
Sebelum berangkat ke Indonesia, Martha memberikan misi ke putra-putranya, Matthew dan Mark.
"Ingat! Matthew sama Mark harus bisa mengambil hati papa Lucas dan papa Richard."
Matthew dan Mark menganggukkan kepala mereka.
"Papa Lucas mudah untuk diluluhkan. Tetapi papa Richard agak sulit orangnya."
Martin setuju.
Martha melanjutkan. "Matthew harus bantu Mark."
"Iya." Matthew menjawab.
Martha lalu memberikan dua botol anggur untuk diberikan ke Lucas dan Richard.
Martha masih ingat saat mereka mengunjungi Hana yang baru saja melahirkan di Milan.
Mark terus menatap Ricka. Sedangkan Martha berbincang dengan Richard.
"Ricka akan mewarisi usahaku. Kemungkinan besar Mark akan tinggal di Indonesia." Richard mencari alasan. Sangat jarang seorang pria akan mau mengikuti istrinya. Biasanya sang istri yang mengikuti suaminya.
"Mark mau tinggal di Indonesia?" Martha bertanya ke Mark.
Mark menjawab. "Mau."
"Sudah selesai masalahnya." Martha selalu punya jawaban untuk alasan-alasan Richard.
Flashback end.
Lucas sedang menghirup aroma dari segelas wine yang baru saja ia dapat dari Matthew. Ia lalu menggoyang-goyangkan gelas wine dan menyesapnya.
Aromanya, rasanya perfecto.
Lucas belum pernah merasakan wine seenak ini. Hana cuma bisa menahan liur. Ia sedang menyusui Ricka. Jadi, tidak mungkin ia meminum minuman beralkohol.
"Bagaimana rasanya?" Hana penasaran karena Lucas begitu menikmatinya.
"Delicioso." Lucas menghabiskan segelas anggur.
"Jangan dihabiskan. Setelah aku menyapih Ricka, aku mau coba." Air liur Hana menetes.
"Iya." Lucas menaruh sisa wine ke dalam lemari khusus wine.
Sedangkan di rumah sebelah, Richard juga sedang menikmati wine yang dibawa Mark. Ia juga menyukai aroma dan rasa wine yang unik dan belum pernah ia rasakan itu.
Kembali lagi ke rumah Hana. Rin dan Matthew sedang bermain bersama.
"Rin besok mau syuting." Rin memberitahu Matthew.
"Matt mau ikut."
"Rin telepon om Ronald dulu." Rin mencoba menelpon Ronald. Tapi terdengar bunyi. "Pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan. Silakan mengisi pulsa anda terlebih dahulu."
"Pulsa Rin habis." Rin hendak meminta Hana untuk mengisi pulsa hp-nya.
"Matthew aja yang isi." Matthew menekan tombol-tombol di ponselnya lalu mengirim pulsa untuk Rin.
"Thank you." Rin lalu mencoba menghubungi Ronald.
"Iya, Rin." Ronald menjawab.
"Om, besok Matthew mau ikut syuting. Boleh?"
Ronald tidak segera menjawab. Membawa satu anak kecil untuk syuting itu ribet. Apalagi dua. Bule lagi. Aku nggak bisa bahasa Inggris. Tapi kan ada Rin.
"Boleh ya Om Ronald?" Rin berusaha membujuk Ronald.
"Iya. Boleh."
Rin senang Matthew boleh ikut menemani dirinya syuting.
Keesokkan harinya.
Matthew sudah bersiap-siap. Ia akan pergi ke lokasi syuting bersama Rin.
Di lokasi syuting Matthew membantu Rin. Saat Rin kepanasan, Matthew menyalakan kipas angin mini di dekat Rin. Saat Rin kehausan, ia memberi Rin air minum.
"Thank you."
Di sela-sela syuting Rin dan Matthew bermain bersama. Ronald mengawasi dari kejauhan sambil berkenalan dengan kru syuting. Siapa tahu ada yang mau ajak Rin syuting.
Rin sedang syuting iklan minuman. Sutradara yang perfeksionis meminta Rin mengulang dan mengulang lagi adegan Rin meminum jus buah dalam kemasan itu.
Rin sudah diberitahu oleh Ronald sebelum syuting. "Rin, nanti mungkin sutradaranya bakal minta Rin syuting minum jusnya bolak-balik. Rin pura-pura aja minumnya. Kalau Rin minum beneran, nanti Rin kembung."
"Iya."
Selama syuting, Rin hanya meminum sedikit demi sedikit sehingga perutnya tidak penuh.