
Rin dan Marlon melanjutkan syuting outdoor.
"Mayie mau bantu Gyanpa." Marie hendak mengambil kantong belanja. Albert memberikan kantong belanja yang lebih ringan.
Dalam perjalanan pulang Albert melihat troli bekas. Ia mengambilnya dan menaruh kantong belanjanya serta Marie. Marie senang berada di troli. Ia seperti sedang mengendarai mobil.
Albert membawa Marie ke tempat air minum. Ia mengambil air minum dan menampungnya di botol.
"Cut."
Lucas melihat Rin yang berkeringat. Hari ini hawa agak terasa panas. Untung saja tadi Lucas sudah mengoleskan sunscreen ke Rin.
Sementara itu di apartemen. Chef Pierre sedang membuat banyak bombolini. Rencananya Hana dan Ren akan pergi ke lokasi syuting untuk membagikan bombolini.
* Bombolini \= seperti donat tapi tidak bolong. Diisi berbagai macam filling, biasanya selai atau krim.
Ren memperhatikan chef Pierre membuat adonan. Mixer bergerak mengaduk adonan. Chef Pierre kemudian mencetak adonan. Menggoreng adonan. Sekarang bombolini siap diisi filling.
Ren hendak ikut membantu.
"Mama mau tanya Ren. Nama papa siapa, Ren?" Hana ingin Ren bisa menyebut nama Lucas.
"Kuykas."
"Lucas. Bukan kulkas. Coba sekali lagi. Lucas." Walaupun Lucas dan Kulkas sama-sama ada "kas" nya.
"Kuykas."
"Kalau ini namanya apa?" Hana menunjuk bombolini yang kosong.
"Bomboyini."
"Ini?"
"Tiyamisu. I Miss you." Ren menunjukkan finger heart dengan tangan mungilnya.
Ren, Ren. Nama makanan dan nama pesepak bola aja yang diingat.
Ren mencoba membantu mengisi filling. Selain itu ia juga "menghias" bombolini.
Hana dan Ren pergi menuju lokasi syuting. Ren membantu membagikan bombolini untuk kru film.
"Terima kasih."
"Thank you."
"Ini Ren yang isi." Hana membuka sekotak bombolini yang isinya melimpah ruah.
Selesai makan, Rin dan Ren main bersama. Mereka berdua saat ini berada di troli dengan salah seorang kru yang mendorong troli
"Rin bagaimana syutingnya?" Hana bertanya.ke Lucas yang duduk sambil mengawasi Rin dan Ren.
"Bagus. Rin bisa berekspresi dan dialognya juga lancar." Lucas menjadi yakin jika bakat Rin di bidang akting. Walaupun pada awalnya ia menginginkan Rin menjadi dokter seperti dirinya.
"Apa sutradara ..." Hana belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Brukkk ..." Tiba-tiba terdengar seperti barang berat terjatuh. Lucas menuju ke asal suara. Sutradara pingsan.
Sepertinya ini serangan jantung. Lucas memeriksa denyut nadi. "Call 911."
Ia melakukan CPR. Tak lama kemudian ambulans datang membawa sutradara.
"Hana, tunggu di sini. Jaga Rin dan Ren." Lucas ikut naik ke ambulans.
Setelah beberapa saat syuting dilanjutkan kembali atas keputusan petinggi yang terlibat dalam proses pembuatan film. Kali ini asisten sutradara mengambil alih. Tidak mungkin menunggu sutradara sampai pulih karena biaya produksi akan membengkak.
Ren tidak mau keluar dari troli. Ia senang berada di dalam troli. Sedangkan troli hendak dipakai untuk syuting.
"Ren. Trolinya mau dipakai kakak Rin syuting. Habis syuting Ren bisa naik lagi." Hana mengangkat Ren dari troli. Tapi Ren tetap bersikeras. "Nggak."
Seorang kru datang. Ia membawa troli cadangan. Troli yang akan digunakan jika troli yang utama rusak.
"Thank you." Hana menggendong Ren dan menaruhnya di troli lainnya.
"Ren sekarang harus tenang. Kakak Rin mau direkam." Hana meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.
Ren meniru Hana. "Sst ..."
Hana melihat proses syuting. Ada notifikasi di ponselnya. Kabar dari Lucas. Sutradara sudah tidak kritis lagi. Sekarang tinggal menunggu ia sadar.
Hana merasa lega. Ia tadi takut jika sutradara meninggal mendadak di lokasi syuting.
Syukurlah jika keadaan sutradara sudah membaik.