
Saat ini Lucas sedang menemani Hana kontrol kandungannya. Mereka sudah mengetahui jenis kelamin adik Rin yaitu laki-laki. Mereka juga sudah menyiapkan sebuah nama yaitu, Ren. Nama Ren dipilih karena nama kakak-kakaknya berawalan huruf R. Walaupun sebenarnya Lucas ingin menamai Ren dengan nama lain yang berawalan L seperti keluarganya. Mungkin nanti saat ada adik Ren.
“Apa maksud dokter?” Hana bertanya ke dokter yang sedang memeriksa kandungannya.
“Anda bisa lihat di sini.” Dokter itu menunjuk kaki Ren di layar.
Hana melihatnya. Lucas melihatnya. Dokter tadi baru saja mengatakan kalau kaki Ren dari pergelangan ke bawah tidak ada. Kaki Ren buntung.
Hana dan Lucas bagai tersambar petir. Hana langsung menangis. Sepanjang perjalanan pulang, Hana tak berhenti menangis. Sampai di rumah Hana masih menangis. Ia langsung masuk kamar. Rei, Rio, Lucy, Lukman dan mama Berta yang melihatnya bingung. Mereka menduga ada kabar buruk.
“Lucas ... Apa yang terjadi?” Lucy bertanya.
“Ma ... tadi Lucas dan Hana lihat kalau kaki Ren yang sebelah kiri dari pergelangan sampai ke bawah tidak ada.”
Lucy langsung masuk ke dalam kamar menemui Hana. Hana masih saja menangis. Sudah tidak mungkin ia menggugurkan Ren. Ia juga tidak mau itu terjadi. Ren boleh dibilang anak yang terlahir karena rasa cinta. Tapi jika Ren hidup ia akan terus diolok-olok sepanjang hidupnya.
“Hana ...” Lucy memeluk Hana. Ia lalu memandang Hana.
“Lucas tadi cerita kalau kaki Ren ...”
“Maafkan Hana, Ma.”
“Kenapa kau minta maaf?”
“Hana sudah buat mama malu.”
“Karena kaki Ren?”
Hana menganggukkan kepalanya.
“Kenapa mama mesti malu. Ren memang cacat. Tapi Hana .. Tuhan memberi kekurangan. Tapi mama yakin Tuhan akan memberi kelebihan untuk Ren. Jangan kuatir.”
“Apa Hana harus menggu-“
“Stop.” Lucy menaruh jari telunjuknya di bibir Hana.
“Ren memang masih dalam kandungan, tapi ia bisa mendengar perkataanmu. Mama dan Papa tidak malu punya cucu seperti Ren. Ren mungkin cacat tapi banyak orang di luar sana yang tubuhnya sehat tidak kekurangan apapun tapi hatinya cacat. Jangan menangis lagi. Tidak baik jika ibu hamil stress.”
Hana saat ini sangat membutuhkan dukungan moril dari orang terdekatnya. Ia merasa sedikit tenang.
Hana berpikir dan berpikir.
Apakah aku memakan sesuatu yang buruk?
Apa aku melakukan sesuatu yang buruk?
Tapi Hana tidak menemukan jawabannya. Ia merasa sudah memakan makanan yang sehat. Ia juga tidak melakukan olahraga ektrem atau aktivitas yang berbahaya.
Rei dan Rio datang. Melihat Hana bersedih, mereka juga ikut sedih.
“Ma ... kita berdoa, ya. Semoga Tuhan kasih yang terbaik buat Ren." Rei memimpin doa. Hana dan Rio mengatupkan tangannya.
“Tuhan ... saat ini ada kabar buruk dalam keluarga kami. Adik kami, Ren kaki kirinya cacat. Apa Rei boleh berdoa minta kaki kiri untuk Ren? Rei percaya Tuhan bisa melakukannya. Rei yakin itu. Apa yang tidak ada, Tuhan bisa mengadakannya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tapi jika memang Ren harus lahir dengan kaki cacat, beri kami kekuatan, ya Tuhan. Beri kami kekuatan agar kami bisa membantu Ren. Amin.”
“Amin.“ Hana dan Rio berkata bersamaan.
Hati Hana terasa lega. Walaupun ia masih memikirkannya.
Lucas masuk ke dalam kamar.
“Lucas ... Maafkan aku. Aku membuatmu malu.”
“Pertama-tama, kita harus menerima kenyataan. Kedua, teknologi jaman sekarang sangat maju. Sudah ada yang namanya kaki buatan yang canggih. Bahkan bisa bergerak seperti kaki normal pada umumnya. Aku sudah membayangkan kaki Ren akan dikagumi oleh teman-temannya.”
