
"Nanti aku mau kirim bunga buat Ren." Komen dari penonton live.
"Kakak teyima kasih. Yen suka bunga. Tapi Yen lebih suka yang bisa dimakan." Ren ingin menegaskan pilihannya.
"Nanti Ren tambah gendut." Komen yang lain.
"Nggak pa pa. Kata mama Yen jadi imut," ucap Ren.
Rayhan datang. Hana mengantarkan Rayhan masuk ke ruang tari yang jadi tempat Rei mengadakan live instagram. Biasanya Rei mengadakan live instagram di kamar. Tetapi karena banyak orang, maka dipindahkan ke tempat yang lebih besar.
"Kaka ..." Ricka langsung mendekati Rayhan. Ia memeluk Rayhan. Ren juga mendekati Rayhan karena bungkusan yang Rayhan bawa.
Rayhan memberikan bungkusan itu ke Ren.
"Teyima kasih Kakak. Yen boleh makan?" Ren ingin makan donat yang dibawa Rayhan.
"Boleh." Rayhan duduk sambil memangku Ricka.
Ren memulai acara mukbang donatnya. Mulut dan pipinya cemot. Rin membersihkan pipi Ren dengan tisu.
Penonton live semakin bertambah. Fans dari Rayhan juga ikut menonton.
Komen dan pertanyaan datang satu persatu.
"Rio hebat." ketik penonton.
"Terima kasih." Rio senang dengan pujian yang ia dapat.
Siaran live berakhir.
"Kakak, kita ke rumah papa Richard." Ren menggandeng tangan Rayhan. Ia ingin bermain perosotan raksasa di sana.
Ricka juga ikut. Ia menggandeng tangan kiri Rayhan. Rin, Matthew dan Mark berada di belakang.
Mereka berenam menuju rumah Richard. Kebetulan Richard baru datang.
"Papa." Ricka berlari menuju Richard. Richard langsung menggendong Ricka.
"Papa Yicat, Yen sama Kakak Kakak mau main."
"Masuk aja."
Mereka berlima mulai bermain. Awalnya Richard berencana menaruh perosotan raksasa di luar tetapi setelah beberapa pertimbangan, ia memutuskan untuk menaruhnya di dalam rumah.
Richard merasa jika perosotan ditaruh di luar akan lebih cepat kotor dan jika hujan juga tidak bisa dipergunakan.
Ren membantu Ricka naik perosotan. Ricka mulai meluncur. "Papa ..." Ricka memanggil Richard.
"Kaka ..." Ricka memanggil Rayhan yang berada di bawah perosotan.
Rayhan lalu pamit pulang. "Bye bye."
"Bye bye."
Di dalam kamar. Hana dan Lucas sedang berbincang-bincang.
"Ricka sekarang lebih dekat sama Rayhan," ucap Hana sambil melihat Lucas.
"Mungkin Ricka merasa Rayhan itu lebih mirip dirinya."
"Maksudnya?"
"Kulitnya Ricka agak coklat kan. Sama seperti Rayhan."
Hana jadi teringat sesuatu. "Bisa jadi. Aku pernah lihat Ricka pakai banyak bedak di wajah, tangan dan kakinya. Kadang Ricka bandingin kulitnya sama yang lain."
"Hana, kau sudah dengar dari Richard?"
"Ada apa?"
"Sepertinya perusahaan Richard akan dipusatkan di Amerika."
"Artinya perusahaan kak Richard lagi berkembang. Bagus itu."
"Tetapi kalau ia pindah ke Amerika ada kemungkinan ia akan bawa Ricka."
Air Hana langsung menetes. "Tetapi sesuai perjanjian, Ricka boleh tinggal sama aku sampai ia umur sepuluh tahun."
Lucas memeluk Hana. Ia berbisik di telinga Hana. "Sory. Jangan menangis lagi. Aku tadi boong."
Hana langsung mencubit perut Lucas. "Hal seperti itu jangan jadi bahan bercanda. Aku nggak sanggup pisah dari Ricka jauh-jauh. Kau tahu sendiri kan kalau Ricka nginap di rumah papanya, aku nggak nyaman tidurnya mikirin Ricka."
"Sory. Sory."
Mereka berdamai lagi.
Lucas menunjukkan skenario yang ia pilih untuk Rin. "Ada tawaran main film untuk Rin. Tapi ia harus ikut audisi."
"Bukannya artis cilik sekelas Rin tidak perlu audisi lagi." Rin sudah sering wara wiri di layar kaca dan layar bioskop.
"Tapi sepertinya mereka mencari potensi lain juga."
"Apa skenarionya sebagus itu?"
"Di antara skenario yang lain. Ini yang terbaik."
Hana mulai membaca halaman demi halaman skenario dengan cepat. "Rin harus main film ini."