
Hana mengajak Rin pergi ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan rumah tangga. Hana hendak memasukkan Rin ke troli tapi Rin ingin berjalan sendiri.
Hana melihat-lihat beberapa barang. "Rin, mau makan ini?" Hana tidak melihat Rin di dekatnya.
Di mana Rin? ~ Hana mulai panik. Ia mencoba mencari Rin tapi Rin tidak terlihat batang hidungnya.
Hana berusaha tenang. Ia menanyakan letak kantor supermarket. Ia hendak memberitahu kalau anaknya hilang.
Sementara itu di tempat Rin berada.
Mama ... ~ Rin juga tidak melihat Hana di dekatnya. Ia berjalan ke kiri lalu ke kanan tapi Hana tidak terlihat. ~ Mama mana?
Rin lalu mendatangi seorang wanita. "Kakak, pinjam hp." Ia ingin meminjam ponsel untuk menelpon orang tuanya.
"Adik kecil, mamanya mana?"
"Mama hiyang."
Wanita itu lalu mengeluarkan ponselnya.
"Zeyo ..." Rin menyebut nomor hp orang tuanya.
"Zeyo?"
"Zeyo." Rin membuat angka nol dengan jari tangan kanannya.
"Eit."
Eit? ~ Wanita itu menghitung dengan jarinya. One, two, three, four, five, six, seven, eight. Angka delapan.
"Wan, ..." Rin mengucapkan nomor ponsel orang tuanya. Panggilan tersambung. Lucas kebetulan sedang beristirahat saat ponselnya berbunyi.
Lucas melihat layar ponselnya. ~ Nomor tidak dikenal.
Tapi Lucas tetap mengangkatnya karena ada kemungkinan ada yang membutuhkan bantuannya.
"Halo ..."
"Hayo. Papa ..." Rin berbicara dengan Lucas.
"Rin?" Lucas mengenali suara Rin. Ia mulai khawatir dan cemas mendengar suara Rin dari ponsel tidak dikenal. ~ Jangan-jangan Rin diculik?
"Rin, mama mana?"
"Mama hiyang."
Bukan mama yang hilang tapi Rin yang hilang.
"Yin mau cayi mama." Rin menyerahkan ponsel wanita itu dan berkata "Teyima kasih."
"Halo ..." Wanita pemilik ponsel berbicara dengan Lucas. Tak lama kemudian ia mendengar pengumuman.
"Telah hilang anak perempuan bernama Rin berusia dua tahun. Dengan ciri-ciri memakai pakaian berwarna pink dengan tas ransel kecil dengan gantungan kunci tengkorak. Yang menemukannya, harap membawanya ke kantor supermarket. Ibunya sedang menunggunya di sini. Terima kasih."
Wanita itu memperhatikan Rin. ~ Baju pink, pake ransel mini, ada gantungan kunci tengkorak. Ia lalu berbicara dengan Lucas. "Baru saja tadi ada pengumuman anak hilang. Saya akan membawa anak Anda ke kantor supermarket."
"Terima kasih banyak." Lucas sangat berterima kasih pada wanita itu.
"Adik kecil namanya siapa?"
"Yin."
"Yin?"
"Yin."
Hana akhirnya bertemu Rin. Ia sangat berterima kasih dengan wanita itu. Hana mengeluarkan dompetnya. Ia hendak memberi reward untuk wanita itu. Tapi wanita itu menolaknya. "Saya ikhlas membantu anda."
"Terima kasih banyak sudah membantu saya. Tapi ijinkan saya mengajak anda makan siang." Hana merasa harus memberi wanita itu sesuatu. Wanita itu setuju.
Hana, Rin dan wanita itu lalu makan siang bersama. Hana dan Rin lalu melanjutkan berbelanja. Mereka lalu membayar di kasir.
Apa mesinnya rusak? ~ Hana sudah mencoba beberapa kali tapi mesin itu tetap berbunyi. Petugas keamanan membawa Hana ke kantor untuk digeledah. Tapi barang-barang Hana sudah dibayar semuanya.
Petugas itu lalu menggeledah tas ransel mungil milik Rin. Ia menemukan satu mainan mobil-mobilan mini. Hana terkejut. Ia tidak memarahi Rin. Ia tahu Rin masih kecil. Rin belum paham.
