
Di apartemen Alex.
Alex membicarakan sesuatu dengan Lucas. Tentang rencananya untuk mengajari Rio tentang perusahaannya. Ia ingin mewariskan usaha IT-nya ke Rio.
"Alex. Kamu masih muda. Kamu masih bisa menikah dan punya anak lagi," ucap Lucas.
"I know (Aku tahu). Tapi aku hanya tidak ingin menikah atau punya anak lagi." Alex masih mengalami trauma. Setiap malam ia selalu bermimpi tentang kejadian Alice. Ia juga masih mengikuti konseling dengan psikiater.
Alex berkata lagi. "Apa Rio bisa pindah sekolah ke sini? Ia bisa tinggal di rumahku."
"Kenapa harus Rio?"
"Rio sangat pintar. Ia punya bakat di bidang IT. Seperti Luke."
"Aku harus membicarakannya dengan Hana, dengan Rio, juga orang tuaku. Tapi mungkin aku baru mengijinkan ia tinggal di sini ketika ia lulus SMP atau SMA." Lucas merasa Rio terlalu muda untuk berpisah dengan keluarganya.
Tetapi jika dipikir bukankah tinggal dan belajar bersama Alex adalah sesuatu yang baik. Rio bisa belajar banyak hal tentang IT. Hal yang selalu Rio sukai.
Lucas lalu melihat Rin dan Ren yang sedang membuka kulkas. Ia sudah mengingatkan Rin dan Ren jika mereka berdua hanya boleh meminum masing-masing satu teguk sprite.
"Kenapa cuma boyeh minum satu teguk?" Rin bertanya.
"Karena kandungan gulanya tinggi."
"Nanti gigi Yin hitam?"
"Bisa bikin gigi hitam kalau Rin nggak sikat gigi. Gula yang tinggi bisa bikin diabetes."
"Betes?" Rin mengira ayahnya menyebut Dia Betes.
"Diabetes. Digabung. Diabetes itu penyakit karena tingginya kadar gula dalam darah."
"Dayah Yin manis?"
"Rin memang manis tapi darah Rin nggak boleh manis. Kalau darah Rin manis bisa bahaya."
"Bahaya?"
* Diabetes dikenal sebagai silent killer. Jika kadar gula dalam darah terlalu tinggi bisa berpotensi menimbulkan penyakit-penyakit lainnya.
Sementara itu di apartemen Richard. Hana memberanikan diri untuk memberitahu Richard tentang Ricka. "Kak, apa kakak sibuk?"
"Tidak. Ada apa?" Richard meletakkan pulpen yang baru saja ia gunakan menandatangani berkas di mejanya.
"Ada yang mau aku omongin." Hana masih ragu. Ngomong apa nggak ya.
"Mau pulang ke Indonesia?"
"Bukan itu. Aku tahu jika kita harus menunggu kepulangan kita sebulan lagi. Ini tentang Ricky. Bukan ... Tentang Ricka."
"Ricka? Ricka itu nama anak perempuan."
"Kak, mungkin kakak tidak percaya. Tapi aku rasa ..." Hana menyentuh perutnya. "Aku rasa anak kita itu perempuan."
"Tidak mungkin. Sudah pasti laki-laki." Richard sudah memberitahu dokter bahwa ia menginginkan seorang putra.
"Aku juga tidak tahu bagaimana caranya. Tapi bagaimana jika memang benar perempuan." Hana mulai cemas. Raut wajah Richard saat ini susah ditebak.
"Sebenarnya laki-laki atau perempuan, aku tidak mempersalahkannya. Tetapi perempuan masih dipandang sebelah mata sebagai pemimpin."
"Tapi jaman sudah berubah. Banyak perempuan yang menjadi pemimpin sekarang. Menjadi presiden seperti ibu Megawati. Menjadi perdana menteri seperti Margaret Thatcher." Hana berusaha meyakinkan Richard.
"Tetapi tetap saja banyak pria yang tidak mau dipimpin oleh wanita."
"Tapi aku yakin Kakak akan bisa mendidik Ricka dengan baik sehingga tidak akan diremehkan oleh yang lain."
Richard diam sejenak lalu berkata, "Untuk sementara ini, aku akan tetap memanggil bayi kita Ricky. Aku akan menunggu sampai kita mengetahui jenis kelamin bayi kita. Jika memang perempuan, aku akan memanggilnya Ricka."
"Terima kasih, Kak." Hana keluar dari ruang kerja Richard. Hana merasa lega. Hatinya terasa plong. Bebannya jadi berkurang.
Kak, terima kasih karena tidak menolak Ricka.