
Syuting berlanjut dengan adegan saat Albert dan Marie berada di dalam rumah kardus. Albert menaruh kardus bekas sebagai alas untuk tidur.
Staff membawa papan slate yang bertuliskan scene ke berapa, dan take ke berapa, dan beberapa info lainnya. Ia lalu menutupnya.
"Action." Sutradara memberi aba-aba.
Albert dan Marie masuk ke dalam rumah kardus. Mereka hendak berbaring di sana.
"Gyandpa, yihat." Marie menunjuk cacing kecil yang muncul dari dalam tanah. Ia mengangkatnya dan menunjukkan cacing itu ke Albert.
Sutradara terkejut. Tidak ada adegan itu. Ditambah lagi Rin yang berani menyentuh cacing dengan tangan kosong.
Kameramen ikut bingung tapi tetap merekam karena belum ada tanda "cut" dari sutradara.
"Cacingnya taruh lagi ke tanah. Cacingnya mau tidur juga," ucap Albert. Marlon mengikuti akting Rin.
"Iya." Marie meletakkan cacing kembali ke tanah.
"Cut." Sutradara menghentikan syuting. Sutradara dan Marlon melihat hasil syuting
"Ok." Sutradara cukup puas.
Syuting berlanjut ke adegan hujan turun saat Albert dan Marie sudah tidur. Mereka terbangun karena tetesan air hujan. Rumah kardus mereka bocor.
"Gyandpa, yihat. Ada aiy mancuy." Marie menunjuk atap yang bocor. Albert segera mengambil terpal bekas dan menutup atap rumah kardus mereka.
Albert membersihkan tubuh Marie yang basah. Ia merasa bersalah. Seharusnya ia menyerahkan ke panti asuhan saat Marie masih bayi tapi sekarang sudah terlambat. Ia begitu menyayangi Marie dan tak ingin berpisah dari Marie.
"Cut." Sutradara mengakhiri syuting.
Rin dan Marlon melanjutkan syuting di lokasi rumah kardus mereka. Adegan saat Marie bermain-main.
Hari pertama syuting berakhir. Rin berpamitan dengan Marlon. "Bye bye Gyandpa."
...***...
Mendapatkan ijin syuting di lokasi supermarket agak sulit. Tetapi setelah beberapa pertemuan dengan iming-iming boleh berfoto bersama Marlon, kru film akhirnya berhasil mendapatkan ijin.
Albert menggandeng tangan Marie kecil. Ia melihat dompetnya. Hanya ada lima dolar di sana. Tidak akan banyak barang yang bisa ia beli.
Saat melihat camilan kesukaan Marie, ia hendak mencurinya. Diam-diam ia hendak memasukkan camilan itu ke dalam kantongnya jaketnya.
Hati kecilnya mengingatkan dia. Albert hendak mengembalikan camilan itu ke tempatnya.
Tiba-tiba tangannya dipegang seorang staff supermarket. Albert berkeringat dingin. Ia akan masuk penjara jika staff supermarket melaporkannya ke polisi.
"Jangan. Saya akan membayarnya untuk Anda." Staff itu mengisi keranjang belanja Albert dengan berbagai bahan makanan.
"Apa ada yang masih Anda perlukan?"
"Tidak ada. Terima kasih." Mata Albert berkaca-kaca. Ternyata masih ada orang baik di dunia ini.
"Jika ada lagi yang Anda perlukan, bilang saja ke saya," ucap staff supermarket itu sambil memasukkan beberapa lembar uang ke dalam kantong jaket Albert.
Albert dan Marie pulang dengan tangan penuh.
"Cut." Sutradara memberi tanda selesai syutung adegan.
Sesuai perjanjian pimpinan dan staff supermarket diperbolehkan berfoto bersama Marlon. Marlon menggendong Rin. Rin memberikan senyum manisnya. Mereka berfoto bersama.
Kru film sedang membereskan peralatan syuting. Mereka akan melanjutkan syuting di jalanan.
Rin menuju ke tempat es krim berada. Ia jinjit. Marlon melihatnya lalu menggendong Rin. "Marie mau yang mana?"
"Styawbeyyy."
"Biar saya saja yang membayarnya." Lucas mengeluarkan dompetnya.
"No, no, no." Marlon bersikeras membayar es krim untuk Rin.