
"Kakak Matthew, kakak Mark. Papa beli martabak. Ayo kita makan." Ren mengajak Matthew dan Mark menuju ruang makan.
"Ren tadi bilang apa?" Matthew bertanya. Ia kira ada Marta di sini.
"Martabak," kata Ren.
Matthew dan Mark saling berpandangan. Mommy di sini?
Saat di ruang makan. Ren membuka kotak kertas berisi martabak. Harum martabak menggugah selera.
Matthew dan Mark menikmati martabak. Mereka sampai sampai menelpon Martha.
"Moommy. Lihat. Namanya Marta. Nama belakangnya Bak." Matthew memperlihatkan seperti apa makanan yang bernama seperti ibunya itu.
"It's really delicious, Mom." Matthew memakan satu potong martabak lagi.
"This is salty martabak. And this is sweet martabak. Sweet like mommy." Matthew memperlihatkan martabak manis dengan filling keju dan coklat.
Matthew lalu menyorot Mark yang juga menikmati potongan martabak manisnya yang kedua.
"Mommy, I miss you." Mark merindukan Marta.
"I miss you too." Martha juga merindukan kedua putranya. Tetapi ia juga menyadari suatu saat nanti mereka juga akan berpisah rumah ketika Matthew dan Mark menikah.
Martha memperhatikan Mark yang terlihat lesu. "Mark kenapa?"
"Mommy, nanti Mark telepon lagi habis makan." Mark ingin mendapatkan tips cinta dari Marta. Mark yakin jika Marta pasti bisa membantunya.
Ren mengambil piring lalu mengisinya dengan martabak asin dan martabak manis untuk Rin. Rin sedang berada di kamarnya. Rin sedang membaca lagi naskah untuk adegan esok harinya.
"Kakak. Yen bawain Kakak ini." Ren menaruh piring berisi camilan di meja belajar tempat Rin duduk.
"Terima kasih." Rin melihat Ren sebentar lalu fokus ke naskahnya lagi. Menghafal naskah memang mudah bagi Rin. Tetapi menjiwai naskah agar karakter kita di film bisa hidup, agak sedikit susah.
Ren juga sadar. Walau ia ingin bermain bersama Rin tetapi Rin saat ini sedang sibuk. Ren memutuskan untuk bermain sendirian.
Di kamar Matthew dan Mark.
"Mark."
"Mommy, how to make Ricka like me?" Mark ingin Ricka menyukainya.
"Mark harus bisa bikin Ricka ingat Mark terus."
"Caranya?"
"Mark harus ..." Martha memberikan beberapa tips.
Mark mulai melakukan apa yang Martha bilang.
Keesokkan harinya Matthew dan Mark ikut melihat Rin syuting. Mereka sudah diberitahu Hana agar bersikap sopan dan tenang supaya proses syuting berjalan lancar.
Rin sudah tiba di lokasi syuting sejak pagi. Ia melihat Matthew dan Mark datang. Ia memperkenalkan mereka ke Rayhan.
"Kakak Rayhan. Ini Matthew. Ini Mark," ucap Rin.
"Hello. Thank you for coming." Rayhan langsung memeluk Matthew dan Mark. Ia gemas melihat mereka yang bermuka sama.
Rayhan lalu mengambil coklat dua batang dari dalam tasnya. Satu untuk Matthew. Satu untuk Mark.
Matthew dan Mark yang sebenarnya agak cemburu dengan Rayhan. Tetapi coklat pemberian Rayhan tidak akan mereka tolak.
"Thank you," kata Matthew dan Mark bersamaan.
"Aduh. Imutnya." Rayhan betul betul gemas melihat Matthew dan Mark yang berpakaian sama.
"Rin kok bisa bedain mereka?' Rayhan bertanya.
"Kadang Rin bisa, kadang Rin nggak bisa. Tapi sekarang Matthew lebih tinggi sedikit dari Mark." Rin memberitahu Rayhan.
Rin dan Rayhan mulai bersiap-siap.
Adegan kali ini berada di rumah sakit. Mereka sudah meminta ijin untuk syuting di rumah sakit Adiwijaya. Rumah sakit milik Lukman dan juga tepat Lucas bekerja.