
Melihat kondisi Hana yang semakin memburuk, Lucas pergi menemui orang tuanya.
“Ayah ... Ibu ... Aku mau mengajak Hana berlibur tanpa anak-anak. Jadi, aku mau titip Rei dan Rio.”
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Lukman bertanya. Walaupun ia pemilik RS tempat Lucas bekerja tetap saja Lucas harus profesional.
“Aku akan mengambil cuti. Setidaknya sampai Hana bisa aku tinggal.”
“Kondisi Hana sekarang bagaimana?” Lucy tahu Hana semakin hari semakin terpuruk. Lucy tahu betul bagaimana perasaan Hana saat ini karena ia juga pernah mengalami hal yang sama.
“Hana hampir saja jatuh dari balkon kamar Ryu. Ia sudah mulai berhalusinasi.”
“Ibu berharap Hana bisa segera pulih.”
Rei dan Rio dititipkan ke rumah Lukman dan Lucy.
"Papa mau ajak mama liburan sebentar. Maafin papa belum bisa ajak kalian.” Lucas meminta pengertian dari putra putrinya.
“Kami mengerti, Pa. Semoga mama bisa cepat sembuh, ya, Pa.”
Lucas menepuk-nepuk ringan kepala Rei dan Rio.
Lucas mengajak Hana ke sebuah resort di pinggir pantai. Dari informasi yang ia dapat dari Rei dan Rio, Hana menyukai pantai. Saat Hana masih berada di kota B, Hana sering mengajak Rei, Rio dan Ryu ke pantai.
Lucas meletakkan koper mereka ke dalam kamar. Hana bisa melihat pemandangan pantai dari kamarnya. Resort yang Lucas sewa ada dua kamar. Jadi, mereka tidur di kamar masing-masing.
Lucas mengajak Hana berjalan santai di pantai. Tapi Hana masih melamun. Ia melihat ombak yang berlari-larian menuju pantai. Air pantai sangat jernih berwarna hijau muda. Boleh dibilang pantai yang ia lihat saat ini adalah pantai terindah yang pernah ia kunjungi. Begitu juga makanan yang disediakan oleh staff resort, semuanya sangat lezat.
Lucas sengaja memilih tempat yang terbaik. Walaupun mahal tapi sepadan dengan apa yang ia dapatkan. Tapi Hana hanya tetap diam. Walaupun Lucas berusaha mengajaknya bicara tetapi tetap saja Hana seolah-olah berada di tempat lain.
Malam hari saat Hana tertidur ...
Ryu datang dalam mimpinya.
“Mama ...”
“Ryu ...” Hana memeluk Ryu dengan erat. Seolah-olah tak ingin melepas Ryu.
“Mama ... Ryu sedih Mama sakit. Kak Rei dan kak Rio juga sedih.”
“Mama nggak sakit. Mama cuma kangen Ryu.” Air mata Hana menetes lagi. Setidaknya dalam mimpi ia masih bisa melihat dan memeluk Ryu.
“Ma ... Suatu saat kita akan bertemu lagi. Ryu juga punya satu permintaan.”
“Apa?” Hana mendekatkan dirinya ke Ryu.
“Ryu mau punya adik.”
“Adik?”
“Adik perempuan, ya, Ma. Ryu juga punya hadiah buat Mama.”
“Hadiah apa?”
“Buka tangan Mama.”
Hana lalu membuka tangannya. Ryu menaruh ulat kecil berwarna hijau di tangannya. Hana menjerit ketakutan sambil mengibaskan tangannya. Ryu yang melihatnya tertawa terbahak-bahak. Perlahan tawa itu menghilang seiring Ryu yang ikut menghilang.
Hana tiba-tiba terbangun. Ia menangis lagi. Pertemuannya dengan Ryu terlalu singkat. Ia ingin melihat Ryu lagi. Ia mencoba untuk tidur lagi tetapi Ryu tidak muncul lagi di dalam mimpinya.
Lucas mengajak Hana melihat kebun binatang mini di dekat resort. Di sana mereka bisa melihat rusa. Memberi mereka makan.
Lucas juga mengajak Hana berpesiar sejenak dengan kapal. Dinner romantis di dalam kapal.
Saat mereka beristirahat di resort, tiba-tiba bumi berguncang. Terjadi gempa. Lucas langsung menuju ke kamar Hana dan membawanya keluar. Resort yang mereka tinggali rusak berat. Tetapi untung saja tidak terjadi tsunami. Walaupun begitu ada korban meninggal dan luka-luka.
