Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 42 Home Shopping



Lucas sudah menandatangani kontrak kerjasama dengan A+ entertainment sebagai orang tua Rin. Lucas menambahkan satu poin yaitu sewaktu-waktu ia bisa mengubah kontrak jika dirasa perlu walaupun sebenarnya Lucas sudah puas dengan semua poin kontrak.


Rin akan mendapatkan 50% dari pendapatan dan A+ entertainment 50% dengan syarat A+ menanggung semua biaya Rin dari pakaian makanan, transportasi dan lain-lain.


Rin mendapat job pertama untuk menjadi model di home shopping yang akan menjual peralatan sekolah dengan target anak SD.


"Rei, bisa ajari Rin bergaya di depan kamera. Besok ia ada syuting home shopping." Hana meminta bantuan Rei yang sudah pernah melakukan live promo di Instagram.


Rei lalu mengajari Rin. "Rin harus selalu senyum di depan kamera. Senyum."


Rin tersenyum.


"Produknya apa aja, Ma?" Rei bertanya.


"Perlengkapan sekolah. Ada tas, ada buku, ada alat bantu belajar."


Rei lalu memasangkan tas ransel mungil ke punggung Rin. "Rin loncat-loncat. Biar kelihatan gemesnya."


Rin melakukan apa yang disuruh kakaknya.


"Rin bisa kok, Ma." Rei sudah mengajari Rin.


"Tapi mama khawatir kalau Rin bakal nangis di lokasi syuting."


"Mama nggak usah khawatir. Rin itu nggak penakut. Kerangka manusia aja ia peluk, apalagi orang asing. Pasti Rin penasaran sama alat-alat di lokasi syuting."


Keesokkan harinya Ronald menjemput Hana dan Rin. A+ entertainment hanya punya satu karyawan saja yaitu Ronald. Jadinya Ronald selain sebagai CEO ia juga merangkap sebagai manajer karena baru Rin yang bergabung di entertainment miliknya.


Di lokasi syuting apa yang menjadi dugaan Rei terbukti. Rin melihat berbagai peralatan asing yang belum pernah ia lihat.


"Ini apa?" Rin menunjuk satu peralatan.


"Ini ..." Staff di lokasi syuting memberitahu Rin. Rin lalu berjalan menuju staff yang memegang peralatan lainnya. "Ini apa?"


"Ini ..."


"Rin ... Sini. Jangan ganggu om yang lagi kerja. Rin mau di make up." Hana memanggil Rin yang penasaran.


Rin lalu menghampiri Hana. Hana mendudukkan Rin di kursi untuk di make up. Pertama-tama rambut Rin diikat dua ekor kuda di kiri dan kanan. Kemudian wajah Rin di make up natural. Rin lalu mengganti bajunya dengan baju untuk syuting.


Rin mulai berlatih dengan host wanita yang akan mempromosikan produk yang dikenakan Rin.


"Rin berjalan lalu duduk di sofa mini. Pura-pura baca buku." Pengarah acara memberitahu Rin.


Rin lalu berjalan sambil membawa tas ransel. Ia duduk. Tapi ia kesulitan membuka ransel. "Mama ..." Ia meminta bantuan Hana.


"Kalau sudah syuting, Rin nggak boleh panggil mama lagi."


Akhirnya adegan dirubah menjadi Rin berjalan sambil membawa ransel dan memegang buku. Rin pura-pura membaca buku.


Syuting lalu dimulai. Host wanita mulai mempromosikan peralatan sekolah. "Sebentar lagi anak-anak masuk sekolah. Anaknya pasti pengen punya tas baru, buku baru dan peralatan menulis yang baru. Buruan beli mumpung ada promo buy 1 get 1. Hubungi telepon di bawah ini. Stok terbatas."


Rin mulai masuk sambil membawa ransel dan memegang buku. Ia lalu duduk membaca buku. Kamera mengarah ke Rin. Rin tiba-tiba mengucapkan warna dalam bahasa Inggris. "Yed, Oyange, Yeyyow, Gyeen, Byue, ..." Kamera meng close up wajah Rin.


Host wanita melakukan ad lib "Mau dong anaknya pinter bahasa Inggris. Kebetulan ada gadget yang bisa bantu anak-anak ibu di rumah." Rina, host wanita itu memperlihatkan gadget yang bisa membantu anak-anak belajar bahasa Inggris.


