
Hana mendapat telpon dari suster Rin. "Nyonya ... hiks ... maafkan saya ... hiks ... Rin ... hilang." Susan, suster yang menjaga Rin menangis.
Hana berusaha tetap tenang. Menyalahkan Susan juga tidak akan memperbaiki keadaan. Apa Rin diculik?
Hana langsung menuju sekolah Rin. Rei dan Rio ikut bersama Hana. Begitu juga dengan Richard.
Guru Rin menjelaskan detailnya. Susan sedikit terlambat menjemput Rin. Saat Susan hendak menjemput Rin, Rin sudah tidak ada di preschool.
Guru Rin menunjukkan rekaman CCTV. Rin keluar dari preschool. Rin keluar sendirian dan tidak ada tanda-tanda dibawa paksa atau dibujuk.
Rin kemana?
"Ma, Rin akhir-akhir ini minta dibawa ke mana?" Rio bertanya. Hana mengingat-ingat lagi. "Rin pengen pergi ke taman bermain. Ia ingin main lagi ke sana."
Rio membuka sebuah aplikasi pelacak di ponselnya. Ia tahu suatu saat hal ini akan terjadi. Jadi, ia sudah bersiap-siap.
Saat di Indonesia, sebelum keberangkatan ke Amerika, Rio memberi gantungan kunci ke Rin. Ia menempelkan alat pelacak di gantungan kunci itu.
Rio melihat tanda yang berkedip-kedip, tanda keberadaan Rin. "Rin ada di taman bermain, Ma."
"Bagaimana bisa?" Richard bingung. Anak sekecil Rin berani jalan-jalan sendirian.
"Rin itu ingat semuanya. Ia pasti langsung hafal jalan ke taman bermain," ucap Hana.
Richard segera meminta supir membawa mereka semua ke taman bermain. Berharap memang ada Rin di sana.
Sesampainya di taman bermain Rio melihat tanda kedip itu semakin dekat. Tetapi mereka hanya menemukan tas Rin yang tergeletak. Hana mulai cemas.
Richard langsung pergi menuju kantor taman bermain untuk meminta tolong. Petugas memberitahu ke seluruh pengunjung apakah mereka melihat anak perempuan dengan ciri-ciri seperti Rin berada di kerumunan. Tak lama kemudian ada berita dari kios gula kapas. Ada anak dengan ciri-ciri yang disebutkan tadi.
"Mama ... Kakak ..." Rin melambaikan tangannya melihat ibu dan kakak-kakaknya. Wajahnya terlihat bahagia.
Hana mau membentak Rin. Amarahnya sudah diubun-ubun. Ingin rasanya ia menampar Rin. Rin sudah dua kali ini "hilang". Tangan Richard menggenggam kepalan tangan Hana. Berusaha meredakan amarah Hana.
Jangan sampai kau menyesal karena telah melakukan sesuatu yang buruk kepada anakmu sendiri. Jaman dulu pukulan mungkin bisa mendisiplinkan anak, tetapi jaman sudah berubah.
Rei mendatangi Rin. "Kakak minta." Rei membuka mulutnya. Rin menyuapi Rei.
"Kenapa tasnya ditinggal gitu aja?" Rei bertanya.
"Beyat. Yin capek." Rin merasa berat membawa tasnya.
Sedangkan Rio tahu ia harus membuat alat pelacak yang baru. Menaruh alat pelacak di gantungan kunci terlalu beresiko. Lebih baik di kalung, gelang atau anting yang selalu Rin pakai.
Perlahan emosi Hana mereda.
Karena sudah terlanjur berada di taman bermain, mereka menghabiskan waktu bersama. Sekaligus membawa Rei dan Rio jalan-jalan secara tidak langsung.
"Rin sudah bayar gula kapasnya?" Hana tidak pernah memberi uang saku saat Rin ke sekolah karena Rin sudah sarapan di rumah dan di preschool-nya disediakan makan siang.
"Gyatis. Dikasih om."
"Om siapa?"
"Om ... Yin yupa tanya." Rin tidak bertanya nama pria yang memberinya gula kapas.
Siapa yang memberi Rin gula kapas?