Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 106 Bayi Sultan



"No, no, no. Kita berdua tidak akan bisa menghabiskannya." Lucas membatalkan pesanan Hana.


"Cukup dua macam. Satu aku. Satu kamu." Lucas mengingatkan. Bisa-bisa Hana jadi babon.


Hana melihat lagi menu dan memilih molten cake. Cake dengan isian coklat yang lumer.


Lucas merasa harus bersiap. Kehamilan Hana kali ini sangat berbeda dari Rin dan Ren.


"Aku tidak melarang kamu memakan hidangan penutup. Jika terlalu banyak juga tidak baik. Ingat! Gula darah yang tinggi itu berbahaya. Banyak orang kena stroke tiba-tiba karena diabetes yang tidak diketahui."


"Iya, Pak Dokter Lucas. Terima kasih sudah mau mengingatkan." Hana merasa kesal keinginannya tidak dituruti tapi itu demi kebaikannya juga.


Diabetes itu membuat luka susah sembuh, dan lain-lain. Tak bisa disembuhkan dan hanya bisa dikontrol. Membayangkannya saja sudah mengerikan.


Mereka menikmati hidangan mulai dari appetizer, main course lalu dessert. Selesai makan, mereka pulang ke rumah.


Rin dan Ren sudah tidur.


"Hana, apa kita bisa ..." Lucas sudah menginginkannya. Berpisah begitu lama hasratnya harus tersalurkan.


"Bisa apa?" Hana berpura-pura tidak paham.


"Bisa itu. Kamu pasti ngerti yang aku mau."


Hana tersenyum. "Boleh. Tapi kau tahu aturannya jika aku lagi hamil."


Lucas tahu ia tidak boleh sembarangan. Ia harus berhati-hati demi Ricka.


Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama.


...***...


Pagi harinya. Hana terbangun dan merasa mual. Ia bergegas ke wastafel kamar mandi.


"Uwekkk ... Uwekkk ..." Hana hendak muntah tapi tidak ada yang keluar.


Richard jadi merasa cemas. Dokter segera didatangkan Richard ke rumah untuk memeriksa Hana.


Dokter meresepkan obat untuk meredakan morning sickness buat Hana.


Richard yang sudah bisa berjalan menggunakan tongkat hendak pergi bekerja tapi dicegat Hana.


"Bisa. Tapi ..." Richard menatap Lucas. Ada Lucas di samping Hana yang melihat istrinya memegang tangan pria lain.


Mustahil bagi Lucas untuk tidak terbakar api cemburu. Tapi juga sudah waktunya bagi Rin untuk pergi ke lokasi syuting. "Aku dan Rin pergi dulu ke lokasi syuting." Lucas mengecup pelipis Hana.


Cuma sembilan bulan. Lucas berusaha menenangkan hatinya.


Sembilan bulan itu hanya waktu yang singkat. Lucas akan merelakan Hana bersama Richard selama sembilan bulan karena pada akhirnya Hana itu tetap istrinya, tetap menjadi miliknya.


Richard akhirnya bekerja dari rumah. Ia duduk di dekat Hana karena Hana ingin melihat dirinya.


Sesekali Richard melihat Hana disela-sela ia melihat laptop kerjanya.


"Kak, apa kau ada rencana pergi ke luar negri bulan depan?"


"Bulan depan aku ke Paris. Ijin untuk mendirikan hotel di Paris sudah keluar." Richard mendapatkan ijin membangun hotel karena hotel akan menyerap banyak tenaga kerja lokal. Sehingga masyarakat lokal terbantu, sebaliknya Richard juga bisa mengelola hotel.


"Aku boleh ikut?"


"Bagaimana dengan morning sickness-mu? Bisa-bisa jadi lebih parah karena perbedaan budaya dan iklim."


"Tapi aku pengen ikut. Ini bawaan bayi." Hana beralasan.


"Baiklah aku ijinkan. Tapi dengan syarat jika dokter mengijinkan dan Lucas juga mengijinkan."


"Aku boleh bawa Rin dan Ren?"


"Boleh. Aku rencananya pakai jet pribadi untuk keliling dunia."


"Kakak sudah punya jet pribadi?"


"Aku baru beli. Sejak Ricky ada, usahaku banyak mengalami kemajuan. Bulan depan di Paris. Bulan depannya lagi di Amsterdam. Bulan ketiga di Milan."


"Aku boleh ikut ke Amsterdam dan Milan?"


"Bukannya kamu nggak suka jalan-jalan?"


"Iya. Tapi ini sepertinya bawaan bayi." Hana juga bingung. Sejak hamil Ricka, ia jadi pribadi yang berbeda.