
Lucas pulang lebih awal dari biasanya.
“Tumben hari ini pulangnya cepat,” ucap Hana sambil mengambil tas kerja milik Lucas dan menaruhnya di atas meja.
“Hari ini aku mau bawa kamu makan di luar.”
Hana langsung mengambil tas perlengkapan Rin. Ia mulai menaruh popok, tisu basah. Membawa anak bayi keluar rumah butuh banyak persiapan. Tangan Lucas mencegah Hana.
“Tapi aku cuma ngajak kamu aja, yang lain nggak ku ajak. Aku sudah bilang ke mama dan papa untuk jagain anak-anak khusus malam ini. Mereka juga sudah setuju.”
Makan malam ini adalah bagian dari project membuat Hana terhibur.
“Apa nggak pa pa anak-anak kita tinggal?” Hana merasa kuatir terutama dengan Rin yang masih kecil.
“Nggak pa pa. Rei dan Rio juga sudah tahu kemarin. Pakai dress yang cantik, ya. Aku bawa kamu ke restoran fine dining.” Lucas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Rei mengajak Rin masuk ke ke dalam kamarnya untuk bermain. Untuk mengecoh Rin. Jika Rin melihat Hana berpakaian bagus dan mengenakan make-up, ia otomatis tahu mamanya akan pergi jalan dan sudah pasti ia ingin ikut.
“Rin ... Kak Rei mau kasih baju buat Strawberry.” Rei mulai menggandeng tangan Rin untuk berjalan menuju kamarnya. Tangan kanan Rin memegang tangan kiri Rei. Sedangkan tangan kirinya memegang Strawberry.
Di kamar Rei ...
“Rin lihat.” Rei memperlihatkan satu box penuh berisi baju boneka Barbie. Ada yang merupakan pemberian fans, ada yang original dan ada juga yang buatan Hana.
“Rin mau yang mana?”
Rin memilih baju berwarna pink. Rei membantu Rin mengenakan pakaian untuk Strawberry. Mereka lalu bermain bersama.
“Berry ... Aku mau ajak kamu ke mall.” Rei berkata sambil memegang boneka Barbie miliknya. Barbie dan Strawberry lalu berjalan sambil bergandengan tangan.
Sedangkan itu di kamar Hana dan Lucas. Hana sudah mengenakan dress cantik. Ia juga sudah menata rambut dan memoles make-up natural ke wajahnya.
“Lucas ... Tolong ...” Hana memunggungi Lucas. Ia butuh bantuan untuk menutup resleting belakang dress-nya. Lucas menolong Hana.
Kemudian Lucas mengenakan jas. Ada syarat ketika kita hendak makan di sebuah restoran fine dining. Salah satunya pengunjung harus mengenakan gaun untuk wanita dan jas untuk pria.
Lucas menggandeng tangan Hana menuju mobil di depan rumah. Ia membuka pintu mobil untuk Hana. Setelah memastikan Hana sudah duduk dengan nyaman, ia lalu masuk ke dalam mobil. Mereka menuju ke restoran yang sudah dipilih Lucas. Restoran yang terdapat di dalam sebuah hotel.
Lucas bersikap gentlemen dengan membantu Hana duduk di kursinya. Setelahnya ia baru duduk. Lucas mensilent ponselnya begitu juga Hana. Pelayan juga sudah diberi tahu untuk tidak menyediakan alkohol untuk Hana.
“Apa tidak apa-apa kau meminum wine?” Hana berkata dengan sedikit berbisik karena Lucas harus mengemudi saat pulang nanti.
“Tidak apa-apa. Kalau aku mabuk, kita bisa sewa supir.”
Pelayan mulai menyajikan makanan untuk mereka. Dimulai dari appetizer. Kemudian main course lalu dessert. Semuanya dalam porsi kecil dengan nama menu yang panjang dengan platting yang cantik.
Sebenarnya Hana lebih suka makan di family restaurant atau kaki lima. Porsi makan mereka lebih banyak dan harganya lebih murah. Apalagi saat makan di rumah, ia tidak harus menjaga postur tubuhnya tetap tegak. Ia juga bisa mengangkat kakinya saat makan. Tapi tentu saja jika mertuanya tidak sedang melihatnya. Ia harus jaga image di depan mertua. Tapi sesekali juga tidak apa-apa makan mewah seperti ini.
Selesai makan Lucas lalu mengajak Hana naik dan masuk ke sebuah kamar hotel. Ia sudah memesan kamar dengan pemandangan malam kota yang indah. Lampu-lampu gedung menyala. Mobil-mobil di jalanan berlalu lalang.
“Malam ini kita menginap di sini.”
“Tapi Rin?” Hana mengkuatirkan Rin. Ia takut Rin menangis mencari dirinya atau Lucas.
“Rin sudah tertidur pulas.” Lucas memperlihatkan foto Rin yang sedang tidur kiriman dari Lucy.
“Jangan mengkuatirkan anak-anak. Kuatirkan aku.”
“Kenapa aku harus mengkuatirkan dirimu?” Hana merasa Lucas sudah dewasa. Tidak seperti Rin yang masih sangat membutuhkannya.
“Kau tak takut?”
“Takut apa?”
“Aku akan menerkammu."
"Domba berbulu serigala?"
“Eh ... Salah ... Serigala berbulu domba.” Hana meralat perkataanya.
“Kau lebih suka aku jadi domba atau serigala?” Lucas mulai memperlihatkan senyum nakalnya.
“Hmmm ...” Hana masih berpikir.
“Kita tidak pernah merasakan honeymoon yang benar-benar honeymoon. Jadi, aku ingin merasakan honeymoon yang benar-benar honeymoon malam ini.”
“Tapi hati-hati. Masih ada Ren di dalam perutku. Kita tidak bisa gegabah.”
“Aku mengerti.” Sebagai dokter Lucas tahu ia tidak bisa sembarangan melakukannya. Bisa berefek ke Ren.
Lucas lalu mengajak Hana menuju ke kamar mandi. Ia membuka resleting gaun Hana. Mereka mandi bersama. Lucas lalu menggendong Hana ala bridal style ke ranjang. Lucas mencium bibir Hana dan bagian tubuh Hana yang lain. Dan mereka pun bersatu.
Malam itu mereka akhirnya bisa honeymoon tanpa ada gangguan dari siapapun.
Apa seperti itu?
Tentu saja tidak.
Ponsel Hana dan Lucas berbunyi. Mereka yang sudah tertidur karena kelelahan terpaksa bangun. Lucas yang mengangkat ponselnya terlebih dahulu.
“Lucas ... Rin menangis terus. Ia cari kamu,” ucap Lukman di sebrang sana. Rin yang tadinya tertidur, terbangun dan mencari Lucas. Baik Lukman maupun Lucy berupaya menenangkan Rin tapi tidak berhasil. Mereka bahkan berjanji akan membelikan Rin kerangka manusia extra mini lagi untuk teman Strawberry tapi tidak berhasil.
Lucas masih setengah sadar karena baru bangun. Lucas lalu mengalihkan panggilan menjadi panggilan video setelah memastikan badan Hana sudah tertutup.
“Pa ... Arahkan ponselnya ke Rin.”
“ Rin ... Ini papa.” Lukman lalu memperlihatkan Lucas ke Rin. Tapi Rin malah semakin kencang menangis.
“Rin kangen papa?”
“PAPAAAAA ...” Rin menangis semakin kencang.
“Papa baru besok pulangnya.”
“PAPAAAAA ...” Tangisan Rin tidak kunjung reda.
Lucas tahu ia harus pulang sekarang. Tangisan Rin terasa berbeda dari biasanya.
“Rin tenang, ya, Sayang. Papa sama mama pulang sekarang. Kasihan kakek sama nenek kalau Rin nangis terus.” Lucas berusaha menenangkan Rin. Lucas lalu memutuskan panggilan telepon dan membangunkan Hana.
“Hana ... Bangun ...”
“Hmmm ...” Hana membuka matanya.
“Kita harus pulang sekarang. Rin menangis cari kita.”
Hana menggeliatkan badannya. Ia sebenarnya masih ingin tidur. Begitu juga Lucas, ia ingin honeymoon lagi setelah mereka bangun tidur. Tapi tangisan Rin kedengarannya berbeda malam ini. Ia merasa harus pulang ke rumah saat ini juga.
Hana dan Lucas mengenakan kembali pakaian mereka. Mereka lalu check out dari hotel. Saat mereka tiba di depan rumah, mereka bisa mendengar tangisan Rin. Tapi saat Rin melihat Lucas dan Hana, tangisannya langsung mereda. Lucas menggendong Rin. Ia menghapus air mata di pipi Rin.
“Rin kangen papa?”
Rin menganggukkan kepalanya. Rin bergelayut manja di dekapan Lucas. Ia lalu perlahan tertidur. Lucas lalu menaruh Rin di box bayinya.
Hari ini gagal lagi honeymoon-nya.
Di luar rumah terdengar suara sirene mobil pemadam kebakaran silih berganti melewati rumah mereka.
“Lucas ... Lihat.” Hana menunjuk TV yang sedang ditontonnya. Berita tentang kebakaran hotel tempat mereka hendak menghabiskan malam.