Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 40 Polaroid



Rin berjalan menuju kamar Rei. Ia mengetuk pintu. "Kaka Yei." Ia memanggil Rei.


"Masuk aja. Nggak dikunci," ucap Rei dari dalam kamar. Rin berusaha membuka pintu tapi tidak berhasil. Gagang pintu hanya bergerak ke atas dan ke bawah. Rei lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Ada apa, Rin?"


"Pinjam." Rin menunjuk kamera polaroid milik Rei yang sering Rei bawa saat jalan-jalan.


"Rin mau difoto?" Rei mengambil kamera polaroid dan hendak memfoto Rin.


"Rin ... Kakek ..."


""Rin mau foto sama kakek?"


Rin menganggukkan kepalanya. Ia ingin berfoto dengan kakeknya besok. Rei memasukkan kamera polaroid ke tas Rin.


Keesokkan harinya Rin bangun lebih awal. Rencananya Hana dan Rin akan pergi ke rumah sakit bersama-sama Lucas.


Saat tiba di kamar kakeknya, Rin langsung berusaha naik ke atas ranjang. Hana membantu Rin. Ia lalu menaikkan palang pembatas kasur. Ia takut Rin jatuh.


"Mama ... Bubuy." Rin menunjuk rantang berisi bubur yang dibawa Hana.


Ah, iya. Aku lupa.


"Hana tadi beli bubur kesukaan ayah."


Ayah Hana senang bisa mendengar kata "ayah" dari bibir Hana. Sejak kemarin tidak ada kata "ayah" terucap dari mulut Hana.


Hana menaikkan bagian kepala ranjang rumah sakit. Ia hendak menyuapi ayahnya. Saat Hana hendak mendekatkan sendok berisi bubur, Rin mengambil sendok dari tangan Hana. Ia ingin menyuapi kakeknya.


"Akh ..." Rin membuka mulutnya. Ia meniru Hana saat menyuapi dirinya.


"Hati-hati, Rin. Nanti buburnya tumpah." Hana mengingatkan Rin. Ayah Hana memakan bubur suapan Rin.


Setelah selesai makan.


"Foto." Rin meminta Hana memfoto dirinya dengan kakeknya. Rin berpose di sebelah kakeknya. Ayah Hana juga tersenyum. Hana memfoto Rin dan ayahnya dengan kamera polaroid milik Rei.


Rin menggerakkan hasil foto polaroid. Tak lama kemudian perlahan muncul wajah Rin dan kakeknya.


"Mama ... Foto ..." Rin ingin mamanya berfoto dengan kakeknya. Mau tidak mau Hana berfoto dengan ayahnya. Bertiga bersama Rin dengan Lucas yang memfoto.


Hana lalu berpamitan pulang. Ren tidak bisa ia tinggal terlalu lama. "Ayah, aku dan Rin pulang dulu. Besok kami ke sini lagi."


"Rin, ayo pulang."


Rin mendekati kakeknya. Ia mengeluarkan beberapa bungkus camilan dari tasnya. "Kakek."


"Bu ... at ... Ka ...kek?"


Rin menganggukkan kepalanya. Ia juga mengeluarkan boneka plushiie miliknya untuk menemani kakeknya selama di rumah sakit.


"Kakek ... Bye ... Bye ..." Rin pamit pulang. Hana dan Rin pulang ke rumah.


Di kamar rumah sakit tempat ayah Hana dirawat. Bapak Budiman memandangi foto polaroid yang baru saja dijepret tadi. Ada dirinya, Hana, Lucas dan juga Rin.


Semangat hidupnya bangkit lagi. Padahal ia sempat terpuruk saat tidak ada yang peduli dengannya. Setiap istirahat makan siang, Lucas selalu menyempatkan menemui dirinya. Begitu juga saat akan pulang ke rumah, Lucas menyempatkan untuk berpamitan.


Di rumah.


"Hana, aku akan membawa ayah tinggal di sini. Jangan kuatir. Aku akan memanggil suster pria untuk merawat ayah di rumah.


Semangat ayah sepertinya mulai bangkit. Dulu ia selalu murung. Kata suster, ayah bahkan minta cepat-cepat dimandikan karena Rin mau datang menjenguk. Makanannya juga selalu habis. Ayah juga sudah mau mengikuti rehabilitasi."


