
Mereka kemudian berjalan lagi. Akhirnya mereka bisa melihat Osaka Castle dari dekat.
Ricka mendekati Hana. "Papa." Ricka ingin memperlihatkan Osaka Castle yang megah dan indah ke Richard.
Hana menghubungi Richard. Kali ini Richard mengangkat telepon. Sepertinya ia tidak sibuk.
"Papa." Ricka melihat Richard.
"Ricka kangen Papa?"
"Nggak."
Richard sedikit shock. Sudah beberapa hari ini mereka tidak bertatap muka secara langsung dan hanya melalui video. Richard sudah merindukan Ricka. Tetapi Ricka tidak merindukan Richard.
Ricka lalu memperlihatkan kastil Osaka. "Beyi."
"Nanti Papa beliin miniaturnya."
"Iya."
Richard terkejut. Biasanya Ricka akan meminta yang asli yang persis sama seperti yang ia inginkan.
Ricka lalu memberikan ponsel yang ia pegang ke Hana. Hana berbicara dengan Richard.
"Apa Ricka nggak kangen aku? Richard bertanya.
Hana ragu untuk menjawab. Ia takut akan menyakiti hati Richard. "Sepertinya tidak Kak."
"Ricka nggak tanyain aku?"
"Nggak Kak. Ricka sibuk syuting dan bermain."
Hana mengambil nafas sebentar. "Kak, mungkin karena Kakak sibuk jadinya jarang meluangkan waktu untuk Ricka. Mungkin Ricka merasa tidak ada keterikatan dengan Kakak."
Hana tahu Richard sibuk mencari uang untuk kebutuhan Ricka juga. Tetapi seorang anak juga perlu waktu kebersamaan bersama orang tuanya.
"Aku tahu Kakak sibuk cari uang. Tapi saat ini Ricka lagi dalam masa golden age nya. Ricka akan berkembang dengan pesat."
Hana melanjutkan lagi. "Ricka memang perlu uang tapi ia lebih perlu Papanya. Jangan sampai Kakak menyesal di kemudian hari."
Richard terdiam. Ia sadar ia sering bepergian keluar negri. Ia juga jarang bertemu Ricka karena pekerjaannya.
"Terima kasih, Kak." Hana berharap Richard mengerti akan prioritasnya sebagai ayah.
Mereka memutuskan panggilan video.
"Papa." Ricka berada di dekat Lucas. Ia mengangkat tangannya. Ia ingin digendong. Lucas menggendongnya.
"Ricka capek?"
"Iya." Ricka bergelayut manja di gendongan Lucas. Ricka kemudian tertidur. Ia tampak nyaman. Boleh dibilang Ricka lebih dekat ke Lucas daripada Richard. Lucas lebih sering hadir secara fisik untuk Ricka dibanding Richard.
"Ren juga capek." Ia juga minta digendong. Tetapi tidak mungkin Lucas menggendong dua orang anak. Lucas sendiri juga sudah capek berjalan.
Jun lalu menggendong Ren. Tetapi Ren berat. Jun mulai goyah setelah berjalan seratus meter.
"Ren turun. Ren itu berat. Kasihan Om Jun. Kakinya sudah gemetar." Rin mengingatkan Ren.
"Iya, Kak." Ren turun. Ia juga takut jika Jun jatuh yang mengakibatkan ia akan ikut jatuh juga. Ia tidak mau terluka.
Mereka berjalan lagi.
"Takoyaki." Rin membaca menu di stand makanan. Dan ada menu takoyaki lagi di stand yang lain.
"Ren mau takoyaki." Ren mau makan lagi.
"Ren beli satu porsi aja." Hana memberi uang. Ren mendekati stand yang menjual takoyaki satu persatu. Ia mendekat untuk mencium aroma takoyaki. Dengan yakin ia memilih aroma yang menurut hidungnya adalah aroma terbaik.
Yang ini yang paling harum.
Ren mulai antri seperti yang diajarkan Rin. Selesai membeli Ren mulai makan. Selesai makan ia tidak membuang sampah sembarangan. Saat ia ingin membuangnya ke tempat sampah, ia tidak menemukan tong sampah.
"Kakak Yin. Tong sampahnya nggak ada."
"Ren pegang dulu. Nanti kalau ketemu tong sampahnya, baru Ren buang."
"Iya."
Mereka berjalan lagi.