
Hana masih shock. Ia bertanya ke Lucas. "Apa ini mimpi?"
Lucas mencubit pipinya sendiri karena takut mencubit pipi Hana. Bagi Lucas, bumil yang emosi itu sungguh menakutkan.
Sakit. "Tidak. Ini sungguhan!."
Hana lalu melihat Rin yang memandangi buket bunga dari Matthew. "Rin suka bunganya?"
"Yin suka ini." Rin menunjuk kertas pembungkus dengan motif tengkorak dan kerangka manusia kesukaan Rin. Rin membuka laci dan mengambill gunting. Ia hendak menggunting motif kerangka lalu menaruhnya di buku mini miliknya.
Hana memperhatikan Rin. Rin menyimpan guntingan kertas itu di notes kecilnya.
Rin yang mahal itu bunganya. Kertasnya biasa dibuang gitu aja.
...***...
Keesokkan harinya Martha benar-benar mengajak Hana dan keluarganya ke butik. Hana dan Rin mencoba gaun. Lucas, Ren dan Richard mencoba jas.
Rin mencoba dress pertamanya. Dress dengan rok tulle putih yang mengembang. Dipercantik dengan tiara mungil di atas kepalanya.
"Rin cantik," puji Matthew.
Rin tersenyum.
Selesai memilih, Martha membayarnya. Ia lalu membawa mereka ke tempat acara besok untuk gladi resik.
Rin berjalan bersama Matthew. Membawa keranjang dan seolah-olah mereka menaburkan kelopak bunga ke karpet merah. Sedangkan Mark berjalan di belakang sambil membawa bantal yang nantinya akan ditaruh cincin.
Martha berbicara ke Hana. "Acara besok temanya hitam dan putih. Jangan mengenakan warna lain selain warna hitam dan putih."
"Why?" Hana biasa melihat berbagai macam warna di acara pernikahan.
"Pengantin wanita tidak menyukai warna. Ia hanya menyukai warna hitam dan putih saja. Pakaiannya, atributnya, bahkan rumah beserta isinya hanya hitam dan putih."
"Ok." Hana menganggukkan kepalanya. Pantas saja sedari tadi ia hanya melihat warna hitam dan putih di tempat acara.
Selesai geladi resik mereka menuju ke restoran. Traktiran Martha. Pelayan mengarahkan mereka menuju ruangan yang lebih private.
Martha memilih menu. "Jika ada yang kalian inginkan pesan saja."
"Tidak. Tidak ada." Hana merasa Martha sudah mengeluarkan banyak uang untuk mereka. Membuat Hana menjadi khawatir jika ini adalah hanya show off agar membuat dirinya dan Lucas terkesan.
Tapi ... Hana tiba-tiba ngidam salah satu menu. Matanya tertuju pada gambar masakan yang ingin ia makan. Sup sarang burung walet. Tetapi harganya semangkuk 100 dolar.
Martha diam-diam memberitahu pelayan yang berada di dekat mereka.
Tak lama kemudian makanan disajikan. Banyak lauk daging yang tersedia. Membuat Rin senang karena ia menyukai daging.
Hana terkejut melihat semangkuk sup sarang burung walet diletakkan di depannya.
Ini kan yang aku pengen.
"Sup sarang burung walet bagus untuk ibu hamil," ucap Martha.
"Tapi harganya mahal."
"Anggap saja ini investasi buat Ricka." Martha tersenyum. Tiap hari juga jika Hana menginginkan sup sarang burung walet, ia akan membelinya.
"Ayo kita makan."
Martha membantu Rin mengambilkan makanan. Lucas membantu Matthew. Richard menolong Mark. Sedangkan Ren tugas Hana.
"Ren mau coba?" Hana memberikan sesuap untuk Ren.
Selesai makan mereka lalu pulang.
Di apartemen.
Hana mempersiapkan diri untuk acara besok. Terlalu mendadak tapi karena diundang, dibelikan baju, jadinya mau tidak mau ia harus datang.
Keesokkan harinya mereka semua berangkat ke acara lebih awal secara Rin menjadi penabur bunga.
Acara dimulai. Rin berjalan bersama Matthew. Mereka menaburkan bunga. Sedangkan Mark berada di belakang membawa bantal yang atasnya terdapat cincin.
Tiba-tiba Mark tersandung. Cincin yang ia bawa terlempar entah ke mana. Seluruh undangan berusaha menemukan cincinnya. Mencari di bawah tempat mereka duduk.
"Ketemu!" Seorang berseru.
"Ketemu!" Cincin kedua ikut ditemukan.
Acara lalu dilanjutkan. Ren saat ini duduk di pangkuan Lucas dengan tubuhnya mendekap Lucas. Ia masih mengantuk. Tak lama ia tertidur lagi.
Pengantin wanita masuk digandeng oleh ayahnya. Ia berjalan dengan anggunnya menuju altar.
Acara pengucapan janji suci dimulai.