
"Han ..." Lucas memanggil Hana.
Hans menoleh. Ia mengira ia dipanggil oleh Lucas. Jantungnya berdetak cepat. ~ Ada apa? Apa aku nggak boleh main lagi di sini?
Hans mendekati Lucas. Lucas melihat Hans. Ia bingung kenapa Hans ada di depannya.
"Do you calll me, Sir?"
"No. I'm calling my wife, Hana."
Hans mengelus dadanya. Ia merasa lega. Ia lalu memanggil Hana. "Aunty, uncle Lucas calling you."
Hana lalu menemui Lucas. Sedangkan Hans bermain lagi bersama Rin.
"Ada apa?"
"Ada berita buruk. Ayahmu ada di rumah sakit. Ia kena stroke. Bukan itu saja ..."
Hana bingung harus bersikap apa. Ia tidak merasa sedih atau kuatir. Ia sudah sedikit banyak menganggap ayahnya tidak ada lagi di dunia ini.
"Fenita dan Frans mengambil alih perusahaan dan kekayaan ayahmu. Ayahmu ditendang begitu saja." Lucas melihat raut muka Hana yang biasa saja. Seperti mendengar berita tentang orang asing saja.
"So ..."
"Apa kamu mau pulang ke Indonesia?"
"Entahlah." Hana dilema. Ia tahu ia anak ayahnya. Sebagai anak yang berbakti tentu saja ia harus pulang. Tapi entah kenapa tak ada rasa iba atau kasihan.
"Pulanglah."
"Anak-anak?"
"Biar aku yang jaga."
"Aku ..." Hana tak ingin meninggalkan Lucas. Kejadian Maria dulu masih membekas.
"Kita pulang sama-sama. Lagipula Minggu depan tugasku di Amerika sudah selesai. Kita harus balik ke Indonesia."
"Mama Berta?"
"Tanyakan ke mama Berta. Kalau ia mau ikut, kita bawa. Tapi jangan paksa dia. Ingat! Indonesia dan Amerika itu sangat beda kebudayaan dan bahasanya."
Hana lalu menemui mama Berta. Ia bertanya. "Mama Berta. Our family will come back to Indonesia. I hope you can come with us."
"I ... I want to go with you."
Hana merasa sangat senang. Ia memang ingin mama Berta ikut dengannya. Mereka berpelukan. Hana mulai bersiap-siap.
Berita Rei akan kembali ke Indonesia sampai ke telinga Hans. ~ My love will go away. I can't see her again.
Hans merasa sedih. Ia belum pernah bilang cinta ke Rei. Sejak salah kasih amplop itu, ia belum bilang apa-apa ke Rei.
"Tell her." Rio menyemangati Hans.
"Is Indonesia people handsome like you?"
"Of course. Indonesia people is handsome and pretty."
Oh no ... ~ Hans takut Rei jatuh cinta dengan orang lain. Hans bermain dengan Rin sambil memikirkan bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya ke Rei.
Saat hendak pulang Hans menemui Rei. Ia berkata. "Rei. I like you." Hans langsung kabur. Mukanya sudah merah.
Rei cuma tercengang. Ia tidak tahu kalau Hans menyukainya. Walaupun teman-temannya bilang kalau Hans selalu melihat dirinya.
Tapi sampai keberangkatan keluarga mereka ke Indonesia, Rei tidak memberi jawaban.
Mereka akhirnya sampai di rumah. Beristirahat sejenak karena masih jet lag. Kemudian Lucas pergi bekerja seperti biasa. Ia melihat mertuanya yang terbaring di ranjang. Tidak ada yang menjenguk bapak Budiman selain dirinya.
Apa mama mertua dan kakak ipar hanya mengincar harta ayah saja?
Di rumah.
"Hana, sesekali lihat ayah." Lucas tahu sakit hati Hana sudah begitu dalam untuk ayahnya.
"Umur ayah mungkin tidak lama lagi." Sebenarnya dukungan keluarga itu sangat penting di saat sakit. Lucas tahu itu. Pasien yang sakit parah bisa saja mencoba bertahan demi keluarganya sehingga bisa sembuh.
