
“Ryu ... “ Hana langsung mengambil tisu saat melihat ada darah keluar dari lubang hidung Ryu. Ryu mimisan. Ryu mendongakkan kepalanya ke atas. Lucas yang kebetulan sedang berada di rumah memeriksa Ryu. Ia mengambil stetoskop lalu menaruhnya di dada Ryu. Lucas tahu ada yang salah dengan tubuh Ryu.
Lucas langsung membawa Ryu ke rumah sakit untuk diagnosa lebih lanjut. Dan hasilnya tidak baik. Leukimia Ryu sudah parah. Kondisi Ryu langsung drop. Ryu kritis. Ia masuk ICU lagi.
Sekali lagi Hana berdoa. Meminta kesembuhan untuk Ryu, putra bungsunya. Ryu sadar. Tetapi Ryu tahu waktunya tidak banyak. Ia sewaktu-waktu bisa pergi dari dunia ini. Sambil berbaring Ryu berkata,
“Ma ... Maafin Ryu.”
“Kak ...” Ryu menatap Rei dan Rio.
“Nenek ... Kakek ...”
“Pa ... Jagain mama.”
Alat pembaca detak jantung Ryu berbunyi. Jantung Ryu sudah tidak berdetak lagi. Ryu meninggal.
“Ryu ... Ryu ...” Hana berusaha membangunkan Ryu. Tetapi tubuh Ryu hanya diam.
“RYU ... RYU ...” Hana menggoyang-goyangkan tubuh Ryu lagi. Berharap Ryu dapat hidup kembali.
Ryu dimakamkan di sebelah makam ibu Hana. Rei dan Rio menangis. Tak terkecuali Lucy yang sudah begitu dekat dengan Ryu walaupun mereka baru saja bertemu. Semua anggota keluarga sangat kehilangan Ryu.
“Ryu ...” Air mata Hana mengalir lagi. Terlalu cepat baginya kehilangan Ryu. Hana teringat kembali masa-masa Ryu bayi, masa-masa batitanya. Dan terakhir saat Ryu melukis dirinya, lukisan terakhir dari Ryu.
Di rumah Lucas ...
Hana melihat Luke.
“INI SEMUA SALAHMU. JIKA SAJA KAU MAU MENJADI DONOR LEBIH CEPAT, RYU PASTI MASIH HIDUP.” Hana menyalahkan Luke. Walaupun Hana tahu kematian Ryu itu sudah takdir.
Dulu Hana sudah meminta bantuan Luke berulang kali. Tapi Luke tidak mau. Luke selalu menolak karena ia merasa tidak pernah tidur dengan Hana.
Setiap hari Hana mengurung dirinya di kamar Ryu. Memandang lukisan buatan Ryu. Meratapi kepergian Ryu.
“Ryu ... Kenapa tinggalin mama. Mama masih mau peluk Ryu. Mama masih mau dengar tawa Ryu.” Hana masih terbayang-bayang Ryu.
“Ryu ...” Hana memanggil Rio yang memang sangat mirip dengan Ryu.
“Ini Rio, Ma. Bukan Ryu.”
Di lain hari ...
“Ryu ...” Hana melihat ada sosok Ryu berjalan menuju balkon kamar.
“Ryu ...” Hana berjalan mengikuti bayangan itu. Hana mulai berhalusinasi.
Lucas membawa Hana ke psikiater untuk konsultasi. Dokter mendiagnosis Hana terkena depresi. Sepertinya Hana sudah lama stress tetapi pemicu depresinya adalah kematian Ryu.
“Jika dibiarkan Hana bisa melakukan bunuh diri.” Psikiater itu memberitahu Lucas.
Psikiater lalu memberikan resep obat penenang untuk Hana.
Tetapi tetap saja saat melihat barang-barang milik Ryu, Hana langsung histeris. Lucas langsung mengambil langkah ekstrem. Ia menyingkirkan semua barang milik Ryu. Sebenarnya ia hendak membuangnya tetapi barang-barang Ryu berisi kenangan akan Ryu.
“Mau kamu kemanakan barang-barang Ryu?”
“Mau aku simpan di gudang.” Lucas mulai memindahkan barang-barang milik Ryu.