"Ayah sudah tahu soal kaki Ren. Awalnya ia shock. Tapi aku bilang ke ayah, walau Ren cuma punya satu telapak kaki tapi kalau merangkak nggak kalah sama bayi lain."


Saat ayah Hana diperbolehkan dirawat di rumah, ia lalu dibawa Lucas tinggal bersama keluarganya.


Rei sering menunjukkan bakatnya ke kakeknya. Nari, nyanyi. Semua Rei lakukan untuk menghibur kakeknya. Sedangkan Rin paling senang bisa duduk di pangkuan kakeknya.


Di kamar. Hana menunjukkan sebuah kartu nama ke Lucas. "Waktu tadi aku jalan-jalan sama Rin di taman sama-sama ayah, ada yang deketin aku. Ia bilang ia mau jadiin Rin jadi bintang iklan. Ia dari A+ entertainment." Hana takut orang itu penipu. Karena itu ia meminta pendapat Lucas.


Lucas membaca kartu nama itu. "Suruh aja ia datang ke rumah."


"Eh? Apa nggak pa pa ia datang ke sini? Nanti ia datang terus."


"Nggak pa pa." Lucas tersenyum penuh arti. Hana lalu menelpon orang itu. Ia meminta bertemu di rumah. Dengan segera orang itu datang. Hana mempersilahkan orang itu duduk di ruang tamu. Ia lalu memanggil Lucas.


Pantes aja nggak tertarik anaknya aku jadiin bintang iklan. Orang kaya ternyata. ~ batin Ronald, orang dari A+ entertainment.


Ronald terkejut saat melihat ayah Rin. "Lucas?"


"Ronald. Lama tak jumpa, bro."


"Kapan nikahnya? Aku kok nggak diundang?"


"Udah lama."


"Pa ..." Rei mendekati Lucas.


Rei? Dari Rei's World? Rei anaknya Lucas? ~ Ronald tidak menyangka orang yang ia kira mirip Lucas itu Lucas. (Saat live Instagram Rei yang pernah menunjukkan foto Lucas dan Luke.)


"Apa om boleh foto bareng?"


"Apa om akan posting di Instagram?"


"Iya."


"Tunggu bentar, om." Rei buru-buru masuk kamarnya. Ia membenahi rambutnya. Ia harus tampil rapi saat difoto.


Ronald dan Rei foto bersama. Ronald memposting foto dirinya dan Rei di Instagramnya dengan menge-tag akun Instagram Rei.


Ren juga tiba-tiba muncul sambil merangkak. Ia mendekati Lucas.


"Semua anakmu bibit unggul." Ronald melihat Rei dan Rio yang bisa jadi bintang iklan handphone. Rin yang bisa jadi bintang iklan susu formula. Ren yang bisa menjadi bintang iklan popok bayi.


"Siapa dulu papanya."


"Sifat sombongmu itu nggak pernah berubah."


"Bukannya A+ entertainment itu milik ayahmu?"


"Betul. Tapi sekarang ini aku yang menjadi pimpinannya. Perusahaanku sedang sekarat. Cuma aku yang ada di sana. Karena itu tolong aku. Ijinkan aku jadiin anak-anakmu bintang iklan. Nanti aku akan kasih komisi yang besar."


"Bukan uang masalahnya. Iklan apa dulu? Konsepnya seperti apa?"


"Rei dan Rio iklan handphone. Selama ini iklan handphone kebanyakan pake selebriti berusia 20 tahunan. Padahal segmen pasar untuk anak-anak juga nggak kalah besar. Apalagi Rei yang punya banyak subcriber. Follower Rei pasti pengen beli handphone yang diiklankan Rei. Rin iklan susu formula. Ibu-ibu pasti pengen anaknya seperti Rin. Ren iklan popok bayi. Maaf sebelumnya, kaki Ren yang seperti robot itu akan jadi daya tarik tersendiri."


"Rei mau jadi bintang iklan?" Lucas bertanya ke Rei.


"Rei mau lihat produknya dulu, Pa. Rei takut kalau produknya jelek."


"Denger sendiri, kan? Bawa produknya dulu ke sini. Kalau memang perusahaanmu butuh job, aku ijinkan Rin bantu kamu. Walau kita itu teman tapi tetap harus ada kontrak yang jelas. Kirim kontraknya ke aku. Okay?"


Ronald lalu pamit pulang. Ia mulai membuat kontrak iklan untuk Rin.