"Ayah telah mencoretku dari kartu keluarganya. Ia sudah tidak menganggapku sebagai anak lagi. Dua kali aku memohon kepadanya untuk kesembuhan Ryu karena ia keluargaku satu-satunya. Jadi, buat apa aku menganggapnya sebagai ayah."
Lucas tahu. Ia sangat tahu. Tapi sikap ayah mertuanya itu juga merupakan hasil kesalahannya. Seandainya ia lebih cepat menemukan Hana.
"Bukankah sebenarnya aku yang salah. Aku yang menyebabkan ayah memutuskan hubungan denganmu. Temuilah ayah walau hanya sekali. Aku yakin ia akan menyukainya."
Hana berpikir dan berpikir lagi. Ia sebenarnya masih ada sedikit rasa iba untuk ayahnya. ~ Apa seperti yang Lucas bilang? Lihatlah ayah selagi ia masih hidup. Jangan sampai menyesal saat ia meninggal nantinya.
Hana lalu memutuskan untuk menemui ayahnya. Ia membawa Rin. Ren sengaja ia tinggal di rumah. Ia takut ayahnya malu dan marah melihat kaki Ren. Harga diri ayahnya itu sangat tinggi.
Hana melihat ayahnya yang terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya sudah terlihat sangat tua. Keriput-keriput nampak jelas di wajahnya.
"Hana ..." Ayah Hana berkata dengan mulut yang peyot karena stroke. Ia mengalami pendarahan otak di sebelah kanan yang menyebabkan bagian tubuhnya yang sebelah kiri lumpuh.
Hana hanya terdiam. Suster masuk dan membantu ayah Hana duduk di kursi roda. "Saatnya untuk berjemur, Pak."
"Biar saya yang dorong kursi rodanya, Sus." Hana mengambil alih pegangan kursi roda. Rin yang sudah bisa berjalan tiba-tiba naik ke kursi roda.
"Rin, jangan. Kasihan kakek." Hana melarang.
"Ti ... dak apa ... apa." Ayah Hana mengijinkan Rin duduk di pangkuannya.
"Kakek ..." Rin tersenyum manis di depan kakeknya. Ayah Hana merasa terhibur.
Hana lalu mendorong kursi roda menuju ke taman. Sudah ada beberapa orang di sana dengan tujuan yang sama.
"Ha ... Na ... Ma ... af ... kan ... A ... yah .."
Air mata Hana menetes. Kata maaf telah dikeluarkan dari bibir ayahnya. Ayahnya yang tegas. Ayahnya yang selalu merasa dirinya benar telah mengucapkan kata maaf.
Hana buru-buru menghapus air matanya saat Lucas mendekatinya. Lucas lalu membantu mendorong kursi roda ayah mertuanya menuju ke kamar.
"Rin, waktunya pulang. Ren pasti lapar." Hana mengajak Rin pulang.
Rin merasa ragu. Ia ingin menemani kakeknya.
"Besok kita datang lagi."
Rin lalu mengecup pipi kakeknya dan melambaikan tangannya.
Lucas menemani ayah mertuanya sebentar. Lucas awalnya bertemu beberapa kali dengan ayah mertuanya sebagai dokter. Sampai akhirnya ia mengaku. "Ayah, aku meminta maaf. Aku adalah ayah dari anak-anak Hana."
Butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya ayah Hana mau memaafkan Lucas. Ia melihat Lucas sangat perhatian dengan dirinya. Tidak seperti istri keduanya dan anak tirinya yang membuangnya begitu saja di saat ia sakit.
Lucas lalu memperlihatkan foto-foto Hana dan anak-anaknya. Ayah Hana tersenyum.
"A ... yah ... i ...ngin ... ke ... te ... mu," ucap ayah Hana sedikit pelo akibat stroke.
Karena itulah Lucas mendesak Hana bertemu ayahnya.
Di rumah ...
Rin mulai memasukkan camilannya di tas mungilnya.
"Buat siapa, Rin?"
"Kakek." Rin menjawab. ~ Kan mama bilang kalau besok Rin ketemu kakek lagi.
Hana tahu ia tak boleh membohongi Rin. Rin ingat setiap detail perkataan Hana walau Hana mungkin sudah lupa apa yang pernah ia ucapkan.