
Di Apartemen.
Hana melihat notifikasi di ponselnya. Ada transferan uang masuk di rekeningnya.
10 MILYAR!!!???
Apa ini salah transfer?
Hana melihat nama pengirimnya. Richard. Hana langsung menghampiri Richard. "Kak, ini uang yang barusan Kakak transfer itu buat apa?" Hana takut jika Richard salah transfer.
"Uangnya buat kamu. Sebagai rasa terima kasihku karena kamu mau mengandung Ricky."
"Kak, maaf. Aku tidak bisa menerimanya. Aku tak ingin jika Ricka ..."
"Ricka?" Richard bingung karena ia sudah menamakan bayinya bersama Hana dengan nama Ricky.
"Ah. Iya. Ricky." Aku belum beritahu kak Richard perihal Ricka.
Hana hanya takut jika suara Ryu yang ia dengar salah. Ia juga merasa takut jika harus mengulang lagi proses-proses untuk mendapatkan bayi. Terutama jika ia harus menggugurkan Ricka jika tidak sesuai keinginan Richard. Karena Richard menginginkan seorang putra.
"Aku tak ingin Ricky melihatku sebagai ibu bayaran. Aku ingin Ricky menganggapku ibu yang sebenarnya. Nomor rekening kakak berapa? Aku transfer balik." Hana mulai login di mobile bankingnya.
"Tidak usah ditransfer balik. Anggap aja itu uang untuk Ricky." Richard melanjutkan pekerjaannya. Hana melihat Richard yang sibuk. Ia memutuskan untuk ke kamar.
Di kamar.
Hana mengelus perutnya.
"Ryu, apa bener di perut mama itu bayi perempuan?"
"Bener, Ma."
Hana seolah-olah mendengar suara Ryu. Hana jadi yakin bayi dalam perutnya perempuan. Sama seperti saat Rin masih dalam perutnya dulu.
Hana masih ingat saat Ryu meminta adik perempuan. Sekarang adik perempuan Ryu ada dua.
Ren naik ke atas ranjang tempat Hana duduk. Rin ikutan naik ke atas ranjang.
"Ren, nama papa siapa?" Hana bertanya.
Ren tidak menjawab.
"Nama papa Yukas." Rin menjawab.
"Nama papa, Ren?" Hana bertanya lagi.
"Yu ... Yu ..." Ren berusaha mengingat lagi.
"Yen yupa."
"Yonaydo."
"Ini?" Hana menunjukkan foto pemain bola lainnya.
"Messi."
"Nama papanya nggak diingat. Malah nama pemain bola yang Ren ingat." Hana menyentuh tangannya ke rambut Ren.
"Yen, nama papa Yukas." Rin mencoba mengajari Ren.
"Nama mama Hana," ucap Rin lagi.
"Yu ... Yupa." Ren lupa lagi.
Rin menepuk jidatnya.
Mereka lalu hendak melihat video Rei's World di YouTube. Tetapi kanal bernama Rei's World tidak ada. Hana mengetik Rei dance cover. Tapi hanya ada short video editan penggemar.
Apa Rei hapus akunnya? Hana menelpon Rei. Panggilan tersambung.
"Mama ... Hiks ... Hiks ..." Rei menangis.
"Rei kenapa, sayang?"
"Semua video Rei hilang. Hiks ..." Rei masih menangis.
"Kok bisa? Apa ada pemberitahuan sebelumnya?"
"Hilang gitu aja, Ma." Saat ini Rei diserbu di akun instagramnya. Followersnya menanyakan kanal YouTube Rei's World.
"Rei bikin akun baru aja. Minta file-nya sama Rio," saran Hana."Mama juga ada download video Rei."
"Iya, Ma." Rei menganggukkan kepalanya.
"Jangan nangis lagi. Senyum. Rei cantik kalau senyum."
Rei berusaha tersenyum.
"Kakak Yei." Rin dan Ren memanggil Rei. Giliran dua bocil yang menguasai ponsel Hana.
"Kakak Yei, Rin bisa baca." Rin menunjukkan buku cerita yang baru saja ia baca.
"Yen boya." Ren menunjukkan bola mainannya.
Ren lalu mencoba menendang bola di lantai. Rin memegangi ponsel. Ia memvideo Ren. Saat Ren menendang, bukan bolanya yang melambung ke gawang mainan tetapi malah kaki palsunya copot dan terlempar ke gawang.
Ren, Rin dan Rei tertawa cekikikan. Ren merangkak mengambil kaki palsunya. Rin turun dari ranjang dan membantu memasangkan kaki palsu Ren.