Hana mengambil kembali barang-barang Ryu dan menaruhnya di posisi semula. Hana hanya merasa bila ia menaruh barang-barang Ryu di tempat seperti biasanya maka seolah-olah Ryu masih hidup. Seolah-olah Ryu masih ada di dunia ini. Seolah-olah Ryu tetap ada di dekatnya.
“Hana ... Hana ... dengarkan aku. Ryu itu sudah mati.” Lucas berusaha membuat Hana sadar. Berusaha agar Hana mau menerima kenyataan bahwa Ryu sudah meninggal.
“Nggak ... Nggak .. Ryu masih hidup. Ryu belum mati.” Hana menangis lagi. Seperti ada dua pribadi di dalam tubuh Hana. Satu pribadi yang sadar bahwa Ryu sudah meninggal. Yang telah melihat Ryu telah dimakamkan. Dan satu pribadi lagi yang menolak kematian Ryu. Yang menganggap Ryu masih hidup.
Lucas tahu kondisi Hana tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia harus melakukan sesuatu. Karena bisa jadi ia juga akan kehilangan Hana. Dan ia tidak mau itu.
Kenangan tentang Ryu ...
Masih teringat jelas di ingatan Hana bagaimana Ryu sewaktu kecil. Ryu yang merupakan anak bungsu selalu terlihat lebih menggemaskan dibandingkan saudara-saudaranya. Dengan pipi yang chubby. Dengan perut yang buncit seperti bakpau. Walaupun anak bungsu tapi Ryu tidak manja malah terkadang Ryu bersikap seperti seorang kakak bagi kakak-kakaknya.
Hana menyadari bakat Ryu saaat Ryu mengambil pulpen dan mencoret-coret tembok rumah mungil mereka. Bila anak kecil akan mencoret secara abstrak. Berbeda dengan Ryu tangan-tangannya dengan mahir menggambar dengan jelas apa yang ia hendak gambar.
Bahkan Ryu pernah membuat konten melukis hyperrealism. Seni melukis yang hasil akhirnya seperti hasil jepretan kamera dengan resolusi tinggi. Sehingga sulit dibedakan mana yang asli dan mana yang merupakan lukisan. Ryu mnghabiskan waktu enam jam untuk menggambar objek yang bahkan tidak bisa dibedakan dari benda aslinya. Dan video itu mendapat sambutan yang baik di Rei’s world, channel YouTube kakaknya.
Hana masih mengingat saat ia membawa Ryu ikut lomba lukis. Alat-alat yang dibawa Ryu alat melukis yang sederhana. Berbeda dengan kontestan lain yang membawa alat lukis yang bermerk dan mahal. Tetapi hasil lukisan Ryu lah yang menjadi juara.
Hana juga ingin mengembangkan bakat Ryu dengan membawanya ke guru seni. Tetapi dalam waktu singkat Ryu sudah menguasai semua materi.
Guru seninya sangat takjub bahkan memberi julukan ke Ryu Little Van Gogh. Nama salah satu pelukis terkenal yang dikagumi banyak orang.
Hana juga menabung hasil penjualan lukisan Ryu untuk biaya Ryu belajar di luar negri dengan harapan bila Ryu belajar di luar ia akan bisa lebih berkembang lagi. Karena peseni di luar negri sepertinya lebih dihargai dibandingkan di dalam negri.
Tetapi kinginan Hana untuk membawa Ryu ke luar negri tidak bisa ia wujudkan. Ryu sudah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Dan seandainya Hana bisa bertukar posisi pastilah Hana yang akan menggantikan Ryu. Ryu harus tetap hidup. ~ begitu pikir Hana.
Apalagi saat Ryu pertama kali terkena leukimia. Berkali-kali Ryu harus menjalani kemoterapi. Dan Ryu lolos dari maut. Tetapi sekarang Ryu sudah berada di surga bersama neneknya.
Hana menjadi lebih sering melamun sekarang. Rei dan Rio sudah tidak ia pedulikan lagi karena kesedihannya kehilangan Ryu. Lucas tahu ia harus punya melakukan sesuatu untuk mengobati Hana. Tidak baik bagi mental Rei dan Rio bila terus melihat ibunya dalam kondisi mental yang sangat down.
Lucas akhirnya berunding dengan ayah dan ibunya. Ia akan mengambil cuti dan mengajak Hana berlibur ke tempat yang mungkin bisa membuat Hana tenang.