Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 120 Belajar Tenis



Keesokan harinya Hana dan Ren menemani Rin reading skenario. Hana ingin melihat bagaimana rupa kru film. Walaupun skenario bagus tapi kalau orangnya tidak bagus akan membuat was-was.


Sudah banyak cerita petinggi production house atau produser yang melakukan pelecehan ke artisnya. Bahkan ada yang mengajak "begituan" dengan iming-iming sebuah peran. Hana tak ingin hal-hal seperti itu terjadi ke Rin.


Ronald mengantar mereka. Rin mulai berkenalan dengan pemeran yang lain. Sutradara memandu reading skenario.


Mereka memulai reading. Dimulai dari halaman pertama. Sutradara memberi beberapa masukan. Aktor dan aktris mencatat apa saja yang harus mereka ubah.


Ren mulai bosan. Ia tidak betah duduk di suatu tempat dalam waktu yang lama. Ia ingin keluar.


"Ronald, aku titip Rin. Ren mau jalan-jalan." Hana menggandeng tangan Ren. Karena jika tidak, Ren bakal lari dengan cepatnya dan sulit untuk dikejar. Mereka berjalan dan berjalan.


Terdengar suara pukulan dan erangan.


"Ugh."


"Ugh."


Rupa-rupanya mereka berada di dekat lapangan tenis. Ren melihat dengan seksama para pemain mengayunkan raket dan memukul bola tenis dari luar.


Mata Ren memindai gerakan mereka. Kepalanya bergerak mengikuti arah bola.


"Mau main?" Seseorang di dalam lapangan bertanya ke Ren.


Ren menganggukkan kepalanya. Ia mau mencoba.


"Sudah pernah pegang raket?" Pria itu bertanya.


"Sudah. Yaket nyamuk." Betul. Tiap harinya Ren yang langsung menggunakan raket nyamuk jika mereka sedang berada di taman belakang yang banyak nyamuknya. Ia sudah menjadi mosquito killer.


Pria itu memberi Ren raket tenis untuk anak. "Anggap bola tenis ini nyamuk. Tapi harus dipukul keras supaya bisa lewat dari net."


Pria itu melanjutkan. "Pegang raketnya seperti ini."


"Kakinya sepert ini." Pria itu memberi contih. Ia mengajari Ren dasar-dasar tenis. Dari pukulan backhand, dan lain-lain.


Ren mengamati dengan seksama.


"Sekarang Ren mulai pukul." Pria itu mau menguji Ren.


Pria itu berhadap-hadapan dengan Ren. Hanya ada net sebagai penghalang. Pria itu memukul bola tenis ke tempat Ren berada.


"Ugh." Ren meniru suara pemain tenis yang ia lihat tadi padahal bola tenisnya hanya lewat dan tidak mengenai raket yang diayun Ren.


Pria itu mencoba memukul bola ke kiri Ren. Ren dengan cepat berlari ke kiri. Begitu juga saat ia memukul ke sebelah kanan Ren. Dengan gesitnya Ren bergerak ke kanan.


Sampai akhirnya Ren berhasil memukul bola tenis. Pria itu memukul dan memukul bola tenis. Ia takjub dengan stamina Ren.


Biasanya anak kecil akan kecapaian dan minta istirahat setelah sepuluh bola dan berlari ke sana dan ke sini. Tetapi sampai bola tenis di keranjang habis (kira-kira 100 bila) Ren masih kuat.


Mereka lalu beristirahat.


"Ren, bilang terima kasih sudah diajari tenis sama Om," ucap Hana.


"Teyima kasih, Om."


"Sama-sama." Pria itu juga meminta nomor kontak Hana.


Hana dan Ren lalu mengumpulkan bola tenis yang berhamburan. Ren membawa beberapa bola tenis dengan bantuan bajunya dan menaruhnya ke dalam keranjang.


Selesai mengumpulkan bola tenis, mereka berjalan lagi dan menemukan lapangan bulu tangkis.


Sekali lagi Ren tertarik dan melihat permainan bulu tangkis.


"Ren mau main?"


"Iya."


"Nanti mama beliin raket khusus buat Ren. Ren belum punya raket, kan?" Ren sering meminjam raket kakaknya jika bermain badminton di taman belakang rumah.


Ronald menelpon Hana. Ia memberitahu jika Rin sudah selesai.


"Aku di lapangan bulu tangkis," kata Hana.


"Jangan kemana-mana. Biar aku sama Rin ke sana." Ronald segera menjemput Hana dan Ren.