
Rei dan Rio berada di ruang kelas. Para siswa sedang berdiskusi apa yang akan mereka tampilkan di pertunjukkan sekolah.
"Rei, you must dance." Teman Rei meminta Rei menari.
"But I want to show something else." Rei berusaha menolak. Ia ingin menunjukkan hal yang berbeda kali ini.
"How about drama?" Salah seorang teman Rei mengusulkan.
"What drama?"
"Fairy tale or princess?"
"Apa akan ada kissing scene?"
*Dikarenakan bahasa Inggris author yang kurang, percapakannya jadi campur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Mohon pengertiannya.
"Maybe."
"Ewww ... I don't like it."
Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan pertunjukkan Sleeping beauty, putri tidur.
Guru sekolah membantu mereka membuat naskah. Salah satu orang tua murid membantu membuat kostum. Murid-murid mulai berlatih. Rio juga ikut. Ia mendapat peran sebagai pemberi efek di panggung. Asap, musik pengiring dan sebagainya.
Tak lupa Rei mengabadikan prosesnya untuk vlog konten YouTube-nya.
"Guys ... say hello to camera." Teman-teman Rei melambaikan tangannya ke kamera.
"I got role as princess Aurora. Apa Rei bakal ciuman sama pangeran Philip? Rahasia." Rei lalu menjelaskan sedikit tentang pementasan.
Rei dan Rio jadi pulang agak terlambat ke rumah karena harus berlatih di sekolah. Di rumah Rei juga berlatih.
Rin yang tidak bisa bermain dengan Rei, bermain dengan Rio. Mainan Rio kebanyakan mobil-mobilan, senjata mainan dan mainan anak cowok lainnya.
Rin memilih pistol. Ia menembakkannya ke Rio. Rio pura-pura mati mengikuti permainan Rin.
Kemudian bermain mobil-mobilan. Rin memilih truk. Ia menaruh Strawberry di atas truk. Kemudian Rin menarik truk yang sudah diberi tali.
"Apa menurutmu Rin itu terlalu unik?" Hana bertanya ke Lucas.
"Kenapa?"
"Rin itu perempuan tapi selain kerangka manusia, ia juga suka mobil dan pistol."
"Apa anak perempuan nggak boleh suka hal-hal yang berbau laki-laki?"
"Boleh saja suka. Tapi akhir-akhir ini Rin juga punya hobi pergi ke taman belakang rumah. Ia menggali tanah dengan sekop mainannya di sana untuk menemukan cacing. Ia bahkan berani memegang cacing itu dengan tangannya sendiri. Bahkan sengaja menakutiku dengan membawa cacing yang masih hidup itu ke dekatku."
"Itu artinya ia pemberani. Lebih bagus daripada ia penakut."
"Kau meledekku?"
"Tidak. Aku mana berani meledekmu. Rin mungkin berani dengan cacing. Tapi ia mungkin juga takut dengan sesuatu. Cuma kita belum melihatnya sekarang."
Kembali lagi ke pentas Rei. Seluruh keluarga menghadiri pentas seni di sekolah Rei. Rei sudah berdandan cantik ala princess. Ia terlihat seperti orang barat dengan wig blonde-nya.
Pertunjukkan dimulai. Tirai panggung terangkat ke atas.
Raja dan Ratu mengundang peri untuk datang ke acara untuk putri mereka. Para peri mulai mengucap berkat untuk sang putri.
"Ia akan menjadi putri yang cantik."
"Ia akan menjadi putri yang pintar menyanyi."
"Ia akan menjadi putri yang pintar berdansa."
Tapi saat peri terakhir, ada peri yang marah karena ia tidak diundang.
"Aku mengutuk putri kalian. Ia akan meninggal karena tertusuk jarum."
Peri yang terakhir berkata "Aku akan meringankan kutukan itu. Putri tidak akan meninggal, ia akan tertidur selama seratus tahun lamanya."
Raja lalu memerintahkan untuk membakar semua alat pemintal benang.
Karena penasaran ia mencobanya. Jarum tertusuk di tangannya. Putri lalu tertidur.
Peri terakhir mengucap mantra dan membuat seluruh isi istana juga tertidur.
Seratus tahun berlalu.
Seorang pangeran datang. Ia mendengar kabar ada naga yang menguasai istana itu. Ia menebas semak duri. Tapi semak duri itu menyambung kembali. Usahanya sia-sia.
Tetapi ia diberi pedang baru oleh peri ketujuh. Ia berhasil menebas semak duri. Tetapi peri jahat yang mengubah dirinya menjadi naga berusaha menghalangi pangeran. Tapi pangeran berhasil mengalahkan naga itu.
Pangeran lalu mengecup tangan sang putri. Putri pun terbangun dari tidur panjangnya. Seluruh istana kembali seperti semula
Sang pangeran lalu meminang sang putri. Mereka pun hidup bahagia.
Seluruh pemain berbaris di depan sambil bergandengan tangan dan menundukkan badan mereka. Tanda pertunjukan telah berakhir.
Para penonton bertepuk tangan.
Ada yang bingung kenapa tidak ada ciuman di pipi, kening atau bibir?
Semua karena Lucas. Saat Rei meminta ijin untuk ikut pentas, Lucas membaca seluruh naskahnya. Ia tidak setuju Rei ikut karena ada adegan ciuman di pipi.
Kemudian adegan itu diubah jadi ciuman di kening. Tapi Lucas masih tidak setuju. Walaupun awalnya adegan itu adegan ciuman di bibir tetapi mengingat Rei masih kecil adegan itu dirubah.
Akhirnya adegan ciuman itu diganti adegan mengecup tangan. Barulah Lucas setuju Rei ikut pentas.
Lucas lalu mengajak keluarganya makan malam. Perayaan pentas pertama Rei.
"Papa ... tadi Rei bagaimana?" Rei mengharapkan pujian ayahnya.
"Rei mainnya bagus. Papa sampai pangling itu Rei apa bukan."
Rei tersenyum. Pujian dari papanya itu sangat berharga.
"Sebenernya mau pentas Romeo dan Juliet tapi kisahnya terlalu tragis. Jadinya nggak jadi."
"Rei mau jadi apa lagi?" Hana bertanya.
"Rei mau coba semuanya, Ma. Biar Rei punya banyak pengalaman akting '"
"Om Robek sudah rekam tadi?" Rei bertanya ke Robert.
Robert hanya diam.
"Om Robert sudah rekam tadi?"
"Sudah." Robert memberikan kamera berisi rekaman pertunjukkan Rei karena Rio tidak bisa merekam Rei.
Selesai makan mereka lalu kembali ke rumah.
Di rumah Rio sibuk mengedit video Rei. Memotong bagian yang tidak penting dan memberi efek supaya terlihat bagus.
"Rei ... sudah." Rio memang gercep jika urusan edit mengedit video.
Rei mengecek video editan Rio lalu mengupload-nya.
Lucas mendapat telepon. Ia terlihat begitu serius. Sepertinya ada masalah di rumah sakit.
"Baiklah saya ke sana."
Ia lalu mendekati Rio. "Rio ... Papa butuh bantuan Rio. Sistem komputer di rumah sakit jadi berantakan. Data-data pasien banyak yang hilang dan tertukar."
Lucas lalu membawa Rio ke rumah sakit. Rio berada di server utama rumah sakit. Ia mengetik sesuatu di sana. Kode-kode yang hanya Rio yang tahu. Menancapkan hard disk ke USB port.
"Pa ... Ada virus masuk. Tapi sudah Rio bersihin. Minta susternya cek apakah sudah kembali seperti semula."
Lucas lalu mendatangi suster untuk memintanya mengecek beberapa hal.
"Pa ... Virus yang tadi menyerang di sistem komputer rumah sakit itu virus terbaru. Sepertinya ia bukan orang biasa. Rumah sakit harus bersiap lagi menghadapi serangannya. Tapi untuk sementara sudah bisa RIo blokir."
Setelah selesai Lucas dan Rio pulang. Lucas melihat Rio yang tertidur. Terkadang ia merasa tidak mengenal putranya ini. Di satu sisi ia terkadang tampak masih kanak-kanak. Tapi saat jari-jari mungilnya begitu lincah menekan tombol-tombol keyboard, Lucas seperti melihat orang lain. Ia seperti melihat Luke pada diri Rio.