Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 190 Apakah Ini Perpisahan?



Delapan jam berada di pesawat terasa begitu lama bagi Hana. Ia menatap jendela yang memberikan pemandangan awan. Air matanya menetes kembali.


Pikirannya kembali ke saat ia masih kecil. Saat ia dan ayahnya bermain bersama, berenang bersama dan bepergian bersama.


Saat terindah sebelum ayahnya menikah lagi dengan ibu tirinya.


"Istirahatlah. Nanti aku bangunkan kalau kita sudah sampai," ucap Lucas.


Hana melihat putra dan putrinya yang juga sudah tertidur. Ia ikut tidur.


Setibanya di rumah, Hana menitipkan anak-anaknya ke mama Berta. Ia dan Lucas langsung menuju ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya. Budiman, ayah Hana masih belum sadar.


Ia duduk di pinggir ranjang. Air matanya mulai menetes.


"Ayah ... jangan tinggalin Hana ... Hana nggak punya siapa siapa lagi ..." Hana berharap ayahnya bisa sadar kembali.


Ibu Hana sudah lama meninggal. Jika ayahnya meninggal, maka ia jadi yatim piatu.


Hana tidak berharap muluk muluk. Ia tahu serangan stroke kedua akan membuat keadaan ayahnya lebih parah.


Hana hanya berharap ayahnya bisa sadar dan bersama dirinya kembali.


Apa aku egois dengan mengharapkan ayah bisa sadar?


Hidup tanpa bisa beraktifitas normal kembali membutuhkan kekuatan mental yang besar untuk bisa menerima keadaan.


Bukankah lebih baik jika ayah lepas dari penderitaan ini.


Tidak. Hana menggelengkan kepalanya. Apapun keadaan ayahnya nanti, ia akan tetap menerimanya.


Menjaga seseorang yang sakit memang tidak mudah. Terkadang bisa sangat berat karena butuh banyak dana, butuh tenaga juga kekuatan mental. Jangan sampai yang sehat ikut down.


Sementara itu di rumah.


Ricka yang tadinya tertidur sudah bangun. Ia mulai mencari Hana. "Mama ... Mama ..."


Tetapi batang hidung Hana tak muncul.


"MAMA ... MAMA ..." Ricka mulai berteriak. Ia mulai menangis. Ren yang datang. "Mama di yumah sakit sama papa. Mama jaga kakek."


"Kakek?"


"Kakek sakit."


"Papa ..." Ricka menghampiri Richard.


"Kakek ..." Ricka ingin bertemu kakeknya.


Apa boleh anak kecil menjenguk orang sakit?


"Ricka masih kecil. Ricka belum boleh jenguk kakek."


"KAKEK!" Ricka menegaskan keinginannya.


"Kita video call mama aja." Richard menelpon Hana.


Yang mengangkat ponsel Hana adalah Lucas.


"Papa ..." Ricka melihat wajah Lucas.


"Mama lagi makan." Lucas mengarahkan kamera ponsel ke Hana. Tadi Lucas memaksa Hana untuk makan. Lucas khawatir jika Hana ikut jatuh sakit.


"Kakek?" Ricka ingin melihat kakeknya.


"Kakek masih tidur." Lucas memperlihatkan Budiman yang terbaring di ranjang dengan selang infus, masker oksigen dan monitor jantung.


"Papa, Yen boyeh ke yumah sakit lihat kakek?"


Lucas berpikir sejenak. Sepertinya ia harus memperbolehkan putra dan putrinya menjenguk Budiman setidaknya sekali.


"Ren boleh ke sini. Ajak kakak Rei, Rio dan Rin juga."


"Yicka?"


"Bawa Ricka juga." Lucas hanya berpikir jika hari ini adalah hari terakhir mereka akan melihat Budiman.


Richard membawa Rei, Rio, Rin, Ren dan Ricka ke rumah sakit.


Rin melihat kakeknya yang hanya berbaring di ranjang. "Kakek." Ia mulai menangis.


"Maafin Rin." Rin merasa bersalah karena ia syuting di luar negri yang mengakibatkan ia tidak bisa menjaga kakeknya.


Lucas menenangkan Rin. Ia mensejajarkan pandangan matanya dengan mata Rin. "Rin nggak salah. Jangan nangis lagi. Kakek pasti sedih lihat air mata Rin." Lucas mengusap air mata Rin dengan jarinya.


Rei, Rio juga ikut menangis.