"Rin, kalau Rin ambil barang di toko, Rin harus bayar dulu di kasir seperti mama tadi."
"Saya meminta maaf." Hana meminta maaf karena sudah merepotkan. Ia tadi juga sempat malu dikira pencuri. Tapi untunglah pengunjung supermarket tidak terlalu banyak.
Hana lalu memberi Rin selembar uang dua puluh ribuan. Rin membawa mobil mainan itu di kasir. Ia membayarnya dengan uang pemberian Hana.
Hana dan Rin pulang ke rumah. Rin hendak memberikan mobil mainan itu ke Ren.
"Jangan, Rin. Ren masih kecil. Mama takut Ren tertelan bagian-bagian mobil yang masih kecil." Hana melarang Rin memberikan mobil mainan itu ke Ren. Kejadian saat Ren tertelan kelereng di Amerika masih membekas diingatannya. Saat itu ia beruntung Lucas tidak panik dan menengkurapkan Ren. Menepuk-nepuk punggung Ren lalu kelereng pun keluar.
Hana masih ingat saat itu. Ia benar-benar lemas saat melihat Ren sesak nafas. Ia mengira Ren akan menyusul Ryu.
Rin lalu bermain dengan mobil yang baru saja ia beli tadi.
Saat malam. Saat Lucas sudah berada di rumah. Saat pillow talk.
"Aku nggak habis pikir Rin bisa ingat nomor ponselmu. Aku tidak menduganya. Ia pintar sepertimu."
"Sebenarnya Rin lebih mirip ayahnya, Luke. Luke itu lebih genius dari aku."
"Tapi papa dan mama bilang kalau nilai pelajaran Luke itu rendah. Bahkan hampir tidak naik kelas."
"Luke itu sangat pintar. Sekali mendengar, sekali melihat, ia langsung ingat. Karena itu ia merasa mudah bosan. Ia sengaja menulis jawaban yang salah. Ia tak ingin rangking 1 atau menerima peringkat tinggi. Ia ingin aku yang jadi juara kelas."
Lucas melihat Rin yang sudah tertidur bangun lagi. Ia ingin digendong Lucas. Lucas menggendong Rin lalu menepuk-nepuk punggung Rin supaya tertidur lagi. Tapi Rin ingin pergi ke dapur. Ia merasa lapar dan ingin makan sesuatu.
"Rin mau apa?" Lucas membuka kulkas.
Rin menunjuk smoked beef dan roti tawar.
"Rin tunggu sebentar di sini." Lucas menaruh Rin di kursi anak. Ia lalu membuat sandwich panggang untuk Rin. Setelah selesai ia mendapati Rin tertidur di kursi. Ia lalu menaruh Rin di box bayinya.
"Hana, aku baru aja bikin smoked beef sandwich buat Rin. Tapi yang mau makan malah tidur." Lucas lalu membawa baki makanan ke kamar. Mereka makan bersama.
"Han, kau nggak pengen tambah anak lagi?" Lucas berkata tiba-tiba.
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..." Hana batuk. Ia tidak menduganya. Lucas menyodorkan gelas berisi air. Hana meminumnya lalu melihat Lucas. "Kau mau nambah anak lagi?"
Lucas menganggukkan kepalanya.
"Anak kita sudah empat. Apa itu nggak cukup?"
"Masih kurang."
"Kau pengennya punya anak berapa?"
"Sebanyak mungkin."
Hana terdiam.
"Kamu nggak mau nambah anak lagi?" Lucas bertanya sesuatu yang ia sudah tahu jawabannya. Ia tahu Hana ingin berhenti punya anak.
"Aku merasa empat anak itu sudah cukup." Hana menolak tegas.
"Kalau aku kasih satu milyar untuk satu anak, kamu mau lahirin lagi?"
Satu milyar? ~ Hana merasa tergiur. Ia tahu Lucas itu tahu sisi lemahnya yaitu uang.
"Satu milyar masih kurang? Dua milyar bagaimana?" Lucas berusaha merayu Hana. Tapi Hana tetap diam.
Dua milyar? Kalau aku diam lebih lama lagi mungkin bakal jadi tiga milyar. ~ Hana hendak setuju untuk punya anak lagi.
"Tiga milyar. Deal?" Lucas mengulurkan tangannya.