Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 162 Sekotak Makanan Yang Menghangatkan Hati



Syuting dimulai kembali. Semua orang di lokasi syuting menjadi tenang.


"Action." Sutradara memberi aba-aba setelah kru yang bertugas menepuk papan slate membacakan saat ini slate ke berapa, scene ke berapa, dan take ke berapa.


Kamera menyorot Putra dan Putri yang sedang duduk menunggu hujan reda.


Setelah hujan berhenti.


Putra membangunkan Putri. "Put ... Put ..." Putra menepuk ringan kepala Putri. Ia harus membangunkan Putri karena sudah waktunya mereka makan. Ia tak ingin Putri sakit maag. Tidak mungkin juga ia meninggalkan Putri sendirian.


Satu setengah keping malkist hanya bisa menahan lapar dalam jangka waktu tidak lama.


Putri terbangun. Pertama-tama ia membuka matanya lalu menguap.


"Ayo kita beli makanan." Putra mulai berdiri. Putri ikut berdiri. Putri masih sedikit oleng karena baru terbangun.


Seorang ibu membawa kantong coklat berisi makanan untuk mereka. "Ini untuk kalian."


"Terima kasih, Tante." Putra dan Putri bersuka cita.


Saat ibu yang memberi mereka makanan sudah tidak terlihat, Putra membuka kantong itu. Ada dua box happy meal.


"Kak, lihat." Putri senang melihat dua bungkus mainan.


Putra membuka bungkus nasi dan memberikannya ke Putri. "Makan dulu, Put. Mainannya ditaruh dulu."


Putri menaruh nasi di lantai. Ia mulai menyantap nasi dan ayam goreng yang masih hangat itu.


Sangat jarang mereka bisa memakan ayam goreng. Biasanya Putra membeli tempe, tahu goreng atau lauk yang murah.


Bukannya Putra tidak bisa membeli ayam goreng. Ia harus berhemat. Ia mulai menabung karena ingin menyekolahkan Putri. Walau ia tidak sekolah, Putri harus sekolah, pikirnya.


"Tante tadi baik ya, Kak." Putri menyantap nasi dan ayam yang sudah dicocol saus tomat.


"Iya."


"Uhuk ... Uhuk ..." Putri mulai batuk. Ada nasi yang tersangkut di tenggorokannya. Ia segera meminum susu kotak.


Terdengar suara dari Farel Prayoga menyanyikan lagu "Ojo Dibandingke".


Putri berkata, "Kak, lagu ini sering Putri dengar. Kayaknya Putri harus belajar lagu ini." Putri mulai menghafal lagu itu. Putri mendengarkan lagu itu dengan seksama. ia langsung bisa menghafal lirik dan nadanya.


Mereka akhirnya selesai makan.


Putra melihat ke langit yang mendung kembali. Ia memutuskan untuk pulang ke gudang tempat mereka bernaung.


"Cut," teriak Sutradara. Mereka memonitor lagi rekaman adegan tadi.


Sedangkan Ren mulai mendekati mainan happy meal yang tergeletak di lantai. Ia hendak membuka bungkus plastik itu.


Tapi Hana melarang. "Ren itu properti syuting. Nanti pasti dipakai lagi untuk adegan selanjutnya. Ren juga harus ijin dulu sebelum ambil barang yang bukan punya Ren. Nanti pulang dari sini, Mama beliin happy meal buat Ren." Hana menasehati Ren. Sebagai orang tua, ia harus berulang kali mengajarkan hal-hal yang seharusnya untuk anak-anaknya.


Ren menaruh kembali mainan yang hampir saja ia robek bungkusnya. Ia menunjukkan telapak tangan kanannya.


"Lima? Ren mau lima kotak?"


Ren sekarang menunjukan seluruh jari-jari tangan.


"Sepuluh? Ren bisa habis?"


"Bisa. Kalau Yen nggak habis, nanti Yen minta tolong kakak Yei, kakak Yio, papa, opa, Oma."


Seorang kru mendekati Ren. Ia tadi mendengarkan percakapan Ren dan Hana. Ia memberikan dua kotak happy meal untuk Ren.


"Buat Yen, Tante?" Ren menerimanya.


"Iya."


"Eh? Apa nggak pa pa dikasihkan ke Ren?" Hana bertanya.


"Tidak apa-apa. Kami memang menyiapkan beberapa kotak happy meal untuk cadangan jika adegannya diulang," ucap kru itu.


"Terima kasih. Ren bilang terima kasih juga ke Tante."


"Teyima kasih Tante."


"Sama sama. Saya permisi dulu." Kru itu beranjak pergi.


Ren mau langsung memakannya. Hana mencari tempat agar Ren bisa makan dengan tenang.