Telepon langsung masuk. Banyak yang membeli gadget itu. Seketika itu juga gadget itu langsung sold out.


Syuting berakhir. Yang empunya barang puas, pengarah acara puas, apalagi host wanita.


"Untung aja Rin tadi ngomong bahasa Inggris."


Setelah berfoto bersama mereka lalu berpamitan.


Di mobil. Ronald mengantar Hana dan Rin pulang.


"Klien puas barang yang dijual sold out. Rin bakalan dapet job lagi."


"Ronald, bentar." Hana ingin Ronald menepi. Ia melihat Laura, temannya sedang memperhatikan lowongan pekerjaan.


Apa Laura lagi cari kerjaan?


Hana turun dari mobil. "Laura."


"Apa kau mencari pekerjaan?"


"Hana, kita nggak bisa parkir lama-lama di sini." Ronald sedikit berteriak. Hana lalu menggandeng Laura masuk ke mobil. Ronald mulai melajukan mobilnya.


"Kalau kau butuh pekerjaan, aku bisa bantu. Kebetulan aku lagi cari baby sitter buat Ren. Rencananya aku mau bawa Ren saat Rin ada job."


Laura berpikir sejenak.


"Maaf. Kamu pasti nggak mau, ya?" Hana mengira Laura ia rendahkan dengan pekerjaan baby sitter.


"Aku mau." Laura menjawab cepat. Ia butuh uang jadi ia harus segera mendapatkan pekerjaan.


"Besok datang ke rumah, ya."


Ronald lalu mengantar Laura sampai depan rumah. Ronald lanjut mengantar Hana dan Rin pulang ke rumah.


"Hana, kau nggak takut?"


"Takut apa?"


"Baru-baru ini ada kejadian baby sitter jadi pelakor sampai nikah sama majikan."


"Aku percaya sama Laura. Aku juga percaya sama ..."


"Kau masih ragu dengan Lucas, kan?" Sedikit banyak Ronald tahu kejadian Maria.


Hana berpikir sejenak. Ia tidak berpikir sejauh itu.


"Kau harus membicarakannya dengan Lucas. Lucas itu seorang pria. Jika dikasih ikan asin gratis tentu saja ia mau."


"Emangnya Lucas itu kucing." Hana tersenyum.


"Ibaratnya ..."


Di rumah.


Lucas mendekati Hana tapi ia menjauh. Padahal bibir mereka tadi hendak bertemu.


"Aku pasti masih bau daun bawang. Tadi Ronald traktir mi ayam. Daun bawangnya aku habisin. Aku sudah minum air putih. Aku juga sudah sikat gigi tapi masih bau daun bawang." Hana mencium bau nulutnya sendiri.


"Rin tadi bagaimana?"


"Syutingnya berjalan lancar." Hana berjalan mengambil permen untuk menghilangkan bau daun bawang di mulutnya.


"Produk yang paling mahal sold out duluan gara-gara Rin nyebut warna dalam bahasa Inggris."


"Gadget yang ini, kan?" Lucas memperlihatkan gadget yang dipromosikan saat syuting.


"Kau beli juga? Aku tadi dapet gratis satu." Hana ikut memperlihatkan gadget yang ia dapat secara gratis.


"Buang-buang uang, dong aku beli ini."


"Nggak buang-buang uang. Sumbangkan aja ke rumah sakit. Biar anak-anak yang dirawat inap dapet hiburan dari gadget itu."


"Oh, iya. Aku lupa. Aku sudah dapat baby sitter buat Ren."


"Siapa?"


"Laura."


"Laura? Temanmu? Ia mau jadi baby sitter nya Ren?"


"Awalnya ia ragu. Tapi ia mau. Sepertinya ia lagi butuh uang. Besok aku mau tanya apa ia ada masalah. Paling tidak bisa mengurangi sedikit bebannya."


"Tapi jangan dipaksa kalau orangnya nggak mau ngomong. Kamu itu kepo orangnya.."


"Aku kepo?"


"Sedikit." Lucas meralat ucapannya. Ia tak boleh membuat hati Hana tersinggung. ~ Mulut, mulut. Berbicaralah yang sopan dengan ibunda Ratu. Bisa-bisa nanti malam nggak dapet jatah.