“Aku takut kalau Ren akan diejek karena kakinya.”
“Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain ucapkan. Terserah mereka mau ngomong apa. Tapi kita bisa mengontrol hati kita. Kita mau bersedih. Kita mau tertawa itu terserah kita. Bahkan saat kita bersedih, kalau kita mau tertawa kita bisa.”
Hana tersenyum tipis. Saat ini semuanya memberikan dukungan positif. Tapi keluarga besar ayah mertuanya dan mungkin ayahnya akan malu melihat Ren. Tapi bukankah Hana sudah dicoret dari kartu keluarga jadi keluarga ayahnya sudah tidak ada sangkut pautnya lagi.
Mama Berta membawa masuk Rin dan menaruhnya di box bayinya. Sebelum keluar kamar, mama Berta memeluk Hana.
Lucas lalu menidurkan Rin yang melihat mamanya. Ia masih kecil tapi ia tahu arti dari air mata yang keluar.
“Mama nggak pa pa. Rin tidur. Sudah malam.” Lucas menepuk-nepuk pantat mungil Rin. Tapi Rin tak kunjung tidur.Rin terus melihat Hana.
“Lucas ... Bawa Rin ke sini. Mungkin ia mau tidur sama-sama kita.”
Lucas lalu membawa Rin ke kasur mereka.
Rin melihat Hana terus.
“Rin nggak bisa tidur? Mama bacain cerita dulu, ya.”
“Rin mau dibacain yang mana?” Hana mengambil beberapa buku cerita.
Rin menunjuk buku cerita tentang cacing tanah.
Hana mengambil buku cerita yang dibuat dengan ilustrasi buatan Ryu.
Cacing tanah naik ke permukaan tanah dan melihat kagum bulu-bulu burung merak yang mengembang dengan indahnya.
Cantiknya ...
Cacing tanah melihat dirinya yang berwarna coklat polos dan bisa dibilang tidak indah.
Di hari lain, cacing tanah melihat gajah yang bertubuh besar.
Gagahnya ...
Cacing tanah melihat tubuhnya yang mungil kecil panjang. Yang dengan mudahnya diinjak-injak.
Di hari lainnya, cacing tanah melihat singa yang bersurai menampakkan wibawanya sebagai raja hutan.
Ia melihat dirinya lagi.
Aku jelek ...
Cacing tanah meratapi dirinya.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Cacing tanah menangis.
Burung hantu yang melihatnya bertanya "Cacing tanah, kenapa kau menangis?"
"Burung hantu ... Kenapa aku dilahirkan sejelek ini? Kenapa aku tidak dilahirkan dengan bulu seindah merak, bertubuh besar seperti gajah atau segagah singa?"
"Kenapa kau harus menangis? Kau seharusnya bersyukur. Karena ada kaulah mereka bisa hidup?"
"Maksud kakek?"
"Karena kau, tanah menjadi gembur. Tanaman bisa tumbuh dengan lebat. Gajah dan rusa bisa memakan tumbuhan. Bayangkan bila kau tak ada. Tumbuhan hanya ada sedikit atau bahkan tidak tumbuh sama sekali. Mereka bisa kelaparan dan mati. Semuanya diciptakan dengan maksud dan tujuannya masing-masing."
Cacing tanah merasa bersyukur. Ia bisa berbangga diri. Karena dia, tumbuhan, air dan matahari, hewan-hewan yang ia kagumi tidak kelaparan dan bisa bertahan hidup
Aku hanya harus bersyukur dan menerima diriku.
Semuanya diciptakan dengan tujuannya masing-masing.
Aku memang tidak secantik merah.
Aku memang tidak sekuat gajah.
Aku juga tidak segagah singa.
Tapi karena aku, air dan matahari, tanaman bisa tumbuh dengan subur.
Cacing tanah akhirnya masuk ke dalam tanah untuk tidur.
Saat Hana selesai membacanya, Hana jadi tersadar. Ren mungkin cacat. Ren mungkin akan diejek. Tapi Ren juga punya tujuan dan maksudnya ketika lahir di dunia ini.
Hana menepuk-nepuk pantat mungil Rin. Lucas hendak memindahkan Rin yang sudah tertidur ke box bayinya tapi Hana melarangnya.
“Malam ini aku ingin kita tidur bersama Rin.”
Mereka bertiga akhirnya tidur di ranjang yang sama.