
Ricka mendengar suara mobil Richard memasuki rumah sebelah. "Papa." Ia ingin melihat papanya.
"Ricka tunggu di sini. Papa tadi bilang ke mama, papa yang ke sini." Hana memberitahu Ricka yang sudah bergerak menuju pintu luar.
Tak lama kemudian Richard datang. Ia membawa hadiah boneka Boba jumbo seukuran galon air.
*boneka boba : boneka berbentuk minuman Boba lengkap dengan sedotannya. Tersedia dalam berbagai ukuran.
Richard menyalakan lampu kelap kelip di boneka Boba. Ricka memeluk boneka yang empuk itu.
Sedangkan Ren membayangkan meminum minuman Boba sebesar itu.
Lain lagi dengan Hana. Ia mengecek keseluruhan boneka itu. Ada lampu berarti ada batrenya. Ia sering mendengar balita meninggal atau sakit parah karena menelan batre secara tidak sengaja.
Ternyata letak batrenya tertutup oleh jahitan di boneka itu. Jadi, lebih aman.
Bagaimana jika batrenya bocor? Bukankah itu racun. Hana berusaha menenangkan diri. Ia terkadang terlalu suka berpikir yang berlebihan.
"Ricka suka? Bilang terima kasih sama Papa," ucap Hana.
Ricka hanya tersenyum. Memperlihatkan gigi-gigi mungil putihnya. Senyum yang melelehkan hati Richard.
"Ricka hari ini aku bawa pulang." Richard memberitahu Hana.
Hana mengijinkannya karena memang Ricka anak Richard. Lagipula jika ia kangen Ricka, ia tinggal berjalan kaki sebentar ke rumah sebelah.
Richard melihat Robert yang datang berkunjung. Ia sudah mengenal Robert saat ia dan Hana bertunangan. Dan Richard juga sadar kalau Robert juga menyukai Hana. Robert pergi ke Amerika juga karena patah hati karena Hana bertunangan dengan Richard.
Richard dan Robert berbincang sejenak. Tak lama kemudian Robert pamit pulang.
"Papa, Emo." Ricka menunjuk robot mungil milik Ren, pemberian Robert.
Richard akhirnya paham. Ia memang berencana membelikan Ricka robot saat usia Ricka sedikit lebih besar. Kalau ia membelikannya sekarang, bisa-bisa cepat rusak karena dibanting Ricka.
"Emo." Ricka memanggil robot mini di depannya.
Kosakata Ricka masih sedikit. Tapi ia jadi terpacu untuk berbicara supaya Emo bisa bergerak.
Ren mengambil Emo yang sudah di cas penuh dari skateboard-nya.
"Yicka bilang Emo dance." Ren mengajari Ricka.
"Emo," ucap Ricka. Emo mulai bereaksi ketika dipanggil. "Dance." Akhirnya kosakata Ricka bertambah dua kata hari ini. Membuat Richard ingin segera membelikan Ricka robot yang bisa bergerak ketika diperintah.
Ren dan Ricka menari bersama Emo.
"Ricka pulang sama Papa." Richard mulai menggendong Ricka. Ia akan membawa Ricka pulang.
Ricka memang punya dua rumah. Satu rumah mamanya. Satu lagi rumah papa kandungnya. Membuatnya bolak-balik dua rumah. Tiga jika dihitung rumah Rebecca, Oma Ricka dari Richard.
"Pamit sama Mama, sama Kakak Ren," ujar Richard.
Ricka melambaikan tangannya. Hana mencium Ricka di pipi mungilnya.
Suasana menjadi tenang setelah Ricka pergi. Ren seolah-olah menjadi anak bungsu sekarang.
"Mama lihat." Ren mulai memperlihatkan break dance yang baru saja ia pelajari.
Hana merasa ngeri melihat kepala Ren berada di bawah dengan kedua kaki di udara. Dulu ia akan langsung melarang Rei saat melakukan break dance. Tapi sekarang ia jadi lebih fleksibel.
Semuanya ada resikonya. Break dance terkadang memang bisa membuat penarinya cedera ringan/berat, parah tulang atau yang lainnya. Tapi jika berhati-hati tentu akan mengurangi risiko.