
Selesai menyuapi Richard, Hana turun ke lantai bawah menuju mini market rumah sakit untuk membeli krim cukur dan pisau cukur serta after shave cream. Ia lalu ke lantai atas tempat kamar Richard berada. Ia mengubah posisi ranjang Richard dan membantu Richard untuk duduk. Hana menaruh handuk di dada Richard.
Richard cuma bisa pasrah. Hana mulai menaruh krim cukur di jenggot Richard. "Kau bisa mencukur?"
"Suamiku kadang minta aku untuk mencukur janggutnya. Aku sudah terbiasa tapi kadang. Kadang, nggak sering, tanganku tergelincir dan bikin luka. Jadi, kakak diam aja. Jangan gerak-gerak."
Hana mulai mencukur jenggot dan kumis Richard. Dimulai dari sisi kiri lalu sisi kanan. Ia lalu mengelapnya dengan handuk yang lain. Kemudian memberi after shave cream untuk melembapkan wajah Richard.
"Kak, sudah nggak mandi berapa hari?" Hana sedari tadi mencium aroma tidak sedap dari Richard.
"Satu bulan."
"APA!?"
"Satu Minggu. Kamu mau mandiin aku?" Richard tersenyum. Rebecca akhirnya bisa melihat senyum Richard setelah sekian lama. ~ Hana, terima kasih.
"Aku panggil suster pria untuk bantu kakak mandi. Kasihan orang di sekitar kakak. Nanti pingsan." Hana lalu memanggil suster pria untuk membantu Richard mandi.
Saat Richard di kamar mandi, Hana melihat sekelilingnya. Tadi saja saat masuk ia sudah takjub dengan adanya ruang dapur lengkap dengan kompor dan lemari dapur. Ditambah lagi ruangan pasien yang luas dan ada ruang lain lengkap dengan sofa. ~ Ini yang namanya VVVIP. Satu keluarga bisa tinggal di sini.
Setelah beberapa saat Richard keluar dari kamar mandi. Tubuhnya tampak bersih dan rapi. Sangat berbeda dari saat pertama Hana melihat Richard.
Hana berjalan menuju TV dan memasukkan ujung USB. Video berputar. Video Rin saat masih bayi dan juga beberapa video Ren. Richard tersenyum. Sesekali terdengar tawanya. Tingkah Rin dan Ren di video tampak lucu.
Usia Rin dan Ren tidak terlalu jauh. Kadang mereka bersaing mendapatkan perhatian Hana.
"Lucas? Mertuamu?"
"Mereka menyerahkan semua keputusan di tanganku " ~ Mereka juga ingin kau tetap hidup.
"Kau mau karena kasihan?"
"Aku mau karena ..." Hana menyentuh wajah Richard.
"Karena wajah setampan ini sangat sayang jika hanya jadi milik kakak." Tangan Hana mencubit di kedua sisi pipi Richard.
Richard menggenggam tangan Hana. "Terima kasih, ibu dari anakku."
Richard mulai bersemangat untuk tetap hidup. Siapa yang akan menjaga putranya jika ia mati.
Hana lalu pulang ke rumah saat hari sudah malam. Ia melihat anak-anaknya sudah tidur. Ia mencium pipi putra dan putrinya. Ia ingin segera merebahkan dirinya.
Hana mengganti pakaiannya dengan piyama. Ia berkata ke Lucas. "Maafkan aku. Aku ingin kak Richard tetap hidup. Aku tak bisa membiarkan dirinya pergi dengan cara mengakhiri hidupnya sendiri." Hana tak ingin Richard terjun bebas ke neraka.
"Aku yang seharusnya meminta maaf padamu dan Richard. Aku yang ..."
Hana memotong perkataan Lucas. Ia meletakkan jari telunjuknya ke bibir Lucas. "Itu sudah masa lalu. Itu sudah suratan takdir. Kita sudah tak bisa mengubahnya lagi."
Hana mendekat ke tubuh Lucas. Lucas memeluk Hana. Lucas tahu jika Hana juga punya banyak pertimbangan mengingat nama Hana sekarang sudah bukan Hana Budiman lagi tapi Hana Adiwijaya.