Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 24 Tulang Belulang



Sore hari ...


Lucas baru saja pulang dari rumah sakit. Shift kerjanya baru saja selesai. Ia datang membawa dus besar. Rei dan Rio yang meyambutnya sangat penasaran dengan isi dus besar itu.


“Isinya apa, Pa?” Rei bertanya.


“Rahasia.”


“Rei boleh buka, Pa?”


“Belum boleh. Tunggu papa selesai mandi baru kita buka sama-sama.” Lucas berjalan menuju ke kamar mandi. Rin yang melihat Lucas menunggu dengan sabar di depan kamar mandi.


“Kira-kira isinya apa, ya, Rei?” Rio bertanya.


Rei dan Rio mencoba menggoyangkan dus besar itu.


Bukan suara camilan.


Bukan suara minuman.


“Bunyinya aneh.” Rei dan Rio saling berpandangan.


“Rio ... nanti bikin aplikasi yang bisa deteksi barang di dalam dus. Yang seperti di bandara itu, lho.”


“Memangnya bikin aplikasi itu segampang menjentikkan jari. Susah tahu.” Rio protes. Tapi di otaknya memikirkan apa yang dikatakan Rei.


Jika ada aplikasi seperti itu tentu saja akan mempermudah mengecek barang tanpa membuka dus.


“Mama tahu isinya apa?”


Hana menggeleng-gelengkan kepalanya. Lucas tidak memberitahunya ia membawa apa hari ini.


Setelah Lucas selesai mandi, mereka langsung berkumpul di sekitar dus.


Rei dan Rio langsung bersembunyi di belakang Hana. Mereka takut melihat isi dus itu. Isinya kerangka manusia buatan lengkap 1:1 dengan ukuran asli.


“Rio ... Rei takut.”


Tapi berbeda dengan Rin, ia malah merangkak menuju keerangka yang sudah diberdirikan Lucas. Ia mengangkat kedua tangannya minta digendong oleh kerangka itu.


“Kak Rei, Rin kok nggak takut, ya?” Rio memanggil Rei dengan sebutan kakak.


“Iya, Rin kok berani banget, ya.”


“Rin, kerangkanya itu bukan manusia. Ia benda mati. Jadi, nggak bisa angkat Rin.” Lucas menjelaskan. Ia lalu menggendong Rin. Ia mendekat ke kerangka itu. Rin menjulurkan satu tangannya. Seolah-olah ingin berjabat tangan dengan sosok tulang di depannya.


“Rin mau kenalan?” Lucas lalu mengangkat tangan kerangka dan mendekatkannya ke tangan Rin. Rin menyalami kerangka itu.


“Saya Rin.” Lucas berbicara atas nama Rin. Rin memang belum bisa berbicara panjang.


“Saya Kerangka.” Lucas berbicara mewakili kerangka itu. Tangan Rin terulur ke lubang di bawah tulang pipi. Ia lalu menyentuh pipi Lucas.


“Ini namanya tulang pipi.”


Lucas sudah terbiasa dengan tulang belulang. Saat ia sekolah kedokteran dulu, ia sering menyentuh tulang manusia asli untuk dipelajari. Bahkan pernah membawanya ke rumah diam-diam.


“Ini gigi.”


Rin memamerkan giginya yang baru ada empat di atas dan dua di bawah.


“Ini tengkorak.” Lucas menunjuk tulang kepala manusia.


“Ini tulang dada.” Lucas menunjuk tulang dada.


“Ini tulang punggung.”


Lucas membeli kerangka manusia itu untuk mengajari Rin. Dulu saat ia pernah memangku Rin di ruang belajarnya, saat itu ia sedang membuka buku tentang tulang manusia. Lucas bisa melihat Rin sangat tertarik saat ada gambar kerangka manusia.


Hana juga takut saat melihat tengkorak itu. Ia tidak suka melihat gambar tengkorak. Apalagi aslinya.


Jadi, ia nggak takut.


“Lucas, kita makan dulu.” Hana menyudahi sesi belajar Rin.


Lucas lalu menaruh Rin di kursi anak. Ia lalu menyuapi Rin. Tapi kepala Rin selalu menoleh ke arah kerangka manusia itu berada. Akhirnya Lucas memindahkan kursi Rin supaya Rin bisa langsung melihat kerangka itu.


Saat mau tidur pun Rin ingin kerangka itu berada di dekat box bayinya. Ia tadi merengek. Mau tidak mau kerangka itu berpindah tempat ke kamar Hana dan Lucas. Yang di mana juga merupakan kamar Rin. Rin bahkan mencium pipi kerangka itu. Ciuman selamat malam supaya kerangka itu bisa tidur dengan nyenyak.


Hana mencoba menutup matanya. Berharap segera tidur tapi ia tidak bisa tenang selama kerangka itu satu ruangan dengannya. Hana melihat Rin sudah tidur dengan nyenyak. Ia ingin membawa kerangka itu keluar kamar tapi ia tidak berani menyentuhnya.


Panggilan alam memanggil. Hana menuju ke kamar mandi dalam kamar tidurnya. Mengeluarkan apa yang harus ia keluarkan. Saat ia keluar kamar, ia merasa sedikit aneh.


Ini cuma perasaanku aja, kan?


Kok aku ngerasa kerangkanya pindah tempat.


Hanya lampu meja yang menyala. Warnanya kuning tidak terlalu terang. Karena katanya tidak baik bila tidur dengan lampu menyala. Katanya bisa bikin kualitas dan kuantitas tidur jadi buruk. Tidur dalam kondisi terang juga bisa bikin obesitas, depresi, kanker payudara, diabetes melitus tipe 2, insomnia, tekanan darah tinggi (sumber : hello sehat).


Hana berjalan menuju ranjang. Ia berbalik.


Kerangkanya beneran bergerak.


Hana langsung naik ke kasurnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia ingin berteriak memanggil Lucas yang masih berada di ruang belajarnya tapi suaranya tertahan karena takut.


Ada yang menyentuh selimut Hana. Hana semakin merinding tapi ia memberanikan diri melihatnya. Ia membuka sedikit selimutnya.


“KYAAAAA ...”


Kerangka itu tepat berada di depan Hana.


“Ha ... Ha ... Ha ...” Ada yang tertawa. Lucas lah yang menakut-nakuti Hana. Saat tadi ia masuk ke dalam kamar, ia mendengar ada suara air di kamar mandi. Ia juga tidak melihat Hana ada di ranjang. Ia berpikiran untuk mengerjai Hana. Piyamanya yang berwarna hitam memperkuat kamuflasenya.


Hana menyadari ada suara tawa. Ia langsung menyalakan lampu yang terang.


Lucas!


Hana langsung melempar bantal ke arah Lucas tapi Lucas berhasil menangkisnya dengan kerangka manusia itu sebagai tameng dirinya.


Tubuh Rin bergerak.


“Ssst ...” Lucas mencoba mennangkan Hana. Jika Rin terbangun maka akan sulit untuk menidurkan Rin lagi. Ia dan Hana harus begadang.


Hana melempar satu bantal lagi. Benturan bantal dan kerangka itu membuat suara.


Terdengar suara rengekan Rin. Lucas buru-buru menepuk-nepuk pantat mungil Rin. Tapi mata Rin sudah terbuka.


Bagaimana ini?


Rin bangun.


Rin meminta kerangka itu tidur bersamanya.


“Box bayi Rin nggak muat. Kepalanya aja, ya.”


Lucas melepas tengkorak dari kerangka itu dan meletakkannya di samping Rin. Tangan mungil Rin menyentuh bagian atas tengkorak itu. Matanya perlahan terpejam. Rin tertidur lagi.


“Fiuh ...” Lucas bernapas lega. Urusannya dengan Rin selesai. Tapi tidak urusannya dengan Hana.


Membuat Hana kesal itu tidak bagus akibatnya buat Lucas. Lucas harus segera merayu Hana agar tidak kesal lagi ke padanya. Lucas teringat perkataan Rio, “Pa, kalau mama kesal atau ngambek, kasih aja mama uang. Mama itu paling senang sama yang namanya uang.”


Lucas buru-buru mengambil ponselnya dan mentransfer uang ke rekening Hana.


Apa segini cukup?


Lucas melihat Hana. Ada dua tanduk di kepala Hana sekarang. Lucas menambah lagi uang yang ditujukan untuk Hana.


Muncul notifikasi di ponsel Hana. Ada kiriman uang dari Lucas. Panas hati Hana langsung mereda. Lucas lalu merebahkan dirinya di ranjang dan tidur.