
Pagi hari.
Ren sudah bersemangat sejak kemarin. Ia diperbolehkan menonton latihan tim sepak bola Sebastian.
Flashback malam sebelumnya.
Ren sedang berusaha untuk bisa tidur.
"Mama besok om Sebastian yatihannya jam sembiyan pagi?" Ren bertanya.
"Iya. Ren sekarang harus tidur."
"Mama, Ren nggak bisa tidur."
Hana mematikan lampu kamar Ren. "Ren tutup matanya."
"Mama beyum cium Yen."
Hana mencium pelipis Ren. Ia menepuk-nepuk pantat Ren. Saat dirasa Ren sudah terlelap, ia kembali ke kamarnya.
Lucas sedang berusaha menidurkan Ricka. "Kakak Ren besok mau ke stadion lihat om Sebastian latihan. Ricka harus tidur karena besok Ricka mau ikut. Ricka juga mau dapet adik kan?"
Hana menatap tajam Lucas. Ia merasa mereka belum sepaham soal adik Ricka. Hana ingin stop sedangkan Lucas terus mengatakan ingin menambah anak.
Lucas merasakan tatapan tajam Hana. Kalau aku berusaha, suatu saat Hana akan luluh.
Ricka akhirnya bisa tertidur setelah beberapa saat.
Flashback end.
Ren sudah sangat rapi. Ricka juga sudah rapi. Hana sudah mengepak beberapa camilan untuk mereka. Saatnya mereka berangkat.
Hana mengoles sunscreen ke kulit Ren dan Ricka. Ricka nggak boleh tambah coklat lagi. Kulitnya sudah coklat. Kalau tambah hitam nanti Richard bisa marah.
Mereka lalu duduk di kursi penonton. Hana membuka payungnya untuk melindungi Ricka.
Sebastian balas melambaikan tangannya untuk Ren.
Pemain sepak bola mulai berlari keliling lapangan. Bermain selama 90 menit dan bisa lebih jika ada injury time (perpanjangan waktu), akan sangat menguras tenaga mereka. Membuat mereka harus punya stamina lebih.
Setelahnya mereka mulai mengoper bola satu sama lain untuk melatih kontrol bola. Tidak selamanya satu bola menjadi milik satu pemain. Mereka harus bisa mengoper bola ke pemain lain.
Tendangan penalti juga mereka latih jika akhir pertandingan ditentukan oleh tendangan penalti. Ini juga melatih kiper agar bisa memblok bola karena peluang terciptanya gol sangat besar jika terjadi tendangan penalti.
Tempat Hana duduk mulai panas. Ia mencari tempat yang agak teduh. Mereka pindah ke tempat duduk yang agak adem. Ia tak ingin duduk terlalu dekat dengan lapangan. Takut jika ada bola nyasar. Bisa berbahaya bagi Ricka dan Ren.
"Mama, yihat." Ren menirukan gerakan para pemain. Ricka mulai bosan. Ia tertidur lagi.
Pemain sudah selesai berlatih.
"Ren mau latihan sama Om?" Sebastian bertanya dari lapangan.
"Mau." Ren segera turun. Ia sudah memakai seragam sepak bola tim Sebastian sejak dari rumah. Ia juga sudah mengganti sepatunya dengan sepatu sepak bola. Ia sedari tadi ingin ikut berlatih tapi Hana menahannya karena takut mengganggu latihan mereka.
Sebastian dan Ren mulai saling mengoper bola. Sebastian bisa merasakan kekuatan dan keakuratan tendangan Ren. Terutama tendangan dari kaki kiri Ren.
"Sebentar, Om. Kaki Yen mau yepas." Ren duduk di rumput. Ia melepas sepatu kaki kirinya. Membetulkan posisi kaki palsunya.
Sebastian terkejut. Baru pertama kali ini ia melihat kaki palsu Ren. Ia tadi mengira jika kaki Ren hanya terasa sakit bukan lepas beneran.
"Sudah." Ren berdiri lagi. Mereka sekarang mencoba menendang bola dengan kepala. Ren menyundul satu bola.
"Om, sudah ya. Satu kayi aja. Kata mama nanti Yen jadi bodoh kayau Yen sering pakai kepala Yen buat tendang bola." Ren ingat nasihat Hana.
Sebastian jadi mikir sendiri. Apa karena aku sering menyundul bola, jadinya aku jadi bodoh?
Sebastian memang merasa IQ nya sedikit menurun.