Peter di rumah sakit.


“Kau benar-benar hamil rupanya.”


Maria merasa takut.


“Bukannya itu anakku?” Peter berbisik di telinga Maria.


Maria dulu pernah memberitahu Peter kalau ia hamil dan mengandung anaknya. Tapi Peter menolaknya mentah-mentah. Maria adalah wanita panggilan. Walaupun ia sering tidur dengan Maria, belum tentu anak yang dikandung Maria itu anaknya. Bisa jadi itu anak klien Maria.


“Ia bukan anakmu. Ia anak orang yang sangat kaya. Tidak miskin sepertimu.”


Peter tidak memiliki pekerjaan. Ia mengandalkan penghasilan Maria untuk hidup sehari-hari. Dan sekarang setelah berpisah dari Maria ia masih sama. Mengandalkan tampangnya dan memacari wanita-wanita kaya.


“Aku sudah tidak miskin lagi. Kau lihat pakaianku sekarang.”


Maria melihat pakaian yang dikenakan Peter. Maria tahu pakaian itu pakaian bermerk. Atasan yang dikenakan Peter keluaran Gucci. Celananya merk Louis Vuitton. Belum lagi sepatunya. Belum lagi aksesoris-aksesoris seperti arloji, kalung dan gelang. Harganya bisa-bisa seratus juta rupiah untuk outfit yang dikenakan Peter.


“Peter ...” Seorang wanita mendekati Peter.


“Siapa dia?” Wanita itu bertanya ke Peter.


“Ia bukan siapa-siapa.” Peter menggenggam tangan wanita itu dan berjalan menuju rumah sakit.


Maria geram. Ia sudah seperti habis manis sepah dibuang. Maria menyentuh perutnya. Ia tak ingin anaknya mempunyai kelakuan yang sama seperti ayahnya, Peter.