
Hana memukul kepalanya dengan kepalan tangannya dengan pelan untuk menyadarkan dirinya.
Kok bisa-bisanya aku berpikir seperti itu? Jangan terlalu baper.
"Ada apa?" Sebastian bingung dengan tindakan Hana.
"Tidak ada apa-apa." Tidak mungkin Hana menceritakan apa yang ia pikirkan saat ini.
Hana, pikirkan Ren. Bukan yang lain.
Selesai makan, Hana dan Ren pamit pulang. Ricka yang sedari tadi dipangku Sebastian tidak mau pisah dengan Sebastian.
"Mama sama Kakak Ren mau pulang. Om Sebastian pasti sibuk. Ayo pulang." Hana berusaha membujuk Ricka.
Tapi Ricka menolak.
"Mama pulang. Kakak Ren juga pulang." Hana menggandeng Ren dan berpura-pura pergi meninggalkan Ricka. "Bye ... Bye ..."
Tapi Ricka tambah lengket dengan Sebastian.
"Mungkin tunggu Ricka tidur dulu, baru bisa dibawa pulang," saran Sebastian. Naluri kebapakan Sebastian muncul saat ia bersama Ricka.
"Om Sebastian harus latihan sepak bola sama teman-temannya." Hana berusaha membujuk lagi.
"Tidak apa-apa. Hari ini aku tidak sibuk. Tidak ada jadwal lainnya." Sebastian tidak keberatan.
"Tapi kau harus beristirahat." Tapi sepertinya Hana gagal. Mau tak mau ia menunggu sampai Ricka mau lepas dari Sebastian.
Tak butuh waktu lama, Ricka lalu tertidur. Hana menggendong Ricka. "Terima kasih. Kami pulang dulu."
"Aku antar sampai parkiran."
"Tidak usah."
"Tapi Mama nggak ingat jalan. Yen juga." Ren merasa ia butuh Sebastian untuk menuntun mereka ke tempat parkir. Ren takut jika mereka tersesat di stadion yang luas ini.
Akhirnya Sebastian menemani mereka sampai tempat parkir. Sebastian menaruh Ren di pundaknya.
"Mama, Yen jadi tinggi." Ren memegang kepala Sebastian.
"Ren diturunkan aja. Nanti pundakmu sakit." Menurut Hana tubuh seorang atlet itu asetnya. Tidak boleh ada cedera.
Mereka tiba di tempat parkir. Sebastian menurunkan Ren.
"Bilang terima kasih sama Om."
"Teyima kasih Om. Yen pulang dulu." Ren masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih. Kami pulang dulu." Hana juga pamit.
"Bye ... Bye ..." Ren menurunkan jendela mobil dan melambaikan tangannya dari dalam mobil.
Mobil mereka menuju ke rumah.
Hana menaruh Ricka ke box bayinya.
"Hah ..." Hana menghembuskan nafasnya. Ia ingin berebah. Ia tahu ia tidak melakukan sesuatu yang berat. Tapi ia ingin berbaring sejenak.
Hana berbaring di ranjangnya. Ia memegang ponselnya. Mencari berita tentang Sebastian.
Ada foto masa lalu Sebastian bersama seorang wanita.
Cantik. Tapi kok mirip aku, ya?
Hana bisa melihat ada kemiripan dirinya dengan wanita itu. Ia juga melihat keakraban di antara Sebastian dan wanita itu.
Apa mereka masih berhubungan?
Hana yang kepo mencoba mencari berita tentang Sebastian.
Eh?
Hana terkejut saat melihat berita tentang Sebastian. Sebastian tidak mengenal siapa ayah dan ibunya. Ia dibesarkan di panti asuhan.
Yakin dengan bakatnya di bidang sepak bola, Sebastian memutuskan untuk menjadi pemain bola. Dengan tekad dan kerja kerasnya, Sebastian berhasil menjadi pemain sepak bola yang sukses seperti sekarang.
Klub sepak bola luar negri juga mulai melirik Sebastian. Tapi Sebastian belum memutuskan apakah ia akan tetap di Indonesia atau mencoba peruntungan di luar negri.
Sebastian pasti bisa. Postur tubuh Sebastian yang tinggi ditambah skill sepak bola yang mumpuni pasti bisa bersaing dengan klub luar negri.
Semoga Sebastian bisa ketemu agen yang tepat yang bisa memaksimalkan potensi Sebastian.