Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 86 In The Clinic



Setelah memakai kaki palsunya Ren mencoba menendang bola lagi. Ia berhasil memasukkan bola ke gawang .


"Goy ...." Ren berteriak. Ia lalu lari keliling kamar sambil mengecup telunjuknya lalu melambaikan tangannya. Seperti pemain bola di lapangan.


...***...


Sore hari ini jadwal Hana ke dokter kandungan. Hana dan Richard sedang berada di klinik kandungan untuk memeriksa kandungan Hana. Dokter melihat Ricky dalam keadaan baik. "Everything okay."


Hana ingin segera mengetahui jenis kelamin bayinya. Tapi tentu saja belum bisa. Janin di rahim Hana masih terlalu kecil.


Sebelum berpamitan, Hana mengeluarkan gunting dari dalam tasnya. Ia mendekati dokter itu. "I'm sorry, Doc." Hana memegang beberapa helai rambut dan menggunting rambut dokter tersebut.


"Hana, apa yang kau lakukan?" Richard bingung sekaligus terkejut dengan tindakan Hana.


"Aku ..."


Hana menceritakan kenapa ia mengambil sampel rambut dokter kandungan mereka. "Aku baru aja melihat film dokumenter di Netflix yang judulnya Our Father."


Our Father bercerita tentang dokter kesuburan yang berhasil membuat banyak wanita yang menginginkan anak mengandung.


Tetapi ternyata dokter itu menggunakan benihnya sendiri bukan benih suami wanita itu. Sampai film dibuat ada sekitar 90 anak kandung dokter itu. Kemungkinan masih bisa bertambah.


"Aku juga nonton dokumenter tentang dokter kesuburan di Belanda yang berbuat hal yang sama." Hana menjelaskan. "Ini buat persiapan."


Richard hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia meminta maaf ke dokter mereka. "I'm sorry, Doc."


Dokter itu hanya tersenyum. "It's okay."


Mereka lalu keluar dari ruangan dokter. Hana berjalan di sebelah kursi roda otomatis Richard. "Kak, maaf. Aku bikin malu Kakak."


"Seharusnya kamu bilang dulu ke aku. Kalau perlu, kita botakin kepalanya." Richard tersenyum. Hana ikut tersenyum. Mereka tiba di tempat parkir.


Supir Richard membawa mereka semua pergi ke restoran keluarga. Sesekali makan di luar tidak apa-apa. Begitu pikir Richard. Karena selama ini mereka lebih sering makan di rumah. Masakan chef Pierre.


Hana memesan beberapa makanan. Tak lama kemudian pelayan datang membawakan makanan mereka.


Hana hendak menyantap hot dog. Rin tiba-tiba menangis. "Jangan makan." Rin memegang tangan Hana.


"Ada apa, Rin? Rin mau?" Hana mencoba menyuapi Rin.


"Jangan makan puppy-nya." Rin masih memegangi tangan Hana.


Hana bingung. Richard yang memperhatikan sedari tadi paham. Rin sepertinya mengira hot dog itu terbuat dari daging anjing.


"Namanya memang hot dog. Tapi ini dari daging sapi, Rin. Bukan dari puppy." Richard menjelaskan sambil mengelap air mata Rin.


Rin akhirnya paham. Ia melepaskan tangannya dari tangan Hana. Hana akhirnya bisa menikmati salah satu makanan favoritnya.


"Besok aku mau bawa Rin sama Ren ke Sea World. Selama ini mereka jarang jalan-jalan," ujar Richard.


"Kakak nggak sibuk?" Hana tahu pekerjaan Richard itu sangat banyak. Waktu 24 jam sehari itu tidak cukup bagi Richard.


"Aku memang masih banyak kerjaan. Tapi aku mau sempetin buat refreshing. Di rumah terus bosen juga."


"Rin, Ren, besok kalian bisa lihat lumba-lumba." Hana memberitahu mereka.


"Ada paus juga," ucap Richard. Paus lah alasan Richard mengajak Ren yang menyukai ikan besar itu.


"Paus?" Ren mulai tertarik. Ia sering melihat paus pembunuh di TV tapi melihatnya secara langsung belum pernah.