Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 87 Aku Bisa Berjalan



Hari ini Hana hendak menemani Richard pergi ke tempat praktek Mr. Lee. Rin dan Ren melihat Hana yang rapi dan memakai lipstik dan baju bagus.


"Ikut." Rin dan Ren berbicara bersamaan. Mereka memasang puppy eyes yang membuat Hana menjadi luluh. Rencananya pulang dari klinik, Hana balik menjemput mereka untuk ke Sea World.


"Nanti mama balik lagi. Mama sekarang mau temanin om Richard ke klinik." Hana beralasan.


"Ikut." Rin dan Ren tetap ngotot ingin ikut.


"Tanya om Richard dulu. Boleh ikut apa nggak."


Rin dan Ren lalu mendekati Richard. Memasang puppy eyes lagi.


"Ganti baju dulu," kata Richard.


Rin dan Ren lalu masuk kamar dan mengganti baju mereka. "Biyu." Rin dan Ren berkata bersamaan.


"Baju couple?"


Rin dan Ren memakai pakaian dengan warna senada. Wajah mereka terlihat mirip. Jika saja Ren sedikit lebih tinggi, mereka bisa dibilang anak kembar.


Di mobil Ren yang duduk di baby seat melihat keluar jendela. Ia melihat pria mengacungkan jari tengahnya saat mereka berada di lampu merah.


Ren mencoba menirukannya. Ia mulai menggerakkan jarinya. Rin mencegahnya. "Nggak boyeh. Papa biyang itu jeyek."


Di tempat praktek Mr. Lee. Richard berbaring di ranjang pasien. Mr. Lee menusuk jarum akupunktur ke tubuh Richard. Terutama daerah kaki.


"Sakit?" Rin melihat banyak jarum.


"Nggak sakit. Rin mau coba?" tanya Richard.


Rin langsung menggelengkan kepalanya. Melihat banyak jarum ia merasa perih. Rin langsung bersembunyi di belakang Hana tapi matanya sesekali mengintip Richard.


Saat sesi terapi jarum berakhir, Richard kembali lagi ke kursi rodanya.


Tetapi ada yang aneh di kakinya. Seolah-olah ada kekuatan. Richard mencoba melangkah. Bisa. Ia bisa melangkah.


Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah sebelum akhirnya Richard jatuh.


Hana terkejut. Richard juga sama terkejutnya. Pengobatannya mulai membuahkan hasil yang baik. Di Amerika ini ia mendapatkan anak dan kesembuhan.


Setelah dari klinik mereka menuju ke Sea World. Melihat hewan laut di akuarium besar. Ren takjub. Begitu juga Rin.


Paus pembunuh melakukan atraksinya bersama pelatih mereka. Paus itu bahkan melompat, membalikkan badan sampai-sampai air memuncrat dari kolam mengenai pengunjung.


Di akhir acara mereka menyempatkan berfoto bersama anjing laut yang berukuran besar. Tiba-tiba anjing laut mencium pipi Rin.


"Geyi." Rin tertawa kecil sambil mengusap pipinya yang basah.


Setelahnya mereka berkeliling lagi melihat hewan laut lainnya.


"Hiu."


"Ubuy-ubuy." Rin bersemangat melihat makhluk laut yang selama ini hanya bisa ia lihat di buku dan TV.


"Meymaid." Tangan mungil Rin menunjuk putri duyung (manusia biasa yang mengenakan kostum putri duyung). Rin terkesima. Ia jadi percaya jika putri duyung itu ada.


Selesai berkeliling mereka lalu pulang.


...***...


Di rumah Richard mencoba belajar berjalan lagi. Satu. Dua. Tiga. Empat. Setiap hari semakin banyak langkah yang bisa ia lakukan.


Richard berpegangan pada palang panjang yang dipasang di tembok. Di sampingnya ada asisten Richard yang mendampingi jika sewaktu-waktu Richard jatuh. Richard terlihat seperti Ren saat belajar berjalan.


Sampai akhirnya Richard bisa berjalan tanpa bantuan orang lain.


"Kak." Hana merasa terharu. Ia sudah sering melihat Richard jatuh. Tapi Richard bangun dan bangun lagi. Ia ingin menjadi seperti dulu lagi.


Richard tak ingin membesarkan anaknya dalam keadaan berkursi roda. Ia ingin bisa berjalan-jalan dengan putranya kelak.


Hana memeluk Richard. Pelukan Hana berlangsung lama. Hana ikut bahagia.


"Mama, teyepon." Rin memberikan ponsel Hana. Lucas baru saja melakukan panggilan video dengan Rin. Tetapi saat ia mau video call dengan Hana, ia malah melihat Hana berpelukan dengan Richard.


Hana melepas pelukannya. "Lucas, kak Richard bisa jalan lagi." Ada nada bahagia dari perkataan Hana.


"Baguslah." Lucas cemberut. Ia sudah lama tidak merasakan pelukan Hana.


"Kau cemburu?"


"Sangat. Sangat cemburu."