
"Kakaaaaa ..." Ricka berteriak sambil menangis. Ia bingung kenapa Hana diam saja.
Ren jadi ikutan menangis melihat Rin ditampar.
"Kakak Rin cuma akting. Ren juga lihat kan waktu kakak Rin latihan sama Tante Rosa." Hana terkadang mengajak Ren melihat Rin latihan akting bersama Rosa.
Hana merasa bingung sendirian menenangkan dua orang anak yang masih kecil-kecil.
Hana sendiri juga merasa sedih. Ia sudah tahu ada adegan Rin ditampar. Ia bahkan melihat Rin berlatih supaya Rin jatuh dengan baik dan tidak terlalu sakit
Richard yang kebetulan lewat dan mengetahui jika Hana membawa Ricka ke lokasi syuting, menyempatkan untuk mampir.
Richard mendengar tangisan Ricka. Ia langsung mengambil Ricka dari gendongan Hana.
"Papaaaaa ... Kakaaaaa ..." Ricka menunjuk lokasi syuting.
Sutradara diberitahu oleh salah satu orang kru kalau Richard datang. Ia segera menemui Richard sambil membawa Rin. Ia berharap kedua adik Rin bisa tenang saat melihat Rin ternyata baik-baik saja.
"Cup, cup, cup." Rin berusaha menenangkan Ren. "Kakak nggak pa pa. Tadi itu cuma akting. Pura-pura. Ren lihat pipi Kakak. Nggak merah, kan?"
Adegan Rin ditampar walau terlihat realistis tetapi hanya permainan angle scene. Suara tamparan juga hanya suara dari tangan lawan main Rin.
Ren melihat seksama wajah Rin. Tidak ada bekas tangan di wajah Rin. "Kakak nggak sakit?" Ren menyentuh pipi Rin.
"Nggak. Tadi Kakak nangisnya juga pura-pura."
Ren akhirnya bisa tenang.
Sekarang Rin beralih ke Ricka. " Oh, Ricka manis." Rin bersenandung mengganti lirik lagu dari Alm. Richie Ricardo "Oh, nona manis" menjadi "Oh, Ricka manis."
"Kakak nggak pa pa."
"Kakak tadi akting. Pura-pura aja." Ricka ingin digendong Rin. Rin mencoba menggendong Ricka tapi ia merasa kesulitan. Ricka terasa agak berat. Rin memilih duduk di kursi sambil memangku Ricka. Ia bermain sebentar bersama Ricka sambil menunggu arahan sutradara yang tampak terlihat berada di samping Richard.
Rin melihat sutradara tampak kebingungan dan khawatir. Sutradara berusaha menjelaskan apa yang terjadi agar Richard tidak salah paham.
Richard mengerti. Ia tahu Ricka salah paham. Richard menghampiri Hana. Ia berkata, "Jika nanti ada syuting adegan Rin disiksa, bawa Ren sama Ricka keluar. Jangan sampai mereka lihat. Nanti mereka nangis lagi."
"Iya, Kak. Aku juga berencana seperti itu. Aku tadi tidak menduga adegan Rin ditampar membuat Ricka dan Ren menangis."
Hana melanjutkan, "Oh iya Kak. Tapi papa bikin onigiri tuna mayo. Bentar. Aku ambil di tas dulu." Hana mengambil onigiri yang ia simpan sebagai bekal.
"Kakak mau yang mana? Ini ori." Hana menggerakkan tangan kanannya.
"Yang ini pedas." Hana menggerakkan tangan kirinya.
Richard mengambil onigiri tuna mayo yang pedas. Ia mulai membuka bungkusnya. Tapi ia kebingungan karena bungkus plastik Nori.
Hana lalu membantu membukakan bungkus plastik onigiri. "Tadinya mau langsung pake nori tapi saran papa lebih baik pakai Nori yang dibungkus satuan supaya tetap krispii."
"Han, kamu makan juga."
"Iya, Kak." Hana buru-buru memakan onigiri. Ia tahu sewaktu-waktu Rin akan syuting lagi. Mengulang adegan yang gagal karena tangisan Ricka.
"Aku bawa teh juga. Teh kurma dan madu. Tehnya ada aroma kurma gitu. Kakak mau? "
Kak Richard kan orang berada. Teh murahan apa ia mau?
Hana pernah melihat di dapur Richard, teh bermerk yang harganya mahal (bisa sepuluh kali lipat harganya dari teh biasa).