Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 134 Palsu



Keesokkan harinya.


Rebecca datang untuk membawa Ricka jalan-jalan. Hana menyiapkan perlengkapan Ricka.


"Apa Hana perlu ikut, Ma?" Hana khawatir jika Rebecca kerepotan.


"Han, kamu tenang aja. Istirahat di rumah. Lagipula ada Mama Berta yang membantu Mama." Rebecca ingin Hana bisa bersantai.


"Terima kasih, Ma."


Rebecca membawa Ricka pergi. Ia akan mengajak Ricka bertemu teman-temannya. Ia ingin pamer jika ia juga sudah punya cucu seperti teman-temannya yang lain.


Di sebuah restoran. Di ruangan private. Di mana ibu-ibu sosialita berkumpul.


"Ini cucumu? Cantik anaknya. Namanya siapa?"


"Namanya Ricka."


Ricka memberi senyum manisnya. Membuat luluh hati ibu-ibu paruh baya di sana.


"Aku mau jodohin cucuku sama Ricka."


"Ricka sudah ada yang punya."


"Eh?"


"Dari masih di perut ibunya, Ricka sudah ada yang mau."


"Apa? Kamu setuju?"


"Setuju." Rebecca sempat bertemu Mark. Ia terkesan dengan sikap Mark yang walaupun masih belia tapi sopan santun, tata krama dan cara bicaranya terlihat baik di matanya.


"Calonnya Ricka dari keluarga mana?" Ibu-ibu kepo bertanya.


"Nanti kalau Ricka sudah besar, kalian akan tahu." Rebecca tidak akan gembor-gembor tentang Mark. Ia merasa dengan waktu yang berlalu akan bisa terjadi perubahan.


Ricka menyentuh tas milik ibu paruh baya lainnya. "Paysu."


Semua menoleh ke arah Ricka. Rebecca ikut terkejut. Ibu yang tasnya dipegang Ricka langsung ijin pulang. "Saya pulang dulu. Saya ada urusan mendadak."


Setelah ibu dengan tas palsu itu pergi, semua mulai berkomentar.


"Sudah kuduga. Barang-barang branded yang ia pakai itu kw."


"Tapi kelihatan asli, Jeng."


Ricka melihat dan menyentuh tas itu lalu berkata, "Asyi."


Ibu itu merasa lega. Ia tidak menenteng barang palsu.


Ibu yang lain berebut ingin tahu barang brandednya asli atau palsu.


"Antri." Rebecca merasa sesak karena banyak orang mengerumuninya.


Ibu-ibu itu berbaris teratur.


"Paysu."


Sudah kuduga, suamiku itu pelit.


"Asyi."


Setelah semua merasa puas, mereka mulai menikmati hidangan sambil berbincang-bincang.


"Jeng, kok bisa cucumu ini masih kecil tapi tahu barang asli atau palsu."


"Aku juga nggak tahu." Rebecca nanti akan membawa Ricka pulang ke rumahnya dan menguji Ricka sekali lagi.


Acara kongkow-kongkow selesai.


Rebecca membawa Ricka ke rumahnya. Ia punya ruangan khusus untuk menyimpan barang-barang branded miliknya. Semuanya dibeli di toko resmi brand tersebut saat ia berkunjung ke luar negri.


Ricka menyentuh salah satu syal keluaran merk ternama. "Asyi."


Rebecca lalu ingat sepatu pemberian temannya. Ricka menyentuhnya. "Paysu."


Sebenarnya Rebecca tidak pernah mempersalahkan barang apa yang akan ia kenakan. Asalkan cocok dengan postur tubuhnya dan ia merasa nyaman, walaupun harganya murah, ia akan pakai.


Rebecca sudah menduga ada yang spesial dari Ricka. Ricka memang lambat bicara dari anak kebanyakan tapi dokter bilang jika itu wajar karena perkembangan setiap anak itu berbeda.


Rebecca lalu membawa Ricka pulang ke rumah Hana.


"Han, Ricka itu tahu barang palsu dan asli."


"Maksud Mama?"


"Ricka tahu mana yang asli sama kw."


"Ah, itu. Ricka kalau lagi di rumah kak Richard, ia lebih suka main di kamar ganti kak Richard. Ia suka pegang-pegang barang-barang mahal milik papanya." Hana juga sering melihat Ricka menyentuh barang-barang branded miliknya pemberian Lucas, Lucy, Richard dan Rebecca.