Lucas yang berprofesi sebagai dokter tidak bisa tinggal diam. Ia berusaha mengobati orang yang terluka. Tenda darurat dengan cepat dibangun untuk menampung korban selamat. Akses menuju dan keluar resort tertutup. Untuk sementara waktu hingga akses bisa dibuka lagi, mereka bertahan hidup dengan apa yang ada.
Hana membantu di dapur darurat untuk menyediakan makanan bagi para pengungsi. Setelahnya Hana menjadi asisten Lucas mengobati korban luka. Staff resort mengumpulkan bahan-bahan makanan, pakaian, selimut dan benda-benda lain yang sekiranya berguna di tenda pengungsian.
Hana melihat Lucas yang begitu lihai mengobati orang sakit sambil memberikan kata-kata penghiburan bagi mereka.
Hana mendengar suara Ryu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Ryu.
Sementara itu di kota A ...
Lukman, Lucy, Rei dan Rio mendengar kabar ada bencana di area resort tempat Hana dan Lucas berlibur. Mereka cemas. Lukman berusaha menelpon Lucas tetapi panggilannya tidak pernah tersambung. Mereka jadi bertambah cemas. Tentu saja karena jalur komunikasi juga terputus sejak terjadi bencana.
“Nek ... mama sama papa ...” Rei menangis. Ia takut mama dan papanya ikut menjadi korban.
“Kita berdoa, ya, sayang. Semoga papa dan mama selamat.” Dalam hari Lucy juga sangat cemas. Hanya saja ia berusaha tetap tegar demi kedua cucunya.
Hari demi hari berlalu, masih belum ada kabar dari Hana dan Lucas. Lukman dan Lucy mulai pasrah dan bersiap jika seandainya Hana dan Lucas menjadi korban. Sampai akhirnya satu minggu kemudian. Lucas langsung menelpon ayahnya saat jalur komunikasi sudah bisa tersambung.
Telepon dari Lucas. ~ Lukman langsung mengangkatnya.
“Pa ...”
“Ini beneran kamu, Lucas?”
“Iya ini Lucas, Pa.”
“Papa kawatir. Mama dan anak-anak juga kawatir, bahkan Rei sampai jatuh sakit.”
“Lucas dan Hana baik-baik saja, Pa.”
“Syukurlah.”
Lukman langsung membawa ponselnya ke kamar Rei.
“Rei ...”
“Ppapa ...” Rei senang bisa mendengar suara ayahnya.
“Mama ...”
Lucas mendekatkan ponselnya ke Hana.
“Ini Mama, Rei. Mama dan Papa nggak pa pa. Mama sudahin dulu telponnya, ya. Mama dan papa harus bantu orang yang lagi sakit. Nanti mama telpon lagi.”
Lucy lalu membawa bubur untuk Rei makan. Rei jatuh sakit karena menolak untuk makan. Ia menangis karena mengira mamanya dan papanya ikut menjadi korban.
“Rei sekarang makan, ya, sayang. Mama dan papa selamat.”
Rei lalu memakan bubur dari suapan neneknya. Perlahan kondisinya mulai pulih kembali.
Kembali ke tempat pengungsian ...
Akses masuk dan keluar sudah terbuka. Korban luka langsung dibawa ambulan menuju ke rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut. Untunglah karena ada Lucas yang memberi pertolongan pertama. Jadi, tidak terlalu banyak yang menjadi korban.
Hana dan Lucas saling menatap satu sama lain. Tugas mereka di tempat pengungsian sudah selesai. Mereka juga harus pulang kembali ke kota A.
“Maafkan aku. Aku ke sini bermaksud untuk mengajakmu liburan tetapi malah terjadi bencana.”
Hana menggelengkan kepalanya.
Lucas terkejut saat ada respon dari Hana. Ia baru sadar kalau selama ini Hana yang berada di sampingnya membantu para korban.
“Aku jadi tahu betapa hebatnya dirimu. Betapa hebatnya ayah dari anak-anak.”
Lucas tersipu mendengar pujian Hana. Lucas merasa sangat senang dipuji Hana, wanita yang ia cintai.
Lucas lalu mencoba melamar Hana lagi “Hana ... Aku tahu saatnya tidak tepat. Apa kau mau menikah denganku?”
Hana menganggukkan kepalanya. Lucas ingin berteriak karena senang tetapi ia menahan dirinya. Karena masih banyak relawan di sekitar mereka.
Ia membuat cincin dari sebuah ranting yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berada. Memasangkannya ke jari manis Hana.
“Sementara aku hanya punya ini. Saat kita kembali ke kota A aku akan membeli yang lebih bagus dari ini.”
“Tidak perlu membeli yang baru. Yang pernah kau tunjukkan dulu di restoran juga tidak apa-apa.”