Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 22 Rin Bikin Tercengang



Hana sudah bisa meluruskan salah paham yang terjadi antara dirinya dan Lucas. Lucas juga sudah merasa tenang. Ia mengijinkan Hana tetap berteman dengan Robert. Lagipula sebelum Hana mengenalnya, Hana sudah mengenal Robert terlebih dahulu.


Robert berkunjung ke rumah Hana. Saat ini ia sedang memangku Rin. Rin memandang takjub tato-tato di lengan Robert. Terutama tato huruf dan angka.


“Rin itu punya kecerdasan visual dan kecerdasan audio. Kalau kau sebutkan itu angka berapa, Rin akan bisa menunjuknya," ucap Hana.


Robert tidak percaya.


Rin itu belum berumur satu tahun.


Nggak mungkin ia tahu angka dan huruf.


Hana pasti boong.


Tapi Robert penasaran. Ia menunjuk gambar angka-angka yang ada di lengannya.


“Satu ...” Robert menunjuk angka satu.


“Dua ... Tiga ... Empat ... Lima.”


Rin yang memang menyukai angka dan huruf mendengarkan dan melihat angka yang ditunjuk Robert.


“Angka satu mana, Rin?” Robert bertanya. Ia menguji Rin.


Rin seketika itu juga menunjuk angka satu.


Robert sangat terkejut.


Mungkin Rin cuma ingat satu angka.


“Angka empat yang mana, Rin?” Robert menyebut angka acak.


Tangan mungil Rin menunjuk angka empat yang seperti kursi terbalik.


“Woow ... Unbelievable.” Robert terkesima.


Sekarang Robert mulai menyebut huruf-huruf yang ada di lengannya.


“A ... B ... C ... D ... E ....”


“Huruf C mana, Rin?”


Rin langsung menunjuk huruf C.


“Hana ... Seandainya kegeniusan Rin pindah sedikit ke kamu.” Robert meledek Hana.


“Kau mengejekku?” Hana mendekati Rin hendak mengambil Rin.


“Jangan ... Aku masih kangen Rin.” Robert mencium pipi Rin.


Rin yang merasa gatal dengan kumis tipis Robert menggaruk-garuk pipinya.


“Untung saja Rin tidak seperti papanya. Ia lebih mirip Lucas.” celetuk Lucy. Kepintaran Luke dan Lucas sangat berbanding jauh dalam bidang akademi. Membuat Lucy kawatir jika Rin sekolah, nilai-nilainya akan rendah seperti Luke.


Lucy langsung diam saat sadar apa yang ia sudah ucapkan. Robert itu orang luar. Ia hanya tahu Rin itu anak Lucas.


Robert yang mendngar perkataan Lucy jadi agak bingung.


Lucas itu dokter, kan?


Sudah pasti ia pintar.


Rin lebih mirip Lucas?


Apa jangan-jangan Rin itu anak orang lain?


Tapi nggak mungkin.


Wajah Rin dan kakak-kakaknya itu mirip.


Robert berhenti memikirkan hal itu saat Rin menyentuh lengannya. Rin menunjuk gambar ular. Ia ingin Robert menyebut nama gambar itu.


“Ini ular, Rin.”


“Ini puppy.”


Robert mengajari Rin nama-nama dari gambar tatonya.


“Rin ... Ucapin paman.” Robert ingin mendengar kata paman dari Rin.


“Pa ... man ...”


Rin memperhatikan dengan seksama bentuk bibir Robert.


“Pa ...”


“Pa ...” Rin meniru ucapan Robert.


“Man.”


“Ma.”


“Paman.”


“Pa ... pa ...” Rin menyebut suku kata pertama saja.


“Hana ... Rin baru aja panggil aku papa.” Robert senang bukan main. Ia dipanggil papa oleh Rin.


“Kakek ..”


“Kaka ...”


“Rin ... Kakek ... bukan kaka. Tapi nggak pa pa biar kakek tetap awet muda.”


Sekarang giliran Lucy, “Nenek ...”


“Nene ...”


Lucy tersenyum. Rin juga ikut tersenyum lebar ~ Kenapa semua orang ingin disebut.


Hana tidak ikut-ikutan. Rin sudah bisa memanggilnya mama walaupun terkadang Hana merasa Rin berkata Mama karena ia lapar dan minta makan.


Lucas baru saja datang dari rumah sakit. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Walaupun Rin sudah ingin minta digendong Lucas. Lucas yang bekerja di rumah sakit hanya takut jika ada virus yang masih menempel di tubuhnya. Ia tak ingin Rin jatuh sakit.


“Bentar, Rin. Papa mandi dulu.” Lucas menutup pintu kamar mandi. Rin dengan sabar duduk menunggu di depan kamar mandi.


“Rin lebih sayang papanya daripada mamanya.” Robert berkomentar.


“Iya ... Padahal aku yang mengandung Rin selama sembilan bulan. Melahirkannya. Menjaganya. Tapi ia lebih lengket sama Lucas.”


Robert ingin bertanya tentang ucapan Lucy yang bilang kalau Rin tidak seperti papanya tapi Robert untuk sementara menyimpannya dalam hati.


Tapi rumor yang beredar di kota A langsung sampai di telinga Robert.


“Katanya Rin itu bukan anak Lucas.” Seorang teman Robert di kota A memberitahu Robert.


“Rin anak adopsi?”


“Rin itu anak kandung Hana, tapi ayahnya bukan Lucas.”


“Jadi, anak-anak Hana itu ayahnya bukan Lucas.”


“Cuma Rin aja. Rei dan Rio itu anak Hana dan Lucas.”


“Kok bisa?”


“Jangan beritahu siap-siapa, ya. Rin itu dapat warisan seluruh harta Luke.”


“Luke?” Siapa lagi ini?


“Luke itu adik kembar Lucas.”


Pantas wajah Rin mirip Rei dan Rio.


“Hana itu sudah bercerai dari Lucas saat mengandung Rin. Ada yang bilang Hana diperko** Luke di dalam hotel.”


APAAAAA!


“Ceritakan semua yang kau tahu tentang Hana, tentang anak-anaknya dan tentang Lucas juga Luke.”


“Jadi gini ceritanya ...”


Mendengar kisah Hana membuat Robert antara geram dan sedih.


Seandainya Luke masih hidup. Ia akan langsung menghabisinya.


Sedih karena Hana saat ini terlihat baik-baik saja.


Saat Robert bertemu Hana yang sedang mengajak Rin jalan-jalan ke taman dekat rumah, ia bertanya ke Hana semua yang diceritakan temannya.


“Semuanya benar. Tapi aku harap kau bisa merahasiakan dari Rin siapa ayah kandungnya. Aku dan Lucas akan memberitahu Rin jika Rin sudah agak besar dan bisa mengerti.”


“Kenapa kau nggak cerita ke aku?”


“Kau ke sini untuk belajar jadi tato artis, kan? Aku tak ingin mengganggumu. Selama aku bisa mengatasinya, aku akan tetap diam.”


Rin yang tadinya tertidur di stroller terbangun. Ia melihat Robert dan menjulurkan kedua tangan mungilnya. Rin minta digendong Robert.


Robert menggendong Rin. Rin melihat air mata yang jatuh di pipi Robert. Ia lalu memngusapnya dengan tangan mungilnya dan mengecup pipi Robert seakan-akan hendak menghibur Robert dan tak ingin Robert menangis lagi.


Tapi perhatian Rin beralih ke lengan Robert ada tato baru di sana. Gambar bunga.


Tangan mungil Rin menunjuk gambar bunga berwarna merah. Persis tato bunga mawar di perut Hana.


“Ini mawar, Rin. Rose.”


“Robert ... semakin tua, kau semakin cengeng. Kalah sama Rin. Rin jarang menangis. Kecuali kalau ia sudah lapar berat.”


Hana lalu mengambil susu botol milik Rin. Mengisinya dengan air panas dari termos mini. Dan mencicipinya.


“Kau juga. Sudah ibu-ibu. Anak mau lima, tetap aja suka ngent*t.” Robert melihat Hana yang mencicipi susu Rin langsung dari dotnya.


“Tapi selain ini, aku juga ...” Hana tidak menyelesaikan kalimatnya. Terlalu 21+. Bakal disensor sama pihak Novel Toon.


“Aku juga apa? Punyanya Lucas?”


Pipi Hana memerah.


“Bukan yang 21+.” Hana tak ingin Robert salah paham.


“Tapi pipimu sudah kayak kepiting rebus itu.” Robert menggoda Hana.