Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 38 Hansaplast



"Keren ..." Rio menyebut Ren. Ia sedang bermain bersama Ren.


"Cepet gede, ya, Keren. Biar kita bisa main sama-sama." Rio sudah tidak sabar ingin bermain bersama Ren. Ia ingin mengajari Ren berbagai hal yang ia ketahui.


"Rio, panggil Rei." Lucas akan mengantar Rei dan Rio ke sekolah.


"Rei, Papa sudah mau antar kita ke sekolah." Rio mengetuk pintu kamar Rei.


"Bentar ..." Rei memulas lip balm di bibirnya. Ia mengambil tas lalu keluar kamar. Mereka lalu berangkat ke sekolah.


Di sekolah, Rei langsung gabung dengan teman-temannya. Sedangkan Rio mencari sahabat baiknya.


"Hans ..." Rio memanggil teman satu kelasnya. Tapi sang empunya nama seperti tidak mendengarnya.


Hans kecil-kecil tuli?


"Hansaplast ..." Rio bersuara lebih keras lagi. Hans akhirnya menoleh ke belakang. Ia mendekati Rio.


"My name is Hans. Not hansaplast."


"Hansaplast is delicious food in Indonesia." Rio membohongi Hans.


Hans tidak langsung percaya perkataan Rio. Ia searching di google. Ia mengetik kata hansaplast. Hanya ada gambar plester seperti yang ia tahu.


"You're lying, right?" Hans sudah tahu karakter Rio. Ia menunjukkan ponselnya.


"He ... he ... You know me." Rio tersenyum. Mereka lalu berjalan berdua menuju kelas.


"Your sister, Rei."


"Yes."


"Is she had a boyfriend?" Hans bertanya.


"You like her?" Rio tidak langsung menjawab. Ia malah bertanya balik ke Hans. Hans hanya diam. Ia menyukai Rei. Ia juga menyukai video-video Rei.


"I can help you if you like her."


"Really?"


"But another guy like Rei too."


"Is Rei like him back?"


"Maybe a little. But you know my father. He is so strict. So you must ..." Rio memberi kiat-kiat untuk Hans.


"What!?" Hans tertipu lagi. Tadi Rio memberitahunya untuk men-tanning kulitnya jadi gelap. Rio tadi bilang kalau Rei suka pria dengan kulit eksotis.


"You're lying again."


Guru matematika mereka datang. "Good morning. Okay, class. Now we had test."


"What!?" Murid-murid terkejut. Mereka mendapat tes dadakan. Tetapi tidak dengan Rio. Ia santai saja mengerjakan soal matematika. Sepertinya otak genius Lucas menurun ke dirinya. Sekali gurunya menerangkan, ia langsung mengerti.


Hampir semua nilai Rio sempurna. Ia bahkan terkadang sengaja salah mengerjakan satu atau dua soal.


Murid-murid lain menggerutu. Mereka belum siap. Selesai test dadakan, mereka disuruh mengerjakan soal yang terdapat di buku paket. Sedangkan guru mereka menilai lembar ujian mereka.


Guru lalu memanggil setiap murid. Dimulai dari yang paling tinggi. ""Rio, excellent. Your score is perfect."


Rio mendapat nilai A+. Semua jawabannya benar. Hans menunjukkan jempolnya ke Rio. Kemudian guru memanggil siswa lain. Hans dipanggil setelah urutan ke lima belas. Dulu sebelum Hans mengenal Rio, ia selalu dipanggil paling belakang. Nilai-nilai di sekolahnya paling rendah.


Saat Rio baru saja datang di Amerika dan menjadi murid baru, ia tidak mempunyai teman. Semua teman-teman sekelasnya sudah mempunyai teman. Sedangkan Rei langsung dikelilingi fansnya. Hanya Hans yang mau berkenalan dengannya.


"Hello. My name is Hans. What is your name?" Hans menjulurkan tangannya.


Rio melihat Hans. "My name is Rio." Rio menyambut tangan Hans.


"You not from America?"


"I'm from Indonesia."


Sejak perkenalan itu mereka berteman. Hans juga sering berkunjung ke rumah Rio. Ia menjadi sangat sering datang jika nenek Lucy dan kakek Lukman ada di rumah Rio. Ia bisa makan enak.


Tapi nilai-nilai Hans saat itu sangat rendah. Ia sering dimarahi oleh ibunya. Rio yang ketika berkunjung ke rumah Hans, sering mendengar amarah ibu Hans.


"You're stupid. How can you get this ugly grade. You useless." Ibu Hans memaki anaknya.


"I'm sorry you hear that." Hans merasa tidak enak hati saat Rio harus mendengar ibunya memarahinya.


"I'll teach you." Rio hendak mengajari Hans.


"Nobody stupid. And you're not stupid. Now you had a bad grade but if you want to learn, you'll had good grade."


Rio mengajari Hans lagi dan lagi. Perlahan nilai-nilai Hans membaik. Nilainya sekarang berada di tengah-tengah.


Jam istirahat. Mereka lalu ke kantin. Hans menatap Rei yang sedang makan siang bersama teman-teman perempuannya.


Rio melihat Hans. "If you like my sister, tell her." Rio menyemangati Hans. Menurut Rio Hans itu anak baik. Ia akan menerima Hans jadi kakak iparnya.


"You may feel regret if you only keep it in your mind. You know? Rei got a lot declaration of love from men." Rio sengaja memanas-manasi Hans.


Hans akhirnya memberanikan diri bilang ke Rei kalau ia menyukai Rei. Ia menulis surat cinta. Hans menulis beberapa kata. Ia membaca tulisannya.


Not good. ~ Hans merobek kertas yang sudah ia tulis.


Hans menulis lagi. Membacanya. Merobeknya lagi. Begitu seterusnya. Tong sampah di kamarnya sampai penuh. Ayah Hans datang ke kamar Hans. Ia melihat kamar anaknya penuh dengan gumpalan kertas. Ia mengambil satu gumpalan kertas lalu membukanya dan kemudian membacanya.


"You need advice to write love letter?"


"Dad ..." Hans terkejut saat tahu ayahnya sudah ada di kamarnya. Ia tadi terlalu fokus dengan surat cintanya. Ayah Hans lalu memberi beberapa kiat.


"Tulis aja yang simpel-simpel. Yang penting ia tahu kalau kamu suka sama dia."


Hans mulai menulis lagi. "Like this?" Ia menanyakan pendapat ayahnya. Ayah Hans membaca surat cinta yang dirilis anaknya.


Rei ...


I love your dance.


I love your video.


And I love you.


Can you love me back?


"I think It's okay."


Hans melipat kertas dan menaruhnya amplop. ~ I hope Rei like me too.


Hans berharap Rei juga punya perasaan yang sama.


Hans menitip surat itu ke Rio. Tapi ditolak oleh Rio. Rio meminta Hans untuk menyerahkannya sendiri ke Rei.


Saat Hans berada di rumah Rio, ia ragu-ragu. Ia terus melihat Rei. Saat matanya dan mata Rei bertemu ia langsung buang muka. Ia masih malu. Saat ia hendak pulang, ia langsung menyerahkannya dan kabur begitu saja. "Rei, this is for you."


Rei membuka surat itu.


What is this?


Apa ini?


Kenapa Hans kasih aku kertas ulangannya?


Nilainya F lagi.


F itu ...


Apa artinya?


Tadi saat Rei membuka amplop yang diberi Hans, ia hanya melihat kertas ulangan milik Hans.


Rio hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. ~ Hans bodoh.


Keesokkan harinya.


Hans bertanya ke Rio. Apa jawaban Rei.


"Rei talk to you about that letter?" Hans bertanya.


"No." Tentu saja Rio tidak mendengar komentar apa-apa dari Rei. Lah, Hans salah kasih surat.


"Why?"


"Why? You give her your test paper. And you know the score of the test paper is F."


What?! ~ Hans lalu membuka tasnya. Ia melihat ada amplop serupa di tasnya.


Aku salah kasih amplop ke Rei.