
Pagi harinya.
Ricka mulai membedaki wajah, tangan dan kakinya. Ia ingin bisa seputih kakak-kakaknya. Tapi tentu saja putih bedak dan kulit putih blasteran kaukasia berbeda.
Hana meratakan bedak di tubuh Ricka. Ia memakaikan baju untuk jalan ke Ricka.
Hari ini sekeluarga mereka akan ke rumah sakit untuk suntik vaksin flu kecuali Matthew dan Mark.
"Mama, Yen di yumah aja ya." Ren tidak ingin disuntik.
"Sekarang lagi musim hujan. Vaksin flu itu bikin tubuh kita kuat. Nanti kalau Ren sakit bisa nular ke Ricka. Kasihan Ricka kan."
"Kalau Yen sakit, nanti Yen nggak dekat dekat Yicka."
"Pulang dari rumah sakit, Mama mau ajak makan siang di restoran burger yang Ren suka."
Ren akhirnya terbujuk. Ia mau ikut karena iming-iming makanan.
Mereka tiba di rumah sakit.
"Papa Yucas." Ricka hafal rumah sakit tempat Lucas bekerja.
Mereka kemudian antre di klinik Lucas. Mereka lalu dipanggil. "Rei, Rio, Rin, Ren, Ricka." Mereka masuk ke dalam ruangan praktek Lucas.
"Papa." Ricka mendekati Lucas. Lucas memangku Ricka tetapi tak lama kemudian ia menitipkan Ricka ke Hana. "Ricka sama Mama dulu ya."
"Rei Adiwijaya." Suster menyebut nama Rei.
Rei duduk di kursi. Lucas mulai menyuntik vaksin flu. Dilanjutkan dengan Rio dan Rin.
Ren agak takut. Ia memejamkan matanya. Setelah jarum suntik dicabut, ia menangis. Tetapi Hana langsung memasukkan lolipop ke dalam mulut Ren untuk menenangkannya.
Sekarang giliran Ricka. Ricka dipangku Hana. Ia disuntik di bagian paha. Ricka tidak takut. Ia bahkan melihat langsung bagaimana Lucas menusukkan jarum suntik dan mencabutnya. Bahkan Ricka minta disuntik lagi. Jari mungil Ricka menunjuk tempat ia disuntik.
"Kali ini disuntiknya satu dulu. Nanti nanti lagi disuntiknya," ucap Lucas. Sebagai dokter, ia sudah sering menangani pasien anak. Tetapi sangat jarang yang ingin disuntik lagi. Rata-rata pasien ciliknya akan menangis meraung-raung.
"Disuntik itu sakit Kakak Yio."
"Ren cengeng."
"Yen nggak cengeng!" Ren mulai menaikkan suaranya.
"Sudah. Sudah. Sudah waktunya pergi. Masih ada yang antri di luar." Rei langsung meredakan emosi Ren.
Mereka berpamitan.
"Papa, Yen pergi dulu. Yen mau makan buygey. Mama sudah janji tadi di yumah." Ren berpamitan dengan Lucas.
Sesuai janji, Hana membawa mereka ke restoran burger. Mereka mulai memesan dan menunggu pesanan mereka.
Selama di Indonesia, Matthew dan Mark sering mencoba masakan Indonesia. Bahkan mereka menamai masakan Indonesia dengan bahasa Inggris.
Soto menjadi yellow soup (sup kuning). Rawon menjadi black soup (sup hitam).
Setelahnya mereka kembali ke rumah.
Rin mulai mempelajari skenario. Ia akan mengikuti audisi. Rin membaca skenario dan mempelajarinya. Walaupun terkadang akan ada perubahan skenario tetapi setidaknya ia tahu garis besar cerita.
Rin bersemangat. Terutama karena lokasi syutingnya sebagian besarnya akan mengambil setting tempat di Bali.
Keesokkan harinya.
Rin dijemput Ronald untuk ikut audisi. Hana dan Ricka ikut menemani. Mereka menjadi supporter Rin. Hana sudah yakin Rin akan lolos audisi dan mendapatkan peran. Akting Rin itu luar biasa, begitu menurut Hana.
Rin masuk ke ruang audisi. Dengan yakin ia mengekspresikan dialog yang ditunjuk oleh juri.
Tetapi saat pengumuman tiba, Rin tidak lolos. Rin bersedih. Sepanjang perjalanan pulang Rin hanya diam.
Saat tiba di rumah Rin langsung masuk kamar dan menangis.