
Mereka tiba di restoran. Richard berkata ke Rin, "Sudah waktunya makan malam. Es krimnya untuk dessert aja, ya. Rin mau makan apa?"
"Steak," jawab Rin.
"Om juga suka makan steak."
Hana melihat Rin. ~ Rin, steak di hotel itu harganya pasti mahal. Belum lagi tambahan pajaknya.
"Hana, tenang. Aku yang traktir. Rei sama Rio mau apa?"
"Koloke, om." Dua saudara kembar itu menjawab.
Richard lalu memesan makanan dan minuman. Hana bertanya-tanya dalam hati. ~ Kak Richard kok nggak tanya aku? Apa aku nggak dapet makanan?
Makanan datang sesuai pesanan. Richard menaruh piring berisi sate ayam di depan Hana. "Kalau masih kurang bilang aja. Nanti aku pesan lagi."
"Kak, apa nggak pa pa pesan banyak gini?"
"Kan aku yang punya restorannya," jawab Richard.
Iya juga. ~ Hana mulai menyantap sate ayam. Sedangkan Richard memotong steak kecil-kecil kemudian ia menyuapi Rin. Rin makan dengan lahap.
"Om tadi bilang kalau mama suka pura-pura." Rio sedikit penasaran.
"Iya. Dulu mama kalian itu ..."
Hana langsung menutup bibir Richard. Ia tak ingin anak-anaknya mendengar kelakuan buruknya di masa lalu. "Es krimnya sudah datang." Hana mencoba mengalihkan perhatian.
Selesai makan Hana dan ketiga anaknya masuk ke dalam kamar. Mereka menginap karena rencananya pagi-pagi sekali mereka syuting saat matahari terbit. Hana membawa makanan untuk Laura yang sedang menjaga Ren yang sedang tidur. Sedangkan Ronald masih berada di lokasi syuting untuk networking.
"Aku nggak tau sama sekali."
"Apa kau merasa kak Richard sengaja memilih Rin karena ingin bertemu denganmu?"
"Nggak mungkin, kan. Pasti cuma kebetulan. Nggak mungkin kak Richard tahu aku itu mama Rin."
Tapi Hana, kak Richard itu orang kaya. Ia bisa sewa detektif untuk mengetahui semuanya tentang dirimu. ~ Laura merasa Richard menyembunyikan sesuatu. Dimulai dari pemeran utama wanita dan pria yang tidak bisa datang. ~ Apa hal itu disengaja?
"Makanannya dimakan. Kalau sudah dingin nggak enak. Biar aku yang lihatin Ren."
Laura mulai memakan makanannya. "Makanan di sini enak banget."
"Kapan-kapan kita datang ke sini lagi sama-sama Lucas."
Ren terbangun. Ia mencari Hana karena lapar. Hana mulai menyuapi Ren.
Sedangkan di kamar Richard. Ia sedang memutar dan memutar lagi video yang berisi kenangannya bersama Hana. Melihat lagi foto-foto kenangan mereka berdua.
Statusku di mata Hana hanya teman sekarang. ~ Richard masih memendam rasa untuk Hana. Richard tersenyum mengingat saat pertemuan pertama mereka. Mereka bertemu di sebuah restoran. Suatu pengalaman yang tidak mungkin bisa ia lupakan.
Hana dan Richard dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Baik Hana dan Richard hanya mengikuti permintaan orang tua mereka. Hana dan Richard terkadang saling mencuri pandang. Sepertinya Hana itu tipenya Richard. Begitu juga sebaliknya.
Kedua orang tua mereka senang. Ayah Hana merasa jika Hana menikah dengan Richard maka status sosialnya akan naik. Sedangkan orang tua Richard memang ingin segera punya mantu.
Hubungan Hana dan Richard terjalin lebih dalam lagi. Richard melamar Hana untuk menjadi istrinya dan Hana menerimanya dengan suka cita. Ia merasa cocok dengan Richard.
Proses persiapan pernikahan mulai dilakukan tetapi saat Hana mengetahui dirinya hamil yang sudah pasti bukan anak Richard, ia dilema. Ia ingin tetap bersama Richard tapi ia juga tak mungkin menggugurkan bayinya.