
Sebelumnya kru film sudah meminta ijin untuk syuting di rumah sakit. Pihak rumah sakit awalnya tidak mengijinkan karena akan mengganggu pasien.
Akhirnya kru film diperbolehkan untuk syuting di salah satu tempat di rumah sakit yang akan dibongkar dan dibangun kembali.
Lucas datang.
"Papa." Rin berlari memeluk ayahnya. Lucas hanya bisa datang sebentar. Tetapi itu sudah cukup.
Rin bersiap dengan berbaring di ranjang pasien. Dalam cerita film, Putri masuk rumah sakit karena demam. Lucas hendak pergi, tapi tangannya tiba-tiba dibawa oleh salah satu kru film.
"Pak dokter mau ke mana? Sebentar lagi syuting." Kru film itu mengira Lucas adalah pemeran dokter karena jas putih dan stetoskop yang ada di leher Lucas.
Belum sempat Lucas menjelaskan, kamera sudah mulai merekam. Rin juga terkejut saat ia membuka matanya dan melihat Lucas. Tapi Rin tetap beradegan seperti skenario yang ia pelajari.
"Cut!" Sutradara menghentikan syuting. "Pak Dokter kenapa diam aja?" Sutradara agak jengkel dengan Lucas.
"Pa, di adegan ini Papa harus periksa Rin. Papa periksa seperti Papa periksa pasien Papa." Rin menjelaskan. Ia senang bisa syuting dengan ayahnya.
Syuting diulang.
"Action."
Lucas mulai memeriksa Rin. Ia menggunakan stetoskop untuk mendengarkan detak jantung Putri.
"Cut. Okay."
Telepon Lucas berdering. Ada panggilan dari suster. "Papa pergi dulu Rin." Lucas mencium kening putrinya. Ia langsung menuju ke bangsal anak.
Tiba-tiba datang pemeran dokter. "Maaf, saya terlambat. Jalanan macet." Ia meminta maaf karena terlambat.
Pak sutradara bingung karena adegan dokter memeriksa Putri sudah selesai. Pemeran dokter itu akhirnya menunggu sampai syuting berikutnya yang membutuhkan pemeran dokter.
Adegan lalu dilanjutkan lagi saat suster mengecek suhu tubuh dan tekanan darah Putri.
Hana dan yang lainnya menunggu di samping. Mereka hanya bisa menyaksikan dengan tenang proses syuting.
Rayhan mulai berlatih menggendong Rin di punggungnya. Ia awalnya kesulitan. "Rin berat ya Kakak?" Rin merasa bersalah.
"Nggak. Rin nggak berat." Rayhan mencoba menggendong Rin sambil berlari. "Kakak kuat kok. Kakak kan olahraga tiap hari."
Adegan kali ini memang adegan yang cukup menguras tenaga Rayhan di antara adegan-adegan lainnya. Adegan kali ini saat Putri jatuh sakit dan Putra membawa Putri ke rumah sakit dengan cara menggendong Putri di punggungnya.
Syuting akan dimulai lagi.
"Action."
Putra menggendong Putri yang demam di punggungnya. Ia berlari dan berlari menuju ke rumah sakit. "Putri, jangan tinggalkan Kakak lagi."
Putra tak ingin kehilangan Putri lagi. Putri, adik kandungnya memang sudah meninggal. Putri yang sekarang akan selalu ia jaga. Air mata Putra mulai menetes. Ia takut kehilangan lagi.
Sesampainya di rumah sakit, Putri masuk UGD dan segera diperiksa oleh dokter jaga.
"Cut "
Sutradara, Rin dan Rayhan melihat rekaman adegan. Sepertinya sutradara ingin mengulangi adegan tadi.
"Rayhan masih sanggup?" Rizal bertanya.
"Masih Om."
"Maaf ya Kakak." Rin merasa bersalah.
"Nggak pa pa. Kakak Rayhan ini kuat." Rayhan menunjukkan otot lengannya yang tak kekar. Ia mengusap kepala Rin. Matthew yang melihatnya dari kejauhan cemburu melihat kedekatan Rin dan Rayhan.
Sedangkan Mark sudah mulai dekat dengan Ricka. Ia selalu berusaha menyenangkan hati Ricka.
Syuting dilanjutkan lagi. Rayhan berjongkok. Rin mulai naik di punggung Rayhan. Rayhan mulai berlari dan berlari lagi. Akhirnya ia sampai di rumah sakit.
"Cut. Okay." Sutradara merasa kasihan dengan Rayhan. Nafas Rayhan mulai berat. Rayhan memegang kipas angin kecil karena